Kisah Portugis Hitam & Asal Muasal Keroncong Tugu di Utara Jakarta
Dari dulu hingga sekarang, ibukota Jakarta menjadi tempat bertemunya berbagai kebudayaan baik dari nusantara hingga luar negeri. Fakta itu pun bisa dilihat dari banyaknya kampung atau kawasan yang menjadi tempat bermukimnya pendatang dari suatu daerah. Misalnya saja Kampung Bandan yang banyak ditinggali orang Banda, Pekojan yang dikenal juga sebagai kampung Arab atau Petak 9 yang banyak dihuni orang Tionghoa.
Namun dari sekian banyak etnis pendatang yang tinggal di ibukota, mungkin keberadaan Portugis Hitam di Kampung Tugu, Jakarta Utara merupakan salah satu yang sering luput dari perhatian. Saya pribadi baru menyadari keberadaan para Portugis Hitam ini pada awal Mei 2016 lalu, tepatnya lewat ajakan Walking Tour Jakarta Food Adventure yang terdiri dari Ira Lathief, Idfi Pancani, Adjie Hadipriawan dan Indra Diwangkara (Sekarang sudah bubar).
*Walking Tour Jakarta Food Adventure Maret 2016 silam
Didorong oleh rasa penasaran, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar jadi salah satu anggota. Layaknya acara Walking Tour pada umumnya, saya dan peserta lain pun diminta untuk bertemu di titik pertemuan. Sekolah Tugu Bhakti yang berlokasi persis di belakang Gereja Tugu pun menjadi meeting point. Tinggal di Jatiasih, Bekasi, saya pun sempat mengalami kesulitan untuk menuju meeting point. Walau saat itu saya membawa kendaraan mobil, zaman itu Google Maps belum menjadi aplikasi populer. Saya malah banyak mengandalkan bertanya pada penduduk setempat untuk menuju lokasi.
Setelah sempat nyasar dan ngaret, akhirnya saya tiba di Sekolah Tugu Bhakti. Di sana, keempat tour guide telah berkumpul bersama dengan sejumlah peserta lain dari dalam dan luar negeri. Ada yang datang dari Belanda, Italia, Brasil hingga Portugal. Dua negara terakhir merupakan pengguna bahasa Portugis yang tentun masih erat kaitan sejarahnya dengan para Portugis Hitam di Kampung Tugu. Bagi mereka, acara ini tentu menjadi napak tilas akan sejarah Portugis yang berada jauh dari kampung halaman mereka.
Portugis Hitam
Datang seorang diri, saya pun dimasukkan dalam satu grup dengan Ira sebagai pemandunya. Sebelum mulai acara, saya pun dibekali dengan informasi singkat tentang Kampung Tugu dan orang Portugis Hitam. Singkat kata, para Portugis Hitam atau yang disebut Mardijkers merupakan keturunan dari para orang Portugis yang dahulu ditawan di Malaka dan dibawa ke Batavia oleh penjajah Belanda pada abad ke-17. Menariknya, para Portugis Hitam ini tidak murni keturunan Portugis. Melainkan keturunan budak yang berasal dari negara yang dijajah Portugis (Afrika Selatan, etc). Hal itu juga membuat mereka terpisah dari kaum Indo-European yang punya status lebih di Batavia saat itu. Fakta menarik lainnya, Nama Tugu sendiri juga tertulis dalam Monumen Tugu dari abad ke-5 yang disinyalir ada sejak zaman Kerajaan Sunda Tarumanagara. Monumen Tugu pun ditemukan tidak jauh dari Kampung Tugu.
*Para keturunan Portugis Hitam atau Mardijkers
Dibawa oleh penjajah Belanda ke Batavia sebagai tahanan, para Portugis Hitam yang mayoritas beragama Katolik saat itu diberi 'kemerdekaan' bersyarat pada tahun 1661. Mereka akan dibebaskan dari status tawanan, tapi harus mengganti agama Katolik menjadi Protestan (Agama penjajah Belanda saat itu). Dihadapkan pada pilihan sulit, sekitar 23 Kepala Keluarga yang terdiri dari sekitar 150 jiwa beralih agama dan diberi lahan di Kampung Tugu. Sedangkan bagi yang menolak, diasingkan oleh penjajah Belanda sebagai budak. Semenjak itulah, para Portugis Hitam meraih kemerdekaan dan beranak pinak di Kampung Tugu hingga saat ini. Walau begitu, sewaktu-waktu para Portugis Hitam juga dijadikan serdadu VOC oleh penjajah Belanda.
Namun berbeda dengan para orang Portugis asli, para Portugis Hitam berbicara menggunakan bahasa Kreol Tugu (Sebagian masih dituturkan oleh generasi tua Kampung Tugu). Salah satu bukti eksistensi mereka pun masih dapat dilihat lewat marga Portugis di nama belakang mereka. Contohnya seperti Abraham, Cornelis, Browne, Andreas, Michiels dan Quiko. Itu pun hanya sebagian, dahulu malah ada lebih banyak marga Portugis. Namun seiring dengan jumlah penerus marga yang tidak memiliki keturunan dan tutup usia, beberapa nama marga pun hanya tinggal kenangan.
Setelah mendapat penjelasan tentang orang Portugis Hitam, perjalanan pun dimulai menuju Gereja Tugu. Dibangun sekitar tahun 1676, Gereja Protestan yang dahulunya merupakan Gereja Katolik ini merupakan salah satu yang tertua di Jakarta (Setelah Gereja Sion). Di pelatarannya juga dapat dijumpai pemakaman dari sejumlah warga keturunan Portugis Hitam.
Dari Gereja Tugu, saya pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Kampung Tugu yang berlokasi di seberang Gereja Tugu. Kampung tersebut juga dikenal sebagai Kampung Kristen karena mayoritas penghuninya yang beragama nasrani. Kampung tersebut juga menjadi kediaman dari para keturunan Portugis Hitam yang masih tersisa saat ini. Namun selain para keturunan dari Portugis Hitam, kampung tersebut juga menjadi 'melting pot' dari para kaum pendatang nusantara seperti dituturkan oleh Ketua Ikatan Keluarga Besar Toegoe (IKBT), Erni Lissie Michiels.
"Di sini juga ada orang Toraja, Ambon sama Timur, dulu datang ke sini sebagai pendatang, dia harus bantu menghidupkan kampung kami tahun 60-an. 70-an orang masih asing, 80-an sudah tidak asing," ujar tante Erni.
*Tante Erni Lissie Michiels (Tengah)
Rumah Tertua di Kampung Tugu
Dari Kampung Tugu, kaki pun kembali melangkah ke salah satu rumah yang diketahui merupakan tertua di Kampung Tugu. Rumah tersebut berjarak sekitar beberapa ratus meter di seberang Gereja Tugu. Dari pinggir jalan, rumah tersebut sangat mudah untuk dikenali. Tanpa pagar, rumah itu berada di sisi kiri dengan pemandangan mobil tronton di sisi halaman kanannya. Rumah tersebut merupakan kediaman dari keluarga Arthur James Michiels atau yang akrab saya sapa om Arthur.
*Om Arthur yang tengah memberi penjelasan tentang Macina pada turis
Secara fisik, rumah yang teras depannya didominasi oleh kayu itu tidak jauh beda dengan rumah Betawi jadul pada umumnya. Yang sedikit menyedihkan, kondisi rumah ini boleh dibilang tidak terawat. Tampak bagian langit-langit yang sedikit rusak, hingga air yang menggenang di teras karena air. Diceritakan oleh om Arthur, rumah itu sudah dihuni oleh lima generasi termasuk dirinya.
"Rumah ini yang saya tahu sudah ditempati lima generasi. Jadi menurut perkiraan rumah ini sudah ada sejak 250 tahun yang lalu. Itu yang saya ingat ya," ujar om Arthur.
Kondisi rumah itu sekarang pun bisa dibilang beda jauh dengan dulu. Rumah yang awalnya ditempati oleh ayah dari Buyutnya yang bernama Andreas Andries itu dahulu masih dikelilingi oleh hutan dan sawah, kontras dengan sekarang yang dikelilingi beton dan truk kontainer yang lalu lalang.
"Dulu ini rumah satu belakang kebun dikellingi sawah. Orang tugu itu dulu rumahnya berjauhan, benar-benar kampung karena luas sekali, penduduknya sedikit," cerita om Arthur.
Dari segi orisinalitas, Arthur mengaku kalau hanya tinggal bagian depan rumah saja yang masih asli. Tembok di bagian dalamnya yang dulu bambu telah diubah menjadi seperti rumah modern karena yang lama sudah rusak. Pemugaran pun butuh biaya yang tidak sedikit. Sempat ada wacana renovasi dari Pemerintah DKI Jakarta untuk Kampung Tugu tahun 2010 silam, tapi dibatalkan karena satu dan lain alasan.
Sebelum berpisah dengan om Arthur, saya dan rombongan pun sempat disuguhkan alunan musik Keroncong Tugu. Penampilnya tidak lain adalah om Arthur beserta saudara dan anak-anaknya. Dengan piawai mereka memainkan sejumlah alat musik seperti machina (Alat musik khas Portugis seperti ukulele), biola, bas betot dan lainnya. Lagunya pun dibawakan dalam versi keroncong dan dituturkan dalam bahasa kreol hingga Indonesia.
Keroncong Tugu
Usai mengucap salam, saya dan rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah tante Erni atau yang memiliki nama lengkap Eugeniana Quiko. Rumahnya pun berjarak tidak jauh dari rumah om Arthur, hanya saja lebih masuk ke dalam gang. Sesampainya di sana, saya pun dijamu oleh tante Erni dengan berbagai makanan khas Kampung Tugu. Sebut saja ketan unti, pisang udang hingga apem kinca. Selain nama yang unik, rasa makanannya juga tidak kalah sedap. Makanan khas Kampung Tugu itu pun boleh terbilang langka, karena hanya dapat dijumpai di Kampung Tugu dan disajikan lewat pesanan saat hari raya besar seperti Natal dan Tahun Baru.
*Grup musik Keroncong Tugu Cafrinho
*Macina, instrumen musik Keroncong Tugu
Sambil bersantap, saya pun kembali disuguhkan alunan musik keroncong oleh kelompok Cafrinho yang dipimpin oleh Guido Quiko sebagai generasi ke-4. Fakta menarik lainnya, rumah tante Erna merupakan 'basecamp' dari grup Cafrinho. Kampung Tugu sendiri menjadi asal muasal dari genre musik keroncong yang sudah dikenal luas seantero Indonesia. Hanya lebih spesifik, Keroncong Kampung Tugu adalah apa yang menjadi ciri khas tempat ini.
*Ketan Unti
Berawal dari kerinduan orang Portugis Hitam akan tanah kelahiran, alunan musik keroncong yang dimainkan lewat instrumen Macina menjadi satu-satunya alternatif hiburan bersama. Kata keroncong sendiri konon berasal dari suara crong yang ditimbulkan oleh Macina. Setelah alunan lagu keroncong didendangkan oleh Cafrinho, saya dan rombongan pun langsung larut dalam keriangan. Tante Erna selaku ruan rumah pun mengajak saya dan lainnya bergoyang mengikuti irama musik. Aroma pesta dan kebersamaan pun langsung mencuat ke permukaan, sekali pun saya belum mengenal dekat satu sama lain. Musik memang punya kekuatan untuk mempersatukan perbedaan.
*Tante Erna (kiri) dan Ira Lathief (kanan) yang asyik berjoged
Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu, musik Keroncong Tugu pun semakin sulit dinikmati. Selain jumlah pemain yang kian sedikit, biasanya Keroncong Tugu hanya dapat didengar Live saat ada acara atau event besar saja. Biasanya grup Cafrinho sering tampil untuk mengisi acara pernikahan hingga makan malam. Mereka pun biasa dipanggil untuk mengisi acara, tapi tidak sering.
Kata Turis Portugal
Keriaan pun tidak hanya saya rasakan, tapi juga bagi kedua turis yang berasal dari Portugal dan Brasil. Seperti yang saya ceritakan di awal, kedua turis itu adalah Frederico Brandao yang berasal dari Portugal dan Debora yang berasal dari Brasil. Ketika bertemu, mereka bercerita kalau tengah bekerja untuk sebuah organisasi di Bogor. Frederico pun mengetahui adanya acara ini lewat temannya, di mana akhirnya ia mengajak Debora. Frederico sendiri memiliki ketertarikan akan budaya tanah kelahirannya. Ia pun sangat tertarik ketika menemukan jejak Portugis di Jakarta.
"Sebenarnya saya menulis satu dua artikel tentang Portugis, dan orang-orang pun memberi tahu tentang pengaruh Portugis di Indonesia. Musiknya bagus, makanannya enak, pengaruh Portugis untuk saya sendiri begitu terasa. Ada banyak kesamaan dalam tarian dan kata-kata dalam bahasa Portugis," cerita Frederico.
* Frederico Brandao (Portugal) dan Debora (Brasil)
Bicara dengan Frederico, saya pun mendapat tambahan sudut pandang tentang orang Portugis Hitam di Kampung Tugu. Sekali pun bukan murni Portugis, keberadaan mereka di Kampung Tugu menegaskan keberadaan orang Portugis di Jakarta. Bahwa mereka juga memiliki kesamaan identitas dengan Portugis asli di tanah kelahirannya. Setidaknya lewat bahasa dan musik seperti dikatakan oleh Frederico.
Mengenal orang Portugis Hitam secara langsung, bagi saya pribadi menjadi upaya untuk mengenal ragam budaya yang ada di Indonesia. Tidak usah yang jauh-jauh di luar Pulau Jawa, keberadaan orang Portugis Hitam yang dekat saja sering luput dari perhatian. Inilah Kampung Tugu, secuil peninggalan Portugis di Jakarta yang terus bertahan hidup dibalik roda pembangunan ibukota.
**Apabila kamu penasaran dan ingin mengenal orang Portugis Hitam lebih jauh, bisa datang ke Kampung Tugu saat Hari Raya Natal, awal tahun baru untuk melihat tradisi Rabo-rabo dan tanggal ketujuh di bulan Januari untuk melihat tradisi Mandi-mandi.
Artikel ini merupakan cerita versi panjang dari sekumpulan berita pendek yang dimuat penulis di detikTravel saat berkunjung ke Kampung Tugu tahun 2016 silam.
Tautan di bawah ini:
Menelusuri Jejak Portugis di Kampung Tugu, Jakarta Utara
Ini Kampung yang Jadi Cikal Bakal Keroncong di Indonesia
Rumah Tua Peninggalan Portugis di Kampung Tugu yang Terabaikan
Kata Turis Portugal yang Napak Tilas ke Kampung Tugu








