Diskriminasi Pembelajaran
Saya yakin bahwa Anda pasti pernah bersekolah atau bahkan anak Anda juga bersekolah. Kita sering diberitahu oleh guru kita atau bahkan orangtua kita bahwa bersekolah itu adalah hal yang wajib kita lakukan. Kita pun juga sering diiming-imingi bahwa kelak ketika kita telah selesai menempuh perguruan tinggi, kita akan sukses. Namun, apakah Anda pernah berpikir bahwa masih ada banyak kesalahan dari sistem pendidikan di Indonesia saat ini? Atau apakah Anda pernah berpikir bahwa yang mereka katakan itu adalah sebuah kebohongan?
Salah satu kesalahan pada sistem pendidikan di Indonesia adalah satu arah. Guru-guru hanya menjelaskan suatu teori kepada kita, lalu kita bertanya, dan selesai. Selanjutnya, kita diberikan tugas dan dikumpulkan. Apakah Anda tidak sadar bahwa ini adalah praktik diskriminasi dari belajar yang terus dilakukan hingga sekarang ini?
Dalam sistem mengajar satu arah, murid tidak dapat mengutarakan pendapatnya. Murid tidak dapat menyalurkan pemikiran dan gagasannya. Murid pun juga tidak merdeka dalam berekspresi. Padahal, dalam sila keempat dari Pancasila yang berbunyikan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”, tertuliskan bahwa bangsa Indonesia menjunjung tinggi musyawarah. Musyawarah itu pun bukan pembicaraan satu arah, melainkan dua arah, saling sahut-menyahut. Sistem pendidikan kita sudah lupa akan ideologi negara kita.
Tentu pada awalnya Anda akan kaget memikirkan mengapa saya memasukkan propaganda dalam daftar kesalahan sistem pendidikan di Indonesia. Anda tidak menyadari bahwa praktik propaganda secara lancar terus terjadi di negeri yang kita cintai ini. Pertama-tama, saya akan membahas dulu apa itu propaganda.
Dengan didefinisikan secara sederhana, propaganda merupakan suatu hal berupa paham yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dan memaksa agar orang lain itu sepaham dengannya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, propaganda itu termasuk satu arah. Orang yang satu memberikan suatu paham kepada orang lain, lalu orang lain itu harus menerima paham tersebut, ia tidak dapat menentang paham tersebut hingga mengekspresikan pemikiran dan gagasannya. Apakah Anda tidak sadar bahwa propaganda ternyata terjadi di sistem pendidikan kita? Mari saya jelaskan.
Propaganda secara terus-terusan dilakukan di sekolah hingga sekarang. Seperti yang dibahas di bagian sebelumnya, guru-guru hanya menerangkan kita suatu paham, yaitu teori. Murid tidak dapat menentangnya. Murid tidak dapat mengeluarkan isi pemikirannya yang mungkin juga dapat membuat teori-teori baru atau bahkan memajukan teori-teori tersebut. Sebaliknya, murid hanya dapat terpaksa duduk diam dan membiarkan paham tersebut menggerogoti isi kepalanya (baca: pemikirannya hilang). Mereka juga harus menerima kenyataan bahwa mereka ternyata adalah budak (baca: dengan bodohnya menerima propaganda secara lapang dada). Secara fisik, mereka merdeka. Namun, secara mental, mereka tidak merdeka.
Tugas berupa soal-soal pertanyaan yang hanya terdapat satu jawaban yang diberikan oleh guru-guru itu juga termasuk salah satu propaganda. Murid secara terpaksa harus mencari satu jawaban yang benar. Padahal, sebenarnya tidak ada benar dan salah dalam kehidupan ini. Hanya agama dan teori yang kita percayailah yang menjadi tolak ukur benar dan salah. Kadang, suatu persoalan dunia juga dijawab dengan lebih dari satu jawaban, karena dunia ini itu plural (baca: ada banyak pikiran). Tidak ada konflik di dunia ini yang diselesaikan dengan satu pemikiran.
Langkah yang terbaik untuk menghilangkan pembelajaran dengan satu arah dan propaganda yang terus terjadi hingga sekarang adalah dengan diskusi atau musyawarah tadi. Murid dan guru akan dapat saling sahut-menyahut. Setiap murid dapat setuju dan tidak setuju terhadap suatu pendapat dan dapat memberikan alasannya berupa pemikirannya. Ini justru dapat menciptakan sebuah teori-teori baru atau bahkan memajukan teori-teori lama. Hal kecil ini pun juga dapat memajukan bangsa yang kita cintai ini.
Anda, para pembaca, pasti pernah dan bahkan sering diperintah oleh guru untuk menghafalkan sesuatu. Padahal, apakah Anda tahu bahwa menghafal itu bukan proses belajar? Namun, sebelum saya membahas itu, saya akan menjelaskan dulu apa itu menghafal.
Dengan bahasa yang disederhanakan, menghafal itu merupakan suatu proses seseorang untuk mengingat-ingat sesuatu hal. Ada banyak contoh menghafal yang dapat kita temui di kehidupan kita, seperti menghafal password, menghafal nomor telepon, dan lain-lainnya. Namun, apakah menghafal itu merupakan cara terbaik untuk diterapkan pada proses pembelajaran?
Tentu jawabannya tidak, menghafal itu bukan termasuk proses pembelajaran. Dengan menghafal, murid jadi cepat lupa. Salah satu alasannya karena sesudah belajar, murid akan langsung istirahat, ia tidak akan memikirkan hafalan itu lagi. Hal ini juga dapat kita lihat di dalam diri orang dewasa juga. Apalagi orang lansia yang sudah mulai pikun.
Apakah Anda tahu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita yang baru? Pastinya Anda tahu. Beliau adalah Nadiem Makarim. Beliau pernah berkata bahwa literasi itu memahami isi suatu bacaan, bukan hanya sekadar membaca maupun menghafal. Beliau pun juga pernah mengatakan bahwa menghafal itu bukan proses belajar. Jika Anda tahu, budaya literasi di Indonesia saat ini sangat minim sekali. Itu disebabkan karena sekolah kita mengajarkan murid-murid untuk menghafal, bukan memahami. Alangkah baiknya bila kita membudayakan literasi sejak dini. Jika Anda tahu juga, saat Anda membaca tulisan yang saya tulis ini, Anda juga butuh pemahaman dan penalaran.
Banyak guru-guru maupun orangtua-orangtua kita berkata untuk bersekolahlah yang tinggi, agar kita mendapatkan kesuksesan dengan mudah. Namun, apakah Anda tahu bahwa itu adalah sebuah kebohongan dan pembodohan?
Sekolah memang merupakan salah satu tempat untuk belajar. Namun, bukan berarti sekolah itu adalah tempat untuk mencari kesuksesan. Sekolah sejatinya hanyalah sebuah tempat belajar dan bersosialisasi saja, tidak lebih dari itu. Sekolah hanyalah sebuah tempat yang memberikan kita ilmu. Ilmu itu pun tujuannya untuk diaplikasikan atau dilakukan di kehidupan sehari-hari.
Ironisnya, ada banyak orang juga yang berpikir bahwa sekolah itu tempat mencari nilai, bukan ilmu. Mereka berpikir bahwa dengan nilai yang tinggi, mereka dapat masuk ke jenjang berikutnya dengan mudah dan saat sesudah tamat sekolah, mereka akan mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Padahal, bukan itu tujuan dari bersekolah. Ironisnya lagi, nilai-nilai tersebut didapatkan dari menjawab soal-soal berupa pertanyaan dengan satu jawaban yang tidak memberikan kemerdekaan dalam berpikir. Tambah ironisnya lagi, bahkan sampai ada murid-murid yang melakukan kegiatan mencontek. Sungguh menyedihkan!
Pembodohan lainnya yang ada di sekolah yaitu duduk diam di ruang kelas sambil mendengarkan guru menjelaskan tentang propagandanya. Tidak ada kegiatan berdiskusi di luar sekolah. Sungguh membosankan!
Pesan saya yang dapat saya sampaikan hanyalah pendidikan di Indonesia harus siap untuk menghadapi perubahan. Sebab, perubahan adalah salah satu jalan untuk menghilangkan segala kekacauan di negeri tercinta ini. Satu langkah perubahan dapat mengubah segalanya. "That's one small step for man, one giant leap for mankind" -Neil Armstrong.