Merasa Kalah
Tulisan ini akan menjadi wadah curhat panjangku menapaki dunia karir. Dalam rangka mengafirmasi, bahwa aku telah berproses dan melakukan perjalanan ke dalam diri, yang tentu tidak mudah. Bagaimana aku kalah, patah hati dengan impian. Sampai aku berusaha memeluk diriku dan mencoba berdamai dengan keadaan.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku, selepas yudisium aku langsung apply ke banyak lowongan perusahaan, bahkan yang ku apply adalah pekerjaan di luar bidangku. Pikirku hanya satu, pokoknya kerja dulu, apapun posisinya. Awal 2021 aku mengikuti tes Management Trainee dari beberapa perusahaan. Aku bersemangat mengikuti kelas bedah CV dan seputar dunia kerja. Namun saat menerapkan materinya, aku mendapati diriku tidak mengerjakan dengan maksimal, setengah hati. Aku gagal dalam tes-tes seleksi tersebut.
Aku menangis, berbulan-bulan menggali apa yang salah dari diriku. Saat itu yang ku ingin hanya segera bekerja supaya dapat pengalaman dan segera mandiri finansial. Tapi mengapa aku merasa setengah hati dan merasa kosong. Aku mendapati diriku belum menerima bahwa aku akan melepas bidangku, keilmuanku, dan semua yang ku pelajari di dunia sosial.
Bila merunut ke belakang, aku memang sudah menyiapkan karir sebagai social worker sejak lama. Aku sudah memilih dengan sadar jurusan kuliahku saat SMA, sudah riset mata kuliahnya, dan aku memutuskan dengan sadar memilih administrasi publik sebagai bidang yang ku pelajari. Aku ingin mempelajari ilmu kebijakan, tekadku saat itu. Bahkan aku melobby sungguh-sungguh orang tuaku yang ingin aku sekolah kedokteran saat itu. Jurusan sekolahku memang IPA, tapi aku meyakinkan mereka bahwa aku sangat tahu apa yang akan ku pelajari, dan bisa sukses di bidangku nanti. Dengan harapan setelah lulus aku bisa berkontribusi di sektor publik. Entah menjadi peneliti kebijakan, ASN, atau memperjuangkan isu sosial tertentu di Non Government Organization. Aku sangat tertarik untuk ikut terjun memikirkan masalah publik; masalah pendidikan, kemiskinan, literasi dan sebagainya.
Empat tahun kuliahku benar-benar ku gunakan untuk mendalami bidangku. Terlibat dalam penelitian dosen, ikut berbagai lomba debat dan karya tulis (meskipun mentok sampai semifinal aja haha). Membiasakan diri dengan berkomunitas di luar kampus untuk memfokusi isu tertentu, mengambil amanah leader organisasi beasiswa di kampus. Semua sudah ku upayakan dengan keras.
Sampai pada saat aku lulus, mencari tahu dreamjobku, yang ternyata posisinya selalu mensyaratkan S2 dengan pengalaman kerja di bidang yang berhubungan. Aku baru lulus S1 tanpa pengalaman kerja di bidang terkait, aku tidak memenuhi kualifikasi. Aku patah, kalah. Hatiku ambyar. Keambisanku belajar dan pengalaman organisasiku selama kuliah nampak menguap sia-sia, pikirku saat itu.
Bagiku rasa kalah dalam memperjuangkan impian lebih ambyar dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Patah hati itu bersumber dari perasaan mempertanyakan kelayakan diri sendiri. Aku mempertanyakan semua jerih payah empat tahunku selama S1. Keambyaran hati melepas bidang keilmuan yang sudah ku persiapkan karirnya itu selama empat tahun belajar. Tiga bulan pertama setelah lulus, aku masih belum menerima kenyataan bahwa aku clueless dengan hidupku, setelah aku melepas impianku untuk mengabdi di sektor publik, karena aku harus mandiri finansial lebih dulu.
Nulis ini ternyata exhausted, karena mengingatkanku kembali pada momen gagal memenuhi ekspektasi diri.
Nanti ku sambung di tulisan berikutnya, bagaimana akhirnya aku bisa menerima diri dan berdamai dengan keadaan.












