27 Mei 2016 "Ade perlu kamera DLSR, Bu.." "Untuk apa? Berapa harganya?" "Selain untuk tugas sekolah, Ade juga suka fotografi kan bisa dapet uang dari situ. Harga kamera yang Ade mau sekitar 7 juta sekalian dengan lensanya." ... Samar-samar dari pintu kamar yang tidak tertutup rapat, aku mendengar percakapan Ibu dan Adik di ruang TV. Beberapa waktu yang lalu, Adik pernah menyinggung tentang hal ini padaku. Sebuah kamera DSLR yang harganya tidak murah. Selama ini dia selalu menyewa harian jika butuh untuk mengerjakan tugas sekolah, sama saja sih justru lebih mahal sewa kamera harian. Lalu aku beranjak dari kasur mendekati pintu agar dapat menyimak lebih jelas percakapan mereka. "Apa bisa ditunda dulu, De? Kakakmu sedang sakit dan membutuhkan biaya berobat yang tidak murah" "Kan Kaka berobat pakai BPJS, Bu." "Iya, tapi kita harus persiapkan uang cadangan. Sabar ya, nanti kalau ada rejeki pasti kameranya dibeli." "Iya deh... Emang Kakak sakit apa sih, Bu? harus bolak balik ke Rumah Sakit buat cek darah." Adik terlihat sedikit kesal, Ibu hanya mengelus kepala Adik tanpa bicara apa-apa lagi. Aku mendongakkan kepala, tiba-tiba mataku memanas, dan ada cairan hangat meleleh di pipiku. Sedih rasanya melihat Adik harus mengorbankan kebutuhannya demi aku. 6 Juni 2016 Jarum jam seolah bergerak lambat menuju pukul 17.00, aku sudah bersiap pulang karena badanku demam lagi. Kika menghampiriku dengan tatapan khawatir, kemudian tangannya diletakkan di keningku. "Kamu demam lagi, Fa? Aku antar ya pulangnya, sekalian lewat karena aku mau ke rumah mertua" Aku mengangguk perlahan dan bergegas turun ke parkiran mobil. "Ada acara apa di rumah mertua, Ka?" tanyaku, mencoba membuka pembicaraan. "Rumah mertua mau di jual, aku mau ambil beberapa foto rumahnya. Kalau ada yang butuh rumah 250m persegi dua lantai, kabarin aku ya?" "Memangnya mau dijual berapa?" "1,5M harga nego jadi 1,4M nah nanti kalau kamu bisa jual, aku kasih bagian deh asal pembelinya tangan pertama. Oya gimana pengobatan kamu, sakit apa kata dokter?" Aku tersenyum dan mengacungkan jempol pada Kika. "Iya aku masih harus ikut serangkaian test, kemarin udah tes limfa dan tes darah, minggu depan cek sinar x dan biopsi." "Yaa ampuuun... banyak amat. Terus kondisi kamu sendiri gimana sekarang? minta cuti aja dulu dari kantor biar bisa berobat tuntas." Kika masih bicara, sementara pikiranku menerawang tawaran menjual rumah. Kalau aku beruntung, mungkin uangnya cukup untuk beli kamera. Semoga. 2 Juli 2016 Rasa sakit mulai menjalar kesekujur tubuh, masih bisa aku nikmati. Entah kenapa Hb darah aku drop sehingga harus transfusi darah. Sejujurnya aku merasa geli sendiri, tidak pernah mendonorkan darah sekarang malah menerima darah dari pendonor. Terkadang saat ini, semua hal dimataku terlihat jenaka hingga aku tak perlu repot-repot menghibur diri. Orang-orang yang aku kasihi, khususnya adik lelakiku semata wayang selalu setia menemaniku saat berobat. Beberapa kali Kika mengunjungiku bersama teman-teman kantor, mereka bilang keinginanku selama ini untuk bisa kurus sudah terkabul. Aku kurus...! 5 Juli 2016 Adik membenarkan selang oksigen yang hampir lepas dari hidungku, lalu kembali bercerita tentang proyek fotografi bersama beberapa teman sekolahnya. Hidungnya kembang kempis saat bercerita dia mendapat uang pertama hasil dari memotret teman-temanya. Lalu kutanya untuk apa uangnya. Setengah malu dia bilang uangnya dibayarkan sewa kamera, sisanya 50 ribu buat beli pizza. Kasihan. Kami 4 bersaudara, dia adalah adik bungsu kami - yang tertampan kedua setelah ayah tentunya. Orang tua kami berpendapat, adik bungsu kami ini lah kelak yang akan lebih leluasa menjaga mereka saat tua nanti karena biasanya anak wanita akan dibawa serta suami. Saya tidak sependapat dengan Ayah dan Ibu, setiap anak tentulah harus bisa menjaga dan merawat penuh kasih pada orang tuanya sebagai tanda bakti dan cinta kasih sebagaimana mereka melakukan itu semua pada anak-anaknya. Si bungsu ini dekat dengan saya. Mungkin karena jarak usia kami terpaut cukup jauh. Semoga perjalanannya dia menyongsong masa depan dipermudah Alloh. "Yang soleh ya, De. Kakak doakan yang terbaik, jangan mudah menyerah." ujarku lirih sambil memegang kepalanya. 16 Juli 2016 Gerimis turun sejak Senja tadi, sekelompok orang membawa besek keluar dari rumahku selepas Isya . Kika masih duduk dan menselonjorkan kaki dekat Ibu, lalu memanggil Adikku. "De, ini titipan dari Kakak" Kika perlahan mengeluarkan kotak dari dalam tasnya lalu menyerahkan kotak tersebut pada Adikku. Mata ibuku mulai berkaca-kaca, lalu adikku menoleh pada Ibuku dengan wajah bingung. Kika seolah mengerti dengan kebingungan itu, mulai bercerita.. "Sebelum Laufa pergi, dia sempat membantu saya menjualkan rumah mertua. Dia titip pesan untuk membelikan kamera ini dan diberikan pada Ade, sisa uangnya diberikan pada Ibu. Bagian dari penjualan rumah. Laufa sudah tidak sakit lagi limfoma sekarang, sudah bahagia di sana..."