Belajar Akulturasi Budaya di Minaret Masjid Kudus
Di sini, pada abad 16, Sunan Kudus berkedudukan, bukan haya sebagai peyebar Islam, juga sebagai politikus yang ikut memainkan kekuasaan kerajaan Demak (Pramoedya Ananta Toer, 2005:95).
Masih di Kudus. Masih empatpuluhsatu kilometer tenggara kota Japara. Duapuluhdua kilometer arah serong timurlaut dari Jalan Raya Pos. Kota dengan sebuah nama yang berasal dari bahasa Arab yang berarti: bersih, suci, dan murni. Kota Tajug, begitulah Kudus dikenal dahulu sebelum Islam masuk. Karena memang banyak ditemukan tajug di kota santri ini. Sedangkan tajug sendiri adalah sebuah bentuk atap tradisional yang dianggap keramat. Dahulu kala, sebelum Islam masuk, orang-orang Hindu bersembahyang di dalam tajug.
Ojek yang saya tumpangi berhenti di depan deretan bangunan yang, fisiknya menyerupai candi Hindu. Bangunan batu bata merah oranye itu tersusun secara vertikal. Ramping. Di sisi paling kiri, bangunan berupa gapura dengan limasan tajug genteng yang warnanya pun senada pada bagian atas. Gapura yang sering disebut sebagai paduraksa oleh masyarakat setempat.
Di samping kanan paduraksa, ada bangunan lain yang juga tersusun dari batu bata merah oranye. Kali ini, bangunan kedua itu lebih tinggi dari yang pertama. Benar-benar seperti candi. Menara candi dengan ukuran luas sepuluh kali sepuluh meter dengan tinggi delapanbelas meter menjulang ke angkasa. Menara candi itu terdiri dari tiga bagian yaitu: kaki, badan, dan kepala, seperti bagian-bagian candi yang umum kita kenal; Bhurloka, Bhuvarloka, dan Svarloka.
Di bagian kepala, ada empat soko yang menopang sebuah tajug. Tajuk yang berbentuk limas segiempat yang betumpang dua. Tajuk dengan ukiran yang lebih meriah. Di bagian badan, ada sebuah tangga dan pintu untuk masuk ke bagian inti menara candi. Di bagian dinding luarnya, ornamen keramik Tionghoa menempel mengelilingi empat sisi bangunan. Jumlahnya ada tigapuluhdua. Pada bagian kaki, ada dinding layaknya benteng pelindung mengelilingi bagian badan menara.
Dia lebih sorak sorai. Dia benar-benar seperti candi Hindu, candi yang ramping. Candi dengan susunan batu bata merah oranye.
Lalu ada lagi paduraksa lain ketiga di sisi paling kanan. Di balik paduraksa ketiga itu, ada bangunan lain, yang jauh lebih modern dengan kubah berupa setengah siung bawang.
Kali ini, saya tidak sendiri, komplek bangunan tersebut banyak sekali dikunjungi.
Saya melawati tengah paduraksa oranye pertama itu, seraya meyentuh lembut batu bata dengan jemari tangan. Merasakan rongga-rongga kasar batu bata, seraya mendongak ke atas, ke arah ujung tertinggi bagunan delapanbelas meter di samping. Matahari sudah tidak lagi condong di timur. Dia sudah tepat di atas kepala. Terik.
Setelah paduraksa pertama, di bagian tengah ada juga gapura lain untuk masuk ke area utama masjid. Kali ini lebih pendek. Dua bentuk yang sama persis bersanding di kanan dan kiri. Tapi nanti dulu, saya mau menuju ke kerumunan orang yang berbaris mengantre masuk ke area di sudut belakang.
Orang berbaris satusatu untuk masuk ke dalam. Saya ikut berbaris. Mengikuti gerak tubuh orang-orang di depan. Ketika mereka menepuk tiga kali dinding gapura, saya ikut menepuk. Ketika mereka menyentuh kusen kayu jati yang penuh dengan ukiran cantik di tengah gapura, saya pun ikut membelai lembut kusen jati itu dengan jemari.
Ternyata saya baru saja melewati pintu masuk ke area makam. Di dalam area itu ada sebuah pendopo kayu tempat orang banyak duduk. Di hadapan pendopo, ada sebuah pusara entah milik siapa. Saya tidak menilik lebih lanjut karena orang ramai luar biasa. Di sisi samping, terdapat kolam padasan tempat menambil wudhu, dengan delapan arca di atasnya. Delapan arca sebagai simbol Asta Sanghika Marga, delapan jalan kebenaran yang dipercaya oleh para penganut Buddha.
Saya berdiri di balik gapura dengan kusen jati yang berukir cantik. Memperhatikan secara sekilas orang membasuh kepala, tangan, dan kaki dengan air yang keluar dari pancuran arca. Saya juga masih tertegun, memperhatikan setiap inci detail bangunan yang sudah ada sejak abad enambelas ini. Kala itu, sebelum Islam masuk.
Tak lama, ketika dirasa orang semakin banyak berdatangan, saya keluar melewati gapura dengan kusen jati tadi, masuk ke bagian inti masjid.
Bangunan yang tak kalah megah, atau bahkan lebih megah dari yang sebelumnya, berdiri di belakang bangunan candi. Bangunan besar dengan kubah piramida segiempat yang saling tumpuk, seperti atap masjid agung Jawa lainnya. Bangunan itu ditopang oleh empat soko dari kayu besar di tengah-tengah.
Saya duduk di tepian pada bagian perempuan. Duduk bersila dengan hening. Melihat sekeliling ruangan, melihat orang-orang khusyuk berdoa. Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah bangunan candi lain di dekat empat soko. Ada paduraksa lagi yang juga berbatu bata oranye, berjajar kanan dan kiri, menuju tempat serambi khatib membaca khotbah. Paduraksa itu spesial, disebut sebagai Lawang Kembar.
Luar biasa bangunan ini, saya berdecak dalam hati. Sebuah karya arsitektur yang penuh dengan akulturasi budaya. Bangunan yang berfungsi sebagai masjid, tempat umat Muslim berdoa, dengan ciri khas arsitektur candi Hindu dengan batu bata oranye yang tersusun vertikal secara ramping. Delapan pancuran arca dan ornamen keramik Tionghoa sebagai perwakilan simbol agama Buddha. Saya mengagumi setiap inci bangunan.
Selesai dengan itu, saya beranjak keluar, mengenakan kembali sepatu dan berjalan melawati bangunan candi dengan tinggi delapanbelas meter. Saya berjalan keluar mengelilingi bangunan utama menara candi. Saya bertanya kepada seseorang tentang isi di dalam menara. Orang itu bilang, bahwa di dalam candi itu ternyata tersimpan bedug masjid. Bedug yang dibunyikan lima kali sehari sesuai dengan waktu shalat lima waktu.
Saya terus berjalan keluar melewati paduraksa di samping benteng menara, paduraksa dengan dinding melengkung di bagian atas. Berjalan keluar, melewati depan Menara Masjid Kudus, lalu masuk melewati paduraksa lain di sisi kanan, dan kembali pada bangunan masjid utama. Dari masjid utama, saya keluar melalui paduraksa kedua, dan menyusuri area sisi kiri, dan kembali keluar menuju tempat saya berdiri pertama kali. Begitu saya memutari komplek bangunan ini.
***
Sementara Sunan Kudus sebagai arsitek, berhasil melakukan pendekatan akulturasi antara budaya Hindu, Buddha, China, dan Islam pada Minaret Masjid Kudus ini. Ia merasa bahwa walaupun berfungsi sebagai masjid, bangunannya harus merepresentasikan banyak budaya lokal yang berkembang pada saat itu. Tajug, yang masih termasuk berada di area pesisir utara Jawa, yang konon masih terpisah dengan Pulau Muria di utara, tempat berkumpulnya banyak bangsa seperti Tiongkok, Arab, India, bahkan Jawa sendiri, harus bisa memberikan citra baik sebagai tempat yang multikultural. Minaret Masjid Kudus, adalah sebagai petanda seorang Sunan Kudus sebagai wali yang toleran sekaligus seniman yang handal.
***
Saya mengencangkan tali ransel di punggung. Berjalan menghampiri sebuah becak yang sedang parkir di seberang jalan. Saya bertanya kepada Pak Becak, apakah bisa antar saya ke terminal bus terdekat? Karena saya harus bergegas untuk kembali menyusuri Jalan Raya Pos dan menuju Semarang.
Matahari masih tepat di atas kepala. Terik. Pak Becak tetap bergegas mengayuh, mengantarkan saya ke tepian Jalan Daendels.














