Kebakar rambut
dulu anak kecil selalu berpikir semua yang ada disekitarnya adalah keasikan, benda-benda adalah objek, alam adalah subjek, dan teman adalah projek.
siang telah tampak, matahari riang berseri menunjukan taring sinarnya, aku lelah menikmati siang itu, saat itu usiaku sekitar 5tahun umur dimana semua menjadi objek dan subjek , tanpa pikir panjang aku hanya melamun melihat jendela yang berlapis jeraji ini, “heeeeeeeeeeeh” hela nafasku, “atuh meni gada kerjaan” keluhku.
tiba-tiba…………..
“esssssssssssssssssss mong-mong” trooong troooooong suara kuningan yang terpukul terdengar. ”emaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang” aku berlari gurung gusuh membuka pintu rumah “meseeeeeeer nya, engke nyokot heula acisna” teriakku keluar rumah, “mah hoyong es mong-mong” pintaku, “teu boga duit ah” jawaban singkat yg cukup membungkam mulut, sejenak aku menatap tukang es mong-mong itu dan yasudahlah, akupun tak keluar utk tidak meberitahukan kabar buruk ini ke mang-mang tukang es mong-mong, dia melongo menungguku , mungkin bertanya-tanya kenapa aku tak kunjung keluar , dan pada akhirnya dia pun pergi tak menantiku kembali, ya akhir yang sangat dramatisir.
AHA.
mataku berbinar penuh semangat dan antusias seketika ketika kulihat seonggok deretan korek api di ujung jendela, pikiran menarik langsung terlintas secepat roket ke angkasa, mata ku menatap setajam silet dan pada “cekresss” suara itu terdengar epik dan lembut lalu “cekress” suara itu menggairhkan “cekreees” suara itu membuatku tergoda, hingga pada akhirnya KOREK API NYA HURUNG dengan api yang mebuatku makin semangat, tapi aku bingung mau mebakar apa dengan benda ajaib ini , kertas nothing, kain tak ada, daun komo eweuh eta mah, plastik tong ditanya teu boga,
AKHIRNYA..
aku berpikir jernih penuh pertimbangan aku bakar horedeng jendela tapi rupanya ibuku melihat dan dicarekanlah aku, hmmmm aku kecewa saat itu, tapi okelah no problem akupun punya ide bagus nan cerdik, saat angin berhemat untuk mengeluarkan energinya saat embun sudah tak tampak dan saat ide ini muncul sarafku secapt itu mensetujui dengan berdalih sangat menarik,
LALU
aku bakar ujung rambutku, “eh ko asik ya” … aku bakar lagi ujung rambutku “eh ko makin asik” aku bakar lagi “asik asik” dan rupanya api itu menyala sejadi-jadinya membakar rambut tipis dan mungil ini, “alaaaaaaah siaaaaaaaaaaah kumahaaaaa” aku panik lalu berlari ke kamar mandi dan siram kepala “cisssssssssssssss” padamlah api nya.
masa kecil sangat menarik, masa dimana subjek dan objek di sekitar menjadi projek jalan pikaran yang harus terlealisasi, masa kecil adalah kenangan tiada lupa, kenganan tiada terulang, kenangan tak berbekas dan kenangan selalu teringat. mungkin dulu konyol tapi satu fakta kita tidak bisa kembali pada itu dan tidak bisa membuat sekonyol masa itu.

















