Kamis, 14 April 2016. 16.51. Menatap jendela hujan sendu di luar sana.
Udah lama gak nulis di sini. Been busy as eff.
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya perpanjang SIM (Surat Izin Mengemudi, bukan Surat Izin Menikah). Masa berlaku SIM biasanya habis di tanggal ulang tahun. Ulang tahun saya jatuh pada bulan Januari, dan SIM saya habis tahun 2016. Saya baru sadar kalau SIM saya sudah habis pada bulan Maret, yang berarti sudah telat 2 bulan. Saya cukup panik dan bertanya sana-sini apakah harus buat ulang lagi atau bisa diperpanjang di Polres.
Saya membayangkan harus ke Daan Mogot yang jauh dan panas, melewati proses lama yang butuh waktu seharian, tes teori formalitas, keluar biaya tambahan bla bla bla.
Tapi Alhamdulillah ternyata “masa tenggang” SIM adalah 3 bulan, yang berarti bulan April ini masih bisa diperpanjang, sampai tanggal 11.
“OH WAIT. Lusa tanggal 11! Besok Minggu pasti libur. Senin is the only day!”
Dapat info untuk registrasi dulu, Minggu malam saya akses website registrasi online dan mengisi form registrasi. Di form itu saya harus pilih tempat saya perpanjang SIM, saya pilih Samsat Gandaria City. Katanya, kalau registrasi secara online, kita tinggal print kode booking yang dikirim ke e-mail, ke tempat perpanjang SIM, serahkan fotokopi KTP dan SIM, tinggal tunggu dipanggil untuk foto. Kode booking sudah diterima, selamat malam!
Sekitar pukul 09.30an saya berangkat ke Gandaria City ditemani Febry, Samsat Gandaria City terletak di lantai 1. Sampai di lantai 1, saya disuguhi pemandangan yang melelahkan mata. Rasanya ada ratusan orang sedang mengantri dan menunggu. Sampai di sana pun saya bingung, tidak ada tulisan petunjuk, tidak ada petugas, semuanya manusia yang sedang mengantri. Tidak tahu harus apa, saya dan Febry menerobos antrian demi bertanya. Ibu-ibu yang bertugas fotokopi KTP dan SIM bilang kalau sudah registrasi online, saya tidak perlu isi form registrasi dan hanya menyerahkan fotokopi KTP dan SIM, lalu tunggu dipanggil untuk foto. Tapi, karena penuh dan ngantri, saya diramalkan ibu itu kalau saya akan difoto sekitar jam 1. Saya kan harus ngantor :_( Si ibu yang kurang ramah itu menyarankan saya untuk ke Polres Jakarta Selatan yang ada di Blok A, karena di sana alatnya lebih banyak, jadi akan lebih cepat. Tanpa pikir panjang, kami menuju Polres Jakarta Selatan dibantu Waze.
Sesampainya kami di Polres Jakarta Selatan, kami mencari tempat perpanjangan SIM dibantu penghuni kantor polisi. Di tengah jalan ke tempatnya, ada bapak yang bertanya “Mau perpanjang SIM, Dek?” Saya yang tidak memperhatikan jalan terhenti karena saya pikir dia akan mengarahkan saya kemana. Ketika lihat gelagatnya, saya yakin kalau dia itu calo. CALO. DI KANTOR POLISI. Saya kaget, saya pikir di kantor polisi tidak ada calo. Setelah menanyakan beberapa hal, “bisa lihat SIMnya?”, “sudah difotokopi?”, akhirnya dia bertanya “Mau dibantu atau sendiri?”. FIXED CALO. Saya bilang sendiri saja. Lalu dia mengarahkan ke satu ruangan registrasi.
Saya masuk ke ruangan itu, dan setelah si petugas menghitung masa berlaku SIM saya yang sudah habis hari itu, dia meminta fotokopi KTP dan SIM, lalu memberi formulir yang harganya Rp80.000. Lalu untuk apa saya registrasi online? Kata ibu Gancit saya tidak perlu isi form lagi, tapi kata ibu BlokA registrasi online itu hanya berguna untuk pendatang luar Jakarta yang ingin perpanjang SIM di Jakarta. Dia juga sebenarnya kurang ngerti apa guna registrasi online. Okelah, saya mau isi, tidak ada pulpen. Jangan harap kamu bisa pinjam pulpen, karena di sana PULPEN DIJUAL SEHARGA 5.000. Cukup oportunis Bapak-Ibu di sana.. Setelah beli pulpen, saya isi formulir.
Setelah isi form, lalu apa? Lagi-lagi bingung, saya tanya harus kemana. Periksa kesehatan, katanya. Dimana? Tanya sini kurang jelas, tanya sana salah kasih tahu, akhirnya kami menemukan ruangan kesehatan. Letaknya di luar, dekat tempat parkir. Di sana saya tes buta warna dan baca angka dari kaca. Proses singkat itu dipungut biaya Rp25.000. Oh iya, siapkan uang pas, karena di sana mereka selalu minta uang pas.
Kembali ke dalam, saya ke loket asuransi yang terletak nun jauh di sana. Yaa tidak nun jauh sih, tapi terpencil dan gelap. Bayar Rp30.000 dan disuruh ke loket pendaftaran di seberangnya. Di sana ada Bapak Polisi yang sedang bermain puzzle. Puzzle SIM, karena dia sedang menyatukan SIM yang sudah pecah berkeping-keping. Sepertinya dia merasa saya mengganggunya bermain puzzle, Bapaknya kurang ramah :( Dia minta berkas-berkas yang tadi sudah saya buat dan kumpulkan, lalu dia memberi nomor antri.
Tenang, di sini gratis, tidak dipungut biaya.
Di depan loket ada kursi-kursi untuk menunggu, kami duduk menunggu dipanggil. Berhubung Bapak yang manggil nama kita suaranya pelan banget, jadi kamu harus perhatikan baik-baik. Setelah difoto, finger print dan tanda tangan, saya menunggu lagi SIMnya selesai. Menunggunya tidak lama kok, mungkin sekitar 5 menit sudah jadi.
Dan akhirnya SIMNYA JADIIIII!
ISI FORM --> PERIKSA KESEHATAN --> LOKET ASURANSI --> PENDAFTARAN --> FOTO - FINGER PRINT - TANDA TANGAN --> JADI DEH
Proses semuanya cepat, sekitar 30 menit sepertinya.
Yang harus dibawa: FOTOKOPI KTP DAN SIM MINIMAL 3 masing-masing (untuk cadangan), PULPEN, UANG PAS.
Dalam waktu 5 tahun lagi, saya harus mengulang proses ini lagi, semoga nanti lebih canggih dan lebih jelas lagi yaaa..
Sekian proses saya membuat SIM 2.0. Semoga membantu :)