Saya baru baca buku bagus. Mungkin nggak banyak orang tahu, judulnya Semar Mesem karangan R. Toto Sugiharto. Out of the blue sedikit, menurut saya nama pengarangnya agak bermakna ganda. Namanya bisa menimbulkan kesan beliau keturunan Jawa, tapi bisa juga kesan bahwa beliau keturunan Sunda. Dominansi vokal 'O' jelas menunjukkan bahwa beliau berasal dari etnis Jawa, apalagi namanya belakangnya "Sugiharto" dan ada R-titik di nama depannya; entah itu kependekan dari "Raden" atau bukan. Tapi ada pengulangan silabel TOTO sugiharTO, yang juga merupakan salah satu genealogy nama orang-orang keturunan Sunda. DADA rosaDA, iDA fariDA.
...oke, saya klarifikasi. R. Toto Sugiharto lahir di Yogyakarta, tinggal di Yogyakarta. Singkatnya, Jawa totok.
Oke, saya bukan ingin membahas mengenai genealogi nama berdasarkan suku. Saya mau membahas tentang Semar Mesem.
Mesem. E pertama dibaca seperti pelafalan E pada kata "Eh!" dan E kedua dibaca seperti pelafalan E pada kata "kalem". Mesem. Artinya senyum...nyengir...senyum-senyum nggak jelas juntrungannya, mungkin itu makna yang tepat. Semar Mesem.
Kenapa orang yang senyum-senyum nggak jelas juntrungannya dipermasalahkan segitunya sampai dibuat buku? Mungkin itu pertanyaannya.
Poin besarnya adalah tokoh utama. Ya, Semar.
Mungkin yang bukan fans berat pewayangan jawa nggak begitu familiar dengan Semar. Ya, tokoh yang sering dikorelasikan dengan bentuk Pulau Kalimantan. Perutnya gendut, kulitnya hitam, tidak apik dilihat lah rupanya. Tapi hatinya, boo, mencrang-mencrang bersinar kayak lampu neon.
Semar ini anak dari Sang Hyang Tunggal. Ya, dia anak "Tuhan" dalam pewayangan jawa. Dikisahkan Sang Hyang Tunggal menciptakan telur yang akhirnya kulitnya menjelma jadi Tejamantri alias Antaboga; ular naga mahapenguasa dunia bawah, kuning telurnya adalah Manikmaya alias Batara Guru; rajanya para dewa-dewi, dan putih telurnya berubah menjadi Betara Ismaya, ya, si Semar ini; yang menjadi "pelayan" umat manusia di bumi. Kemudian, Tejamantri dan Ismaya dititahkan untuk turun ke bumi oleh Sang Hyang Tunggal untuk memelihara keturunan Manikmaya dan menjadi "komisi yudisial" bagi si kuning telur jika dia bersikap tidak adil.
Semar memiliki tiga orang anak. Yah, bukan anak asli sebenarnya. Walaupun Semar punya istri yang cantik, yang senyumnya bisa membuat bunga kuncup jadi mekar, tapi Semar tidak punya anak kandung. Bagong adalah penjelmaan bayangannya yang termaterialisasi karena Semar meminta Sang Hyang Tunggal untuk memberinya kawan selama ia di bumi. Petruk dan Gareng awalnya adalah dua ksatria tampan yang kemudian bertarung sampai wajah keduanya jelek dan tidak berbentuk, kemudian mereka dilerai oleh Semar. Merasa kagum pada Semar, keduanya meminta untuk diangkat anak dan Semar menyetujuinya. Mereka berempat, ya, Semar dan ketiga anaknya, sering juga disebut Punakawan, Ponokawan, Panakawan, pokoknya itu lah. Punakawan adalah istilah umum yang orang awam tahu, Ponokawan adalah istilah yang tidak sengaja saya baca di akun twitter dalang ternama Sujiwo Tejol. Pono katanya berarti "cahaya" dan Kawan berarti...sesuatu. Saya lupa. Apapun kalian sebut mereka, keempat tokoh itu adalah salah satu oasis di tengah cerita wayang yang serius, penuh gara-gara, dan panjang, pastinya.
Semar sendiri mengabdi kepada keluarga Pandu, terutama Raden Arjuna. Di saat semua makhluk berlomba-lomba untuk menjadi pihak berwenang, keputusan Semar untuk mengemban posisi abdi membuat seluruh kepala saat itu terheran-heran. Tapi kepala-kepala itu tidak protes, apalagi penduduk Amerta. Memiliki Sri Kresna dan Semar sebagai penasihat kerajaan tentu merupakan keunggulan terbesar negara tersebut. Semar terkenal sebagai mulut dan telinga bagi rakyat-rakyat kecil. Beliau berhasil menempatkan dirinya di tengah-tengah antara birokrat kerajaan dan kawula alit.
Sebagai salah satu "anak" Sang Hyang Tunggal, adalah membingungkan saat saya pertama kali mengenal tokoh Semar sebagai tokoh yang keinginan terbesarnya adalah menjadi manusia. Semar memiliki ajian yang membuatnya bisa mengendalikan delapan rasa yang dirasakan oleh manusia; lapar, kantuk, jatuh cinta, sedih, lelah, sakit, panas, dan dingin. Semar dapat mengendalikan itu semua, sehingga ia bisa terbebas dari delapan rasa itu.Di buku Semar Mesem ini, Semar ingin menjadi manusia seutuhnya dan merasakan itu semua. Aneh, ya? Perjalanan Semar menjadi "manusia" di buku ini diceritakan sangat lucu, khas Ponokawan.
Tapi bukan cerita wayang kalau menyinggung Keluarga Pandu, tapi tidak menyinggung Keluarga Kurawa.
Selain menceritakan tentang keinginan Semar untuk menjadi "manusia", buku ini juga mengisahkan tentang turunnya Wahyu Tejamaya dari Sang Hyang Tunggal. Siapapun yang mendapatkan wahyu ini, niscaya negaranya akan diberkahi kemakmuran tiada hingga. Jelas Keluarga Kurawa tidak bisa terima jika Pandawa bisa mendapatkan wahyu ini. Keadaan bertambah pelik saat Dewasrani, anak Betara Guru, juga menginginkan wahyu itu untuk membawa negaranya, Nusarukmi, pada kemenangan atas negara Pandawa, Amerta.
Saya tidak mau membeberkan spoilernya, yang pasti Semar dikisahkan sangat heroik.
Tokoh lucu, tapi sangat bijak itu selalu membuat saya terkagum-kagum setiap kalimat yang dicetuskan olehnya. Semua nasihat pada Pandawa ia sampaikan dengan kocak dan aksennya yang khas.
Saya jadi berpikir, mungkin ada baiknya, pemimpin negara saya punya penasihat semacam Semar. Sudah cukup dunia ini penuh dengan penasihat negara semacam Sri Kresna yang bisa mengubah tipu muslihat menjadi hal yang seolah-olah wajar. Orang bijak semacam Semar yang bisa mengendalikan rasa duniawi lebih dibutuhkan di sini. Apalagi Semar adalah orang yang punya telinga menghadap rakyat dan mulutnya menghadap langsung ke arah pemerintah.
...kualifikasi DPR dan DPD yang ideal, ya, seperti Semar ini, menurut saya. Sayang kedua lembaga di negara saya sekarang mengadaptasinya secara terbalik. Mulutnya menghadap rakyat, melontarkan dan meneriakkan janji-janji palsu yang didengar dan didapatnya dari corong telinga yang menghadap ke arah tikus-tikus birokrat yang mengharapkan kemenangan semu.
Tokoh Semar memang tidak sesedap itu dipandang seperti kita memandang tokoh-tokoh nasional berbadan tegal bertampang bagus di negara ini. Yah, tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang jamannya "judge book by its cover, after that, you can judge the content". Tapi bagaimana kalau ternyata Sang Hyang Tunggal dunia ini tipe old-school yang masih berpegang teguh pada "don't judge book by its cover" atau mungkin Beliau tipe trolling yang sengaja menyembunyikan tokoh Semar ini dibalik rupa-rupa yang tidak rupawan, dan mereka terlewatkan oleh kita karena kita tipe "judge book by its cover blablabla" itu?
Yang pasti, saya sangat yakin. Negara ini butuh Semar.
Ada beberapa bagian dari Semar Mesem ini yang lucu dan menyentil saya.
UTANG I
"Ngomong-ngomong, apakah kamu juga punya utang?" bisik Nayadangka.
Panyukilan terkekeh-kekeh. "Aku tidak. Tapi istriku punya"
Nayadangka tertawa serak, "Berarti bisa dibilang, kamu juga punya utang."
Panyukilah terkekeh-kekeh dan mengangguk-angguk, "Memang kalau sama istri, uangku ya uang istriku. Utang istriku ya utangku."
"Tapi, utang suami ya ditanggung sendiri..." seloroh Nayadangka.
Panyukilan terkekeh-kekeh, "Bukankah itu seperti negara yang berutang, lalu rakyatnya yang menanggung?" desisnya.
Nayadangka terbahak-bahak. "Berarti utangnya negara ya utangnya kita. Sampean (kamu) juga, kan?"
UTANG II
Nayadangka mengambil bangku di taman, "Bagaimana menurut kamu, Panyukilan? Taman ini..."
"Bagus. Indah dipandang mata."
"Lha wong dari utangan. Kamu bayangkan coba, bangku yang kita duduki ini, rerumputan itu, serumpun bambu kuning dan mungil, bunga-bunga. Semuanya dapat dari utang. Istilah kerennya kredit. Berarti kan keindahan yang semu."
NB: Panyukilan sebenarnya adalah Semar yang menjadi "manusia". Di buku Semar Mesem ini, diceritakan Panyukilan bertemu dengan Nayadangka dari Nusarukmi dan diajak bekerja sebagai debitur alias tukang tagih utang.
SUKARELAWAN YANG NETRAL
"Baiklah, Petruk. Saya perlu menjelaskan. Dalam masalah ini saya sebenarnya netral. Saya independen. Tidak memihak salah satu. Saya tidak berada di kubu Pandawa, saya juga tidak berada di kubu Kuraa. Begitu yang bisa saya haturkan. Dan ini semoga bisa dipahami kedua pihak, baik Pandawa maupun Kurawa," sahut Prabu Baladewa tenang.
"Lho, bagaimana itu? Kok lucu? Tidak di sana, tidak di sini Apa bedanya tidak di mana-mana tapi berada di mana-mana?" sambar Bagong.
"Bingung juga ya, Gong? Terus, tempatnya di mana itu, Gong?" tanya Gareng menyela.
"Sebenarnya sederhana, Bagong. Maksudnya ya cuma melihat saja. Tidak ikut campur. Tidak memprovokasi salah satu pihak," tutur Batara Kresna.
"Kalau tak ketahuan. Kalau ketahuan ya, jawabannya netral itu tadi. Begitu kan, Kang Gareng?" tambah Bagong.
"Ya, kurang lebihnya. Minimal itu yang pernah kamu praktikkan, kan, Gong?" sahut Gareng.
"Sudah! Sudah! Kalian malah ribut sendiri! Namanya independen ya, seperti Prabu Baladewa itu. Kamu kalau pengen independen ya, sana ikut Prabu Baladewa," ujar Petruk membantu memahamkan cara berpikir Bagong dan Gareng.
"Dikasih blonjo (uang jajan) berapa kira-kira ya, Kang Petruk, kalau ikut Prabu Baladewa?" kejar Bagong penasaran.
"Biasanya malah pakai ukuran relawan. Lha wong tak ada dananya. Kalau anggaran ada. Tapi namanya independen sulit cari donor, Gong," ucap Petruk semakin merasa lebih pintar dibanding Bagong dan Gareng.
"Wah, ini kalau Kang Petruk menjelaskan tambah paham. Mudah dimengerti," celetuk Gareng.
"Lha, memang Kang Petruk pernah aktif jadi relawan. Ya tho, Kang Petruk?" lanjut Bagong.
"Relawan itu apa, Gong? Aku pernah ngerti tapi kok lupa lagi," sela Gareng polos.
"Keterlaluan kamu, Kang Gareng. Itu lho, relawan Koin Peduli Semar. Di situ kan kita tidak mencari untung. Kita ikhlas bekerja demi nama baik Romo Semar," timpal Bagong.
"Ya, kalau itu aku ingat. Tapi waktu itu kita dapat uang makan tho, Gong?" lanjut Gareng lugas.
NB: Prabu Baladewa adalah kakak Sri Kresna yang pada kisah Mahabharata diceritakan netral dan tidak memihak siapapun. Sehingga pada akhir perang Bharatayuda, Prabu Baladewa ditunjuk menjadi "wasit" dalam pertarungan satu lawan satu antara Bimasena dan Duryudhana.