FEBRUARI selalu dimaknai sebagai bulan kesadaran kanker. Momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama: sudahkah kita benar-benar h
FEBRUARI selalu dimaknai sebagai bulan kesadaran kanker. Momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama: sudahkah kita benar-benar hadir untuk para pejuang kanker? Sudahkah sistem yang kita bangun berpihak pada mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup?
Kanker adalah penyakit katastropik. Pengobatannya panjang, berjenjang, dan tidak jarang menguras emosi serta finansial keluarga. Pasien harus menjalani operasi, kemoterapi, radioterapi, kontrol rutin, hingga terapi suportif. Di tengah perjuangan berat itu, kepastian jaminan kesehatan menjadi sandaran utama.
Namun ironi terjadi ketika sebagian pasien kanker yang terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) justru mendadak terhenti pengobatannya karena status kepesertaan dinonaktifkan. Bagi mereka, satu kali kemoterapi yang tertunda bukan sekadar jadwal mundur itu bisa berarti penurunan kondisi, risiko komplikasi, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwa.
Persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai masalah administratif semata. Di balik satu status “nonaktif”, ada wajah manusia, ada keluarga yang cemas, ada anak yang menunggu ibunya pulang dari rumah sakit.



















