Membaca Identitas* Ada yang bertanya mengenai identitasku. Aku jawab sebagaimana mestinya. Ketika ditanya, “darimana?,” aku jawab, “dari mana-mana.." (terkadang aku jawab, “dari Indonesia,” untuk memastikan yang bertanya). Lihat saja dari nama lengkapku, Silvayanti. Aku dilahirkan di Pulau Jawa, Indonesia (tepatnya di Jakarta Selatan). Namaku ada ‘yanti’ (konon katanya karena banyak nama ‘yanti’ ditemukan atau dari Jawa) setelah nama Silva. Nama Silva sendiri yang aku ketahui adalah nama dari negara-negara yang menggunakan bahasa Latin (Amerika Selatan dan beberapa negara di Eropa), dan nama Silva di negara tersebut adalah nama untuk laki-laki [sampai ada yang bilang, “kamu seorang perempuan yang unik dan tomboi”, dan aku menanggapinya dengan tertawa, haha.. :-))]. Sedangkan dalam Ilmu Kehutanan, Silva adalah hutan. Aku tidak percaya seseorang tahu keadaan sebenar-benarnya mengenai dirinya. Orang bisa mengatakan, “kamu dari Minang, kamu dari Bengkulu, kamu terlalu Sumatera, kamu dari Jogja,” atau apa saja. Aku tidak tahu apa itu menjadi orang Indonesia dan apa itu menjadi dari daerah tertentu di Indonesia. Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa daerah, suku, adat istiadat yang berbeda antar daerah, agama/kepercayaan/keyakinan yang berbeda juga. Dan aku, hanya berbicara segelintir bahasa saja dan hanya paham/mengerti segelintir budaya saja. Aku seorang yang berpandangan terbuka dan fleksibel saja. Aku tidak merasa sebagai orang asli Indonesia, atau mengkhususkan diri sebagai asli/dari daerah ini atau itu. Ada hal-hal tertentu yang tidak aku sukai tentang Indonesia dan ada hal-hal tertentu pula yang tidak aku sukai dari dearah ini atau itu. Menurutku, orang yang terlalu mencemaskan identitasnya adalah narsistik, dan egois. Aku meyakini ini karena aku dibesarkan dengan cara yang sangat demokratis dan beragam di lingkungan keluargaku, sehingga aku tak pernah buang waktu untuk berpikir bahwa budaya yang ini lebih baik dari yang itu, ataupun sebaliknya. Aku berasal dari kelas menengah dan hidup dengan kesederhanaan. Ayah dan Ibuku berasal dari keluarga yang sangat sederhana juga. Ketika aku berusia 16 tahun, Ayahku meninggal. Ibuku mengatakan, “Nak, orangtua sering merasa tahu apa yang terbaik untuk anaknya dan mengatur ini dan itu untuk anaknya. Tapi, kalian memiliki kehidupan sendiri di luar rumah dan kalian lebih mengerti bagaimana melakukan yang terbaik untuk diri kalian.” Begitulah Ibuku, seorang janda yang dengan keberaniannya bertahan hidup, menatap kedepan, demi anak-anaknya. Ibu adalah segalanya bagi perjalanan hidupku. Dan, semua bahasa adalah bahasa Ibu. --*Ini dicatat sehabis membaca, dan menemukan ‘kemiripan dalam menjawab identitas’ dari Gayatri Chakravorty Spivak. Jogja, Januari 2010.