"Saat hujan tak turun di puskopad
Puskopad menyimpan cerita di setiap musim bersua. Bersenandung indah nan elok, Musim hujan maupun maupun musim kemarau akan ada cerita epik di setiap julur aura kehidupan orang orang di dalamnya
****
Angin berhembus sangat lambat, musim kemarau sedang berjalan saat itu.. kami anak anak yang belum beranjak dewasa , berlabel anak kampung sumedang biasa akan bermain di siang hari sepulang sekolah. Ya bermain. Aku beserta temenku yang lain sangat senang bermain dari mulai bermain tanah, pergi ke sawah, walungan sampe mengusik kehidupan tetangga hahaha. Hembusan senja sore mulai terasa terlihat samar langit berwarna jingga, baju yang siang itu bersih berubah menjadi kotor penuh guratan cap tanah disana kemari. Muka yg lucu berubah menjadi muka yang naudzubilah kucelnya , raut yang bergembira berubah menjadi raut lemas dan lunglai. Tapi cerita belum berakhir. “Wooooy 15menit deui kadieu buru nyak” saut suara a eza mengajak kami, ” rek dimana kitu” “eta we di sawah lebak meh deket”.
****
Ya musim kemarau telah melumpuhkan pdam komplek kami, air hanya menyala dua/tiga hari sekali itupun malam hari, alhasil bagi kami anak kampung tak ada jalan lain selain mandi di sawah lagian kita masih kecil, setiap temanku sudah membawa peralatan mandinya, menelusuri lebak penuh tanah yang licin, Satu persatu dari kami mandi di bawah pancuran air sawah yang lumayan bersih dimulai dr para lelaki, biasanya mereka mandi tanpa ditutupi tempatnya sengaja mereka biarkan ter buka begitu saja lalu brkata ” hahahahhaa bae meh awewe narempo” itu selalu ucap mereka, Satu persatu dari kami perempuan pun mandi di pancuran sawah bedanya kami para perempuan akan bergantian utk menutupi tempat mandi kami.
Ya setiap hari selalu seperti itu ketika aura kemarau datang ke komplek kami, canda tawa terdengar jelas di telingaku sampai saat ini, cerita ini mungkin kampungan tapi sangat menetap di pelupuk hati aku.
****
Akan aku ceritakan kisahku sendiri, sepulang sekolah aku seger la berlari berganti baju merah putih itu, tergesa gesa menuruni tangga dan bilang” maaaaaaah ucu ka lebaaaaak nyaaaa hayaaaaang eee” ” iiiiiiii hayu anter ucu ka sawah lebak” aku dan sahabat karibku segera berlari ke sawah menuruni tangga, bertahap di jalan becek yg licin tergesa gesa menuruni agar segera berada di sawah. “Ii ucu ee hela nya, ii bade ee teu?” Aku menungging di walungan kecil dan bertengger di sebuah bambu yg berjumblah tiga, dan hanya ada penutup papan disana, tiba tiba tanpa disadari virus mules itu merasuki ii ” cu, ii ge palay ee, tapi ngahareupna nukangan ucu nya era” ucap ii ” enya sok dieu”. Kami pun ee saling berbelakangan tapi tetap satu tenggeran bambu, tak disadari karena kami saling merasakan suatu hal ganjil ada sesuatu yg menarik perhatian ii disana karena aliran air menuju ii ” ii tempo tai ucu ke belah maju ten ii” dengan tertawa ” hahaaha cu naha ee ucu meni garede”, jadi pada intinya setiap aku mengeluarkan fesesku ii akan melihatnya karena arah sungai ke arah ii. Kami akan tertawa meski itu menjijikan kami akan tersenyum meski bagi mereka di kota ini memalukan. Tapi kami akan bawa cerita bagi cucu kami yg tak akan diceritakan oleh mereka mereka yg tinggal di kota. Setelah cukup puas kami ee di walungan, akhirnya kami bingung mau cebok pake apa. Tak pikir panjang kami bawa gayung dr rumah dan berlari kecil kedepan walungan utk cebok di walunga yg sama. Ya itulah cerita musim kemarau di kompleku puskopad ketika aku duduk di SD kelas 1-3.
****
Cerita ini sangat menjijikan ya? Tapi sangat berkenan dihati para kami anak kampung, aku bangga jadi anak kampung aku bangga dngn semua cerita ini. Langit akan selalu berwarna biru pohon akn selalu tampak hijau. Tapi cerita akan senantiada berubah dan berbeda disetiap tempat. Rinduku pada puskopad.













