Perjalanan (per)Nikah(an)
ini adalah perjalanan pernikahan saya, sudah delapan bulan. Jika saja setelah menikah saya langsung diberi Alloh hadiah tentunya bulan depan saya akan mendapatkan satu anggota baru. Namun kenyataannya Alloh masih belum memberi kami hadiah.
dulu, awalnya saya sudah optimis. Bahwa setelah menikah itu pasti langsung lah dapat 'hadiah' tapi itu pandangan saya yang salah, saya kurang luas wawasan tentang itu. Jadi mengapa sebelum menikah kalian harus ikut kuliah Pra Nikah atau rajin membaca buku tentunya untuk persiapan. Jangan seperti saya hehehe
Baik, kembali ke fokus. delapan bulan. lalu udah ngapain aja delapan bulan lamanya ini?
Ada banyak hal yang saya rasakan selama delapan bulan menikah. Alhamdulillah Alloh titipkan rejeki untuk kami, jadi setelah menikah kami menempati rumah sendiri, tidak merasakan tinggal lama dirumah mertua hehe. Tapi tak semua rumah mertua tak enak ya gais tergantung mertua nya juga. Alhamdulillah saya dapat suami yang orang tuanya dan keluargannya baik begitu pula keluarga saya menerima suami juga baik pula.
Awal pernikahan tentu penyesuaian. Yups, ternyata masa penyesuaian ini yang agak lama untuk saya, kenapa? saya anaknya tertulis, runtut. Berbeda sama suami yang Slow, santai. Jadi kadang saya harus bisa mengikuti suami slow hehe. tapi juga kadang suami memaklumi saya yang runtut, walaupun cuman bilang 'iya'.
Selanjutnya adalah mengendalikan ego, gilakk mah kalau ini parahnya di aku, kenapa? ego saya itu memang besar sih, aku akui aja. Tapi Alhamdulillah dpt suami yang selalu bisa memaklumi ego saya, gak pernah namanya sekali berkata kasar atau bahkan memukul, cuman bisa bilang "iya, ayook, mau gimana?" kata santay yang biasanya di obrolkan.
Kalau untuk marahan pernah gak? Alhamdulillah semua selalu dikomunikasikan. Pernah sesekali saya yang mendiamkan suami, saya nangis pun pernah, sampai suami bingung harus gimana? suami pula yang membuka ruang komunikasi untuk saya yang marah supaya terluapkan emosi saya. Tapi karena saya tipekal yang gak bisa komunikasi kalau lagi marah mending diem. Alhasil saya diamkan sampai dua hari, dihari ketiga saya baru bicara pelan-pelan sama suami dan saya pun tidak pernah malu buat bilang "Maaf ya Mas" .
Komunikasi berdua, tepat 31 Mei lalu kami ngobrol dari hati ke hati sampai suami menangis, ini kali pertama saya buat suami menangis. Dia pun meluapkan apa yang selama ini dirasakan, hal itu buat saya jadi juga ikutan terharu. Padahal bermula dari saya yang gak suka suami itu main sama tetangga doang sampai larut malam, mungkin hal itu biasa untuk yang sudah menjalani pernikahan beberapa tahun ya, tapi bagi saya ini hal yang awam, marah tentukan serasa hidup sendiri, ada suami tapi gak dirumah, ad suami tapi tidur tidak bisa pillow talk. Alhasil saya pun marah, dan suami tahu. dan itu dimasa sulit kami juga.
Dari kejadian 8bulan itulah, saya belajar. bahwa pernikahan ini memang rollcoaster, memang kemah, memang ibadah panjang. Jadi, semua kuncinya memang KOMUNIKASI dan PERCAYA. Kejadian suami setelah menangis membuat saya bisa menerimanya, menerima bahwa ia juga punya kebahagiaan unt bersama teman2nya, menerima sebagaimana ia menerima saya belum Hamil, menerima sebagaimana ia selalu membebaskan saya dalam hal apapun, menerima bahwa semua ini kita lakukan bersama bukan masing-masing.
saya pun masih belajar dan belajar, tapi saya akui saya sudah bisa sedikit menerimanya, tak lagi sedikit2 baper, sedikit2 bucin. No. yang terpenting sekarang kami menenangkan pikiran untuk biar ceppat Hamil.
Doakan kami ya teman Tumblr, supaya apa yang kami harapkan terkabul, begitu pula teman2 Tumblr juga segera bertemu jodohnya hehe. Jangan terburu menikah, menikah bukan perlombaan, menikah bukan tentang siapa cepat atau lambat, menikah adalah tentang Menerima dan Belajar ;)
Solo, 1 July 2021 (3 hari menjelang 9bulan)
SenjaBeraksara








