tangkal kersem, kata ayah jgn ragu panjatlah!!!
lalu. matahari memancarkan triliunan elektronnya menuju bumi , aku berdiri tegak di bawah sang mentari yang sedang bersinar berirama dengan lekukan awan biru, berjalan sempoyongan dengan tas seberat 4kg yang dipikul oleh seorang anak SDN itu sudah biasa seperti aku dan kebanyakan teman lainnya, terlihat dari raut wajahku penuh kehausan dan kelaparan masuk ke dalam rumah yang nyaman jauh dari sang mentari "maaaah, hoyong emam" segera aku letakan tas di bangku depan tv itu, lalu berganti baju dan menyantap makannya, pernah ku bilang ayahku seorang yang hebat sangat aneh dimataku, dengan pipi penuh makanan aku mulai bercerita kepada ibu dan ayahky "pak tadi nyak ucu naek ka jemputanna lewat jendela da hareudang atuuh, eh aya budak lalaki nyuntungkeun ges we ku ucu di suntrungkeun deui" ceritaku, ayahku hanya tertawa dan sambil mencubit cubit pipiku yang penuh makanan hingga serpihan makanan itu susah untuk ditelan "bapak atuh cicing iiiiiiiiiiihhhhhhhhh".
****
layaknya seorang anak kecil yang masih kelas 2 SD , aku gogoleran di lantai mengguling kekanan kekiri lalu membuka baju daerah perut dan menempelkan kulit perut ke lantai yang dingin, ya seperti itulah salahsatu kebiasaan keseharian anak nakal sepertiku, "cuuu, cuuu kita jalan-jalan yuuu?" suara menggema itu seperti biasanya sangat khas ditelingaku ya suara ayahku, dengan lantang dan teriak aku menjawab saut ayahku "hayuuuuuuuuuuuuuuuuu paaaak!!" segera berlari aku menginggalkan kedinginan lantai itu menuju ayah yang sudah siap dengan motornya. "pak rek kamana kitu" tanyaku, "kamana nyak?" saut nya, "pak hoyong kersem anu deket unwim ucu mah, lebet siah pak barereum basa kamari ucu nempo?" dengan tanpa keraguan ayahku meng-iyakan ajakan ku.
****
"breeeem breeeeeem skiiit" suara motor terparkir dipinggir jalan, angin mulai berarus kencang siang itu, mobil-mobil melaju mengahsilkan efek suara keras dipinggir jalan ini, aku dan ayahku hanya tersenyum girang ketika kita melihat 2 pohon kersem yang berdekatan dengan lokasi sangat pinggir jalan dan sawah terhampar luas, dengan gregetnya tanpa aba-aba dia ayahku mengangkat tubuh mungilku ke atas pohon kersem lalu disusul olehnya menaiki pohon itu, aku perempuan kecil yang lihai dalam memanjat setiap sudut pohon itu aku jelajahi dengan kedua kaki ku merangkak ke dahan paling ujung bahkan dahan yang sampai ke jalan raya. dengan keasyikan memetik satu persatu kersem , ayahku tetap memerahtikan gerakku ya namanya juga seorang ayah gamau melihat anaknya terjatuh. sudah hafal jelas dalam benakku struktur kersem ya dengan radar ku aku tau mana saja kersem yang sudah matang. kersem itu buah kecil yang berasa manis berwarna merah terang dan ada pula berwarna hijau terang itu kersem yang sudah matang :) .
"pak belah dituu lobaaaa" teriakku, dengan kelihaianku aku menuruni pohon kersem itu lalu menaiki pohon kedua yang tak jauh dari pohon kersem yang awal. "ayooo cu panjat jgn raguuu" dengan semangat itulah teiaknya itulah suara ayahku, gembolan plastik hitam yang penuh kersem itu aku ikatakan ke pinggang kecilku lalu memanjat dan kembali menari selihai penari propesional memetik kersem kersem hingga habis ludeeesss. waktu itu singkat ya :) perasaan tadi aku dan ayahku berangkat pukul 13.00 dan ketika kulihat jam tangan ayahku sudah menunjukan pukul 17.00 waaah sudah selama itu kah , udah ga ngerti lagi ngapain ajh selama 4jam!!!! dengan muka lemasku aku meminta pulang "pak uih yuu, cape ah" -- "hayuuu" saut ayahku,
****
matahari kembali ke berandanya , begitupun aku dan ayahku kembali ke rumah dengan baju ku yang sudah kotor berwarna coklat semi hijau karena gesekan pohon serta kaki ku penuh lecet dan menyuci kersem-kersem yang tadi kami petik , jumlahnya ya sekitar 300 buah bisa lebih atau kurang , mataku bergejolak ragaku merinding bafasku cepat saat nafsu aku menyantapnya tapi ketika santapan ke 50 aku sudah mulai eneg dan pada akhirnya kersem itu aku bagikan kepada teman teman sebayaku ya ketika magrib tiba biasanya kami keluar rumah untuk bermain.
pohon kersem hanyalah salah satu media ayahku memanjakakku bukan dengan barang mewah atau hiburan berduit, semuanya sederhana tapi menyenangkan, pohon kersem yang membuatku berani memanjat setinggi apapun pohon, yang membuatku berani terjatuh dan terluka karena lecet dan berdarah itu sudah biasa. itulah ayahku.













