Mungkinkah Literasi Menjadi Jantung Pembelajaran sekolah?
Literasi diibaratkan sebagai jantung hati pendidikan. Hakikatnya sebuah pemaknaan yang mendalam, bahwa literasi penting untuk dipelajari dalam sebuah pendidikan khususnya proses pembelajaran. Karena literasi adalah nafas pendidikan yang akan menghidupkan segala ruang pemahaman terhadap suatu materi. Inilah landasan literasi menjadi jantung pembelajaran di sekolah.
Dalam membudayakan literasi di lingkungan sekolah, tentunya hambatan itu selalu ada. Di tengah masyarakat kita yang literasinya masih rendah, sekolah merupakan satu-satunya harapan kita untuk menumbuh-suburkan budaya literasi. Akan tetapi tumpang tindih tanggung jawab masih menjadi polemik.
Literasi yang kita kita pahami adalah sebagai kemampuan membaca teks secara aktif dan reflektif, dan mengaitkannya dengan realitas sosial. Bertolak dari diskusi teks, anak akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kekuasaan, ketidaksetaraan, maupun ketidakadilan dalam relasi sosial. Melalui literasi dapat menumbuhkan kesadaran kritis dengan cara mendiskusikan berbagai persoalan ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.
Freire pernah mengatakan: “Membaca dunia selalu didahului dengan membaca kata, dan seterusnya, membaca kata berarti membaca dunia”. Bagi pendidik Freire, literasi kritis merupakan cara untuk memberdayakan kelompok tertindas dalam melawan penindasan dan pemaksaan yang biasanya dilakukan oleh korporasi atau negara. Tujuan akhir literasi kritis adalah mengatasi atau menghapuskan ketimpangan sosial dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul akibat penyalahgunaan kekuasaan. Ini dilakukan melalui pengujian, analisa, dan dekonstruksi teks.
Kita sebagai tenaga pendidik hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Mengingat pendidikan adalah tugas bersama, sudah saatnya mendayung sampan bersama-sama agar bisa berkelok dan sampai di pantai di tempat. Dalam usahan ini perlu ditonggakkan bersama-sama pendidikan yang literet, yaitu adanya kesadaran yang kuat, pemahaman yang kuat dan pemaknaan yang mendalam akan berbagai hal. Pendidikan dan bersama-sama, menyusun cara agar ketiga tonggak tersebut dapat diraih dengan baik. Adapun beberapa solusi yang dapat ditempuh dalam mewujudkan pendidikan yang literet sebagai berikut; (1) menumbuhkan budaya literasi di setiap kehidupan, (2) pendidikan perlu mendalami literasi sebagai dayung perubahan, (3) pendidikan juga perlu mendalami literasi sebagai proses kesadaran, dan (4) meyakini melalui literasi dapat menemukan jawaban pertanyaan selama ini yaitu kunci perubahan bangsa.











