Sedikit berbeda dengan tulisanku sebelumnya.
Ini adalah tentang Perusak.
Aku hanya katakan, berhentilah merusak.
Ini adalah rumah tangga kami, tidaklah sopan bila sebuah harmoni dirusak karena seorang bodoh, nan lebay yang meminta-minta perhatian pada orang-orang sekitar. Apakah anda mengerti sebuah etika? Bukankah merusak rumah tangga orang adalah perbuatan salah? Agama apapun mengerti hal ini. Keculia bila Anda tidak memiliki Agama.
Berhentilah merusak. Anda sudah dewasa tanpa harus ditetah seperti anak kecil. Anda katanya orang berpendidikan yang mengerti Etika. Tapi bagiku, Anda tidak tau Etika.
Apakah foto yang diblur adalah hak kebebasan berekspresi? Bagaimana bila pejalan kaki yang dipontret seorang fotografer kemudian tidak terima? Dituntutlah fotografer itu. Paparazi? Mereka semua sering kena tuntutan. Ini contoh yang mudah dipahami, bila Anda tidak paham dengan ini, maka Anda memang seorang bebal. Hapus. Aku tidak terima dan tidak suka.
Kata kasar bukan sekedar luapan amarah. Aku bukanlah preman jalanan. Kuucap kata kasar karena aku muak. Berhentilah merusak. Jangan ganggu kami.
Aku menyayangi Adelia Octaviani. Aku menyayangi adek-adek kecilku. Aku menyayangi kedua orangtuaku dan orangtuanya.
Aku adalah Laksamana. Aku menyayangi mereka semua. Dan aku sangat marah dengan tingkah Anda atau orang-orang yang berani merusak rumah tangga ini. Kuucap mantra dan kutukan menyertai mereka yang merusak.
Berhentilah merusak, berhentilah mencari perhatian orang.