What Got You Here, Won't Get You There.
Orang bilang, pengalaman adalah guru terbaik. Dan saya sepakat. Namun pengalaman hanya menjadi sekedar pengalaman jika kamu tidak belajar. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? Jika benar, maka kamu dapat belajar darinya.
Saya masih ingat waktu itu, mungkin tahun lalu. Betapa ambisiusnya saya berkeinginan untuk ikut pilmapres setelah ada informasi pengumuman di profil instagram kampus. Waktu itu, saya gak punya bekal terbesar untuk ikut pilmapres, bekal apa? Ya, benar. Prestasi. Saya waktu itu gak punya prestasi apa-apa selama kuliah. Jadi, ambisi itu hanya menguap menjadi keinginan saja tanpa ada tindakan lanjut.
Setelah baca cerita selama saya berumur 21, kamu pasti tahu apa yang menjadi titik balik saya. Benar, mendapat beasiswa PPA. Saya bahkan belum bilang terima kasih kepada Bu Cindy yang telah memilih saya menjadi salah satu penerima beasiswa PPA. Saya waktu mendaftarkan diri tidak punya bekal prestasi apa-apa selama kuliah, IPK juga medioker, gak cumlaude. Saya gak tahu atas pertimbangan apa beliau memilih saya. Yang saya tahu, saya setelah itu dapet duit beasiswa dan punya bahan bakar untuk membuktikan jika saya harus punya prestasi sebelum diwisuda tahun depan.
Dan semesta berkehendak, Allah mengabulkan permintaan saya untuk bisa berprestasi, Meskipun gak juara hehe. Tapi, dari 2307 tim yang berpartisipasi menjadi salah satu dari 110 tim yang lolos final tentu bukan perjuangan ya mudah bukan? No no, saya gak minta kalian mengapresiasi pencapaian saya. Saya hanya memberi semangat kepada diri saya sendiri.
Awalnya, saya mengurungkan niat untuk mengikuti pilmapres tahun ini. Kenapa? Karena membaca pengumuman harus punya 10 keahlian yang dibuktikan dengan sertifikat atau dokumen lainnya. Lah saya, cuma punya satu. Itupun sebagai finalis, bukan juara. Untuk syarat yang lainnya saya anggap mudah untuk saya penuhi. Tapi untuk poin terakhir punya 10 sertifikat keahlian, saya nyerah. Masa iya nyetak sertifikat sendiri? haha.
Apa yang istimewa ketika saya ikut pilmapres tahun ini? Saya langsung diminta kemahasiswaan fakultas, Bu Cindy dan Kaprodi saya, Bu Yulian untuk ikut ajang ini. Niat saya yang seolah sudah mati karena saya tiup kencang-kencang kemarin, tiba-tiba dapat percikan semangat untuk kembali berkobar. Saya tanya mengenai kekurangan yang menjadi kendala saya, mereka berdua menjawab itu tak menjadi masalah, seadanya saja. Berbekal jawaban tersebut, tanpa ragu saya daftarkan diri saya untuk mengikuti ajang tersebut. Lalu, penderitaan yang sebenarnya akan dimulai haha *ketawa jahat
Ketika saya daftar, tersisa 3 minggu sebelum pengumpulan persyaratan. Tapi ya gitu, sebagai deadliner rasanya kalau cepet-cepet kelar itu adrenalinnya kurang. Jadi, kamu bisa tebak sendiri bagaimana akhirnya haha.
🧑: Bilang aja males, kampret. Gitu sok-sokan memproklamirkan diri sebagai deadliner, payah.
2 minggu sebelum pengumpulan persyaratan, saya masih belum menemukan akan ambil poin yang mana. Karena karya tulis ilmiah untuk pilmapres tahun ini temanya adalah SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Nah SDGs itu sendiri program dari PBB yang dicanangkan sejak 2015 lalu hingga 2030. SDGs punya 17 poin. Tapi saya gak akan menjelaskan satu persatu di sini. Ini artikel blog pribadi saya bukan copas-an karya tulis ilmiah saya wkwk.
Seminggu sebelum pengumpulan, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada poin ke-11 SDGs. Karena saya punya ketertarikan terhadap pembangunan suatu kota, konsep smart city, dan tata ruang. Setalah menemukan topik yang menarik, akhirnya saya mulai riset mengenai tata ruang wilayah dan smart city. Hasilnya, saya yang awalnya gak tahu, jadi tahu. Ya meskipun cuma sedikit. Tapi gapapalah, yang penting tahu kan?
Meskipun saya punya waktu sisa seminggu, tapi efektif pengerjaannya hanya 4 hari wkwk. 4 hari gak saya gunakan untuk menyelesaikan karya tulis aja sih, tapi juga bikin ringkasan dan video berbahasa Inggris. Nah, muncul 2 masalah lagi. Asumsi saya awalnya saya tidak akan kerepotan mengenai ringkasan dan video bahasa Inggris ternyata cukup dibuat pusing. Saya memang sadar jika kemampuan bahasa Inggris saya pas-pasan. Tapi karena sejak awal mikirnya "hajar aja". Jadi ya ngerasa yakin aja bakalan bisa haha. Cuma bondo yakin, yo jelas kurang, bosque.
Disamping kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan, kemampuan public speaking saya sebenarnya ala kadarnya. Kalau gak mau dibilang buruk wkwk. Bisa ditebak sendiri akan seperti apa jadinya ketika kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan dipadukan dengan public speaking yang buruk haha.
Pada akhirnya, kesulitan yang menurut saya hambatan bisa saya atasi dan berhasil mengumpulkan berkas persyaratan dengan tepat waktu. Bukan tepat waktu sih, tapi pas hari terakhir pengumpulan wkwk. Benar-benar jiwa seorang deadliner sejati. Hidup deadliner!
Jeng jeng, tanggal 20 Februari akhirnya datang. Setelah asik road trip di Banyuwangi akhir pekan lalu, sekarang saatnya berperang. Meskipun sudah tahu akan berperang, saya malah minim persiapan. Slide presentasi baru bikin saat malam kemarin dan baru kelar pas pagi hari. Dan belum latihan presentasi. Serba ala kadarnya. Jadi, tahu sendiri kan penyebab kalahnya apa? wkwk.
Datang ke kampus dengan sedikit terlambat. Bukan terlambat sih, tapi ada perbedaan info dari pengumuman yang udah disebar. Satu tulisannya jam 8.00, satu lagi tulisannya jam 8.30. Ya sudah, saya pilih yang jam 8.30 wkwk. Sampai kampus juga janjian dulu dengan peserta lain yang saya kenal, Karlia. Tapi gak sempet nunggu lama karena Mas Alim (salah satu panitia) tiba-tiba memanggil saya untuk ke lokasi acara. Sorry, Kar, bukan gak mau nunggu kamu. Tapi aku kegep sama Mas Alim :(
Sepertinya saya memang terlalu meremehkan ajang ini. Aslinya gak ngeremehin sih, cuma ya let it flow aja. Gak ada ambisi dan ekspektasi. Beda dengan persiapan presentasi Gemastik dulu. Mungkin karena di ajang ini saya gak terlalu butuh banyak upaya jadi kesannya nggampangin. Mungkin loh ya, mungkin.
Pilmapres di universitas saya cuma terdiri dari 3 tahap, pengumpulan berkas persyaratan, presentasi karya ilmiah, dan interview. Karena pengumpulan berkas persyaratan sudah tanggal 14 lalu, hari itu cuma presentasi dan interview. Dan tahap presentasi merupakan tahap yang paling bikin dag dig dug. Kata temen-temen peserta lain sih gitu. Saya juga sepakat hehe.
Biar adil, urutan presentasi diundi. Dan saya mendapat kehormatan untuk menjadi yang pertama presentasi. Modyar, jeh. Tapi karena demi terlihat pro, show must go on. Saya pikir lebih enak jadi urutan pertama, ndang buyar, ndang ilang gemeter wkwk.
Dasarnya saya memang terinspirasi dari Tony Stark dan Peter Parker yang slengekan, pas presentasi gaya-gaya tengilnya muncul. Kelakuan yang seharusnya dijaga mirip seperti kontes kecantikan, tapi malah saya lakukan. Diantaranya, seringnya membuat gerakan yang tidak perlu, ngomong dengan mimik muka yang terlalu antusias, dan terlalu agresif dalam menjawab pertanyaan dan masukan yang disampaikan dewan juri. Jadi, sekarang tahu kan, kenapa saya gak juara? wkwk.
Oh iya, terima kasih, Karlia. Karena udah bersedia jadi operator slide saat saya presentasi (padahal saya merasa bersalah tadi gak nungguin). Maklum, presentasinya gak pake pointer hehe. Tapi curiga dia mau jadi operator biar bisa ngerti kondisi medan perangnya seperti apa. Sesama peserta boleh curiga kan?
Kelar presentasi dan mendengar masukan dari 3 dewan juri, saya menuggu sesi interview. Sambil makan tentunya haha. 10 menit ngunyah jajanan sambil diselingi minum air mineral botolan, saya akhirnya melangkahkan kaki ke ruang sesi interview. Kalem, euy!
Sesi interview suasananya lebih cair. Tapi, itu adalah jebakan, anak muda. Suasana memang dibuat hangat supaya kalian merasa enjoy dan gak kaku, setelah itu akan terlihat sifat dan kelakuan asli kalian wkwk. Pokoknya dibuat gak jaim intinya. Saya merasa terjebak, menyebalkan.
Setelah seluruh peserta menyelesaikan rangkaian presentasi dan sesi interview, tibalah pada akhir acara. Makan-makan wkwk. Gak ding, sebelum makan kami dievaluasi oleh para dewan juri mengenai keseluruhan performa peserta. Hal apa yang seharusnya dan tidak seharusnya ditampilkan. Rencananya, pengumuman pemenang akan dilaksanakan saat itu juga, namun karena waktu sholat dhuhur makin dekat dan panitia belum kelar menghitung nilainya, jadi pengumumannya diundur hingga nanti sore atau besok. Saya sih gak deg-degan karena udah mikir kalo gak bakal menang wkwk. Yang saya pikirkan adalah setelah makan kemudian berangkat ke kantor. Ya, sesederhana itu haha.
Gak sampai sore hari, sekitar jam 2 siang, saya cek profil instagram kemahasiswaan kampus saya, dan jeng jeng pengumumannya sudah ada. Sesuai dugaan, saya gak juara 1 ataupun 2 wkwk. Untuk kali ini saya bangga dengan diri sendiri karena dugaan saya benar wkwk.
Apa yang membuat saya kalah? Sudah saya jelaskan beberapa alasan di atas hehe. Soal persiapan dan sikap, saya akui saya memang saya kurang dalam aspek tersebut. Kemudian, dewan juri juga mengkritik hasil karya tulis ilmiah saya, ada kekurangan pada judul, dan hasilnya. Karena karya tulis ilmiah saya isinya seperti hanya paparan laporan dan tidak memunculkan gagasan inovasi hehe. Saya juga sempat ditanya ikut PKM atau tidak, saya jawab tidak. Padahal ya udah saya kerjakan tapi gak saya submit wkwk.
Sesuai judul tulisan ini, "what got you here, won't get you there", saya memang memakai cara lama yang saya gunakan ketika mengikuti Gemastik. Namun, cara lama saya itu tidak berhasil saat diterapkan di pilmapres ini. Memang harus ada inovasi dan perubahan yang diterapkan. Lagi-lagi saya tidak belajar dari kesalahan. Payah.
A post shared by KEMAHASISWAAN UMSIDA (@kemahasiswaan_umsida) on Feb 21, 2018 at 3:43am PST
Meskipun kalah, saya merasa bersyukur karena sudah bisa fokus kembali kepada kerjaan saya. Bayangkan jika saya menang dan harus mempersiapkan diri mengikuti pilmapres tingkat Kopertis, pekerjaan utama saya pasti jadi nomor dua terus. Jadi, saya terima kekalahan saya dan bersyukur. Karena gak ada yang bisa dilakukan selain 2 hal itu kan? hehe. Satu jalan tertutup, masih ada jalan lain yang terbuka. Kalau perlu, ya diterobos. Rebel!