Hari menakutkan itu tiba bu, ibu paham betul kan? Sudah beberapa minggu ini ibu selalu intens mengabari tentang kondisi ibu yang sedang drop, saya pun tak melewatkan satu hari pun tanpa mengabari kegiatan saya disini. Saling bertukar kabar lewat chat adalah cara paling nyaman untuk saya, meskipun sebenarnya saya tau ibu menginginkan video call supaya bisa mendengar dan melihat putri bungsunya, maaf bu, begini lebih nyaman :) Sudah berulang kali saya bilang kepada ibu, tak perlu perayaan apapun atas pencapaian yang bahkan tak banyak berarti untuk saya, ibu menolak dan terus seperti itu. Saya pun sadar bahwa sering sekali tidak menjenguk ibu di rumah, sering pula menolak untuk ini dan itu, jika hanya memenuhi satu keinginan ibu untuk tetap mengikuti prosesi terkutuk ini saya masih menolak, saya egois, egois. Mencoba meyakinkan diri untuk mengambil undangan dan menyelesaikan syarat yang ada, semua sudah terlewati, tinggal datang dan duduk ber jam-jam menghabiskan waktu bersama robot lainnya, untung pakaian yang diwajibkan berwarna hitam, setidaknya ada satu hal yang bisa saya nikmati nanti. Meredam diri demi keinginan ibu, sudah dalam kondisi seperti itu masih saja ngeyel mau ikut datang ke acara wisuda putrinya, ternyata sifat keras kepala ini turunan dari ibu ya. Bu, saya yakin tak akan ada efek apapun di acara itu, tidak sedikit pun. Sampai tiba saatnya ibu mengirim pesan yang pada akhirnya memang ibu belum diperbolehkan hadir, saya sudah mempersiapkan semuanya termasuk kondisi seperti ini. Akan lebih baik sebenarnya jika saya pulang, tapi baru kali ini seorang ibu menolak bahkan tidak menerima kepulangan putrinya. "Sedikit lagi nak, abang sama bapak yang datang nanti, baru kamu boleh pulang, ya!" Usaha saya untuk pulang tak pernah berhasil beberapa hari terakhir ini. Dan tak ada tenaga rasanya untuk membantah lagi dan lagi. Pertanyaannya adalah, kenekatan seperti apa yang akan saya lakukan esok? Maaf ibu











