Hari itu kami dinyatakan lolos masuk ke 20 besar dan diundang ke Prasmul. Sungguh girang bukan kepalang. Taraaaaa!!!
DUDAK DADAK tidak lain dan tidak bukan adalah nama tim kami. Kata itu berasal dari bahasa Sunda yang kurang lebih artinya serba mendadak. Sungguh, asas-asas deadliner telah mendarah daging dalam diri kami. Ide bisnis kami adalah membangun desa agrowisata untuk mengedukasi masyarakat akan sorgum sebagai bahan pengganti gandum. Presentasinya dapat dilihat di sini. Persiapan untuk presentasi pun kami lakukan dengan cara membagi tugas: menyusun materi presentasi dan video, serta urusan akomodasi dan transportasi. Sayangnya, hanya berdua dari kami yang bisa berangkat karena Bundo harus pergi ke Sumedang. Tak apa, kami berjanji untuk membuat Bundo bisa menyusul kami di presentasi final. Acaranya sendiri akan berangsung selama tiga hari yang terdiri atas business coaching & technical meeting, rocket pitch, dan final presentation. Untuk menghemat dana, di rencana awal kami sempat berniat untuk pergi menggunakan kereta ekonomi dan menginap di restauran 24-jam. Syukurlah, rencana tersebut tidak diperkenankan oleh Allah karena ternyata banyak hal luar biasa menunggu kami disana.
Menggunakan travel yang berangkat jam tujuh pagi dari Bandung, kami akhirnya tiba di BSD empat jam kemudian. Perjalanan pun masih harus kami tempuh untuk mencapai kosan yang telah kami pesan. Sesampainya di sana, kami langsung berkenalan dengan peserta BPC (Business Plan Competition) yang lain yang bernama Alivia dari ITS. Salam kenal! Kemudian, kami pun dijemput oleh panitia untuk menuju ke kampus Prasmul. Bukan main, kampusnya yang megah luar biasa membuat kami tercengang. Business coaching diadakan di ruang auditorium dengan pembicaranya yang datang dari Fenox, sebuah perusahaan venture capital. Materi yang dibawakan sangat menarik karena mencakup ilmu untuk mencari pembiayaan bagi perusahaan terutama yang masih start-up.
Lewat pengundian, kami mendapatkan nomor urut 16 atau sekitar jam 14.15. Lalu, kami bergabung dengan tim Jawa Painting (urutan 15) dengan LO yang bertanggungjawab atas kami. Hari itu juga, semua tim diharuskan untuk mengumpulkan file presetasi yang akan digunakan baik untuk rocket pitch maupun final presentation. Tapi, karena tiba-tiba ada gangguan virus dari flashdisk seorang peserta, maka peserta diwajibkan mengirimkan file tersebut via email paling lambat pukul 19.00. Penalti akan diberikan jika melewati batas waktu tersebut. Sial benar, entah mengapa koneksi internet di seantero daerah itu benar-benar lambat. Padahal, file yang harus kami upload adalah .pez yang cukup besar ukurannya sampai-sampai melebihi kapasitas maksimal file attachment yaitu 25 MB. Kami benar-benar harus memutar otak. Tidak mau putus asa, kami mencari wifi spot yang paling kuat (ternyata di garasi kosan). Kami juga hilir mudik berpindah dari rumah satu ke rumah lainnya sampai-sampai membuat peserta lain keheranan. Di sela-sela ke-hectic-an itu, beruntung sekali ada Uta (tim Gurukampus.com) yang sering kali melontarkan guyonannya yang super gila itu.
Jam telah menunjukkan pukul 18.20 dan kami masih belum berhasil meng-upload. Panik makin menjadi setelah Feli, LO kami memberitahu bahwa hanya file jenis .ppt yang diperbolehkan untuk digunakan saat presentasi. Tidak bisa terima, kami menyodorkan screencapture yang berisikan permohonan kami untuk menggunakan prezi kepada panitia. Hal itulah yang ingin kami perjuangkan. Sebentar kemudian, Feli datang ke kosan dengan terburu-buru. Saat itu, kami sedang menuliskan email yang berisikan username dan password dropbox. Harapannya, file tersebut dapat segera terungah sebelum panitia sempat membukanya. Kami terus berpacu dengan waktu. Sebagai upaya terakhr, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke kosan yang memiliki koneksi wifi lebih andal. Penantian panjang itu akhirnya berakhir juga setelah kurang lebih tiga jam proses pengunggahan. Perut yang keroncongan dan dinginnya malam itu terkalahkan dengan rasa lega dan haru yang luar biasa.
Perjuangan kami belum berakhir sampai di situ. Narasi untuk rocket pitch selama lima menit belum juga rampung. Aku ingin tidur dulu mengumpulkan energi sedangkan Tere akan mengedit video untuk prototipe. Sekitar tiga jam kemudian aku bangun dan melihat Tere telah menyelesaikan videonya. Dengan mata yang masih berat, kami menyusun sedikit demi sedikit narasi mulai dari bagian latar belakang, model bisnis, analisis kelayakan investasi, dan konklusi. Begitu banyak yang harus dijelaskan namun waktu kami hanya lima menit saja. Banyak revisi yang hars kami lakukan walupun hanya membuang satu kata dalam satu kalimat. Setelah subuh, giliran Tere yang pergi tidur. Aku akan membaca buku karangan Pak Joksis yang membahas tentang bagaimana cara mempresentasikan business plan untuk menarik para investor. Satu hal yang harus digarisbawahi adalah kontak mata. Dengan tetap menjaga kontak mata, calon investor akan merasa diyakinkan bahwa bisnis tersebut memiliki nilai yang lebih.
Sesuai dengan yang telah dijanjikan, Feli menjemput kami pukul delapan pagi. Kami telah berhias rapi dengan menggunakan blazer kami masing-masing. Untuk prototipe, tim Jawa Painting membawa bentukan lukisan yang cukup memakan tempat sehingga akhirnya Feli harus menjemput kami secara bolak-balik. Seremoni pembukaan acara hari itu berlangsung meriah disertai dengan penabuhan gong yang cukup ricuh oleh Ketua Yayasan Prasmul. Setelahnya, semua peserta digiring menuju ke sebuah ruangan untuk menunggu giliran presentasi. Karena masih kurang persiapan, kami memutuskan untuk mencari tempat lain untuk melakukan rehearsal. Tiba-tiba menjelang waktu dzuhur ada seorang peserta yang mendatangi kami dan menanyakan kenapa kami tidak bergabung di meja sebelah sana? Karena diliputi rasa bersalah menjadi ansos di antara peserta yang lain akhirnya setelah santap siang kami memutuskan untuk mingle dengan peserta lain. Barulah kami tahu bahwa ternyata mayoritas peserta berasal dari ITS. Angkat jempol untuk institusi yang paling rajin mengikuti kompetisi di berbagai bidang ini! Salut!
Pukul satu siang, kami sudah harus standby di ruang tunggu. Keringat dingin sudah mulai mengucur deras, detak jantung juga sudah semakin meliar. Kami (terutama aku) mencoba untuk mengalihkan pikiran dengan mengunyah dan menelan aneka penganan. Di masa-masa yang menegangkan itu mataku tertuju pada rambut klimis Steven (panitia yang mengizinkan kami menggunakan Prezi) yang masih rapi jali di sore itu. Kata Tere, rambutnya bisa terjaga seperti itu karena tidak harus mengambil wudlu. Oh, iya juga. Tidak terasa akhirnya tiba giliran tim Jawa Painting untuk presentasi. Hormon adrenalin di tubuh kami semakin tidak karuan dibuatnya. Sepuluh menit kemudian kami akhirnya masuk ke ruangan yang sama. Tiga juri yang kesemuanya adalah pebisnis muda itu telah siap menguji materi kami. Alhamdulillah, kami tidak melebihi waktu lima menit walaupun sempat terbata-bata di beberapa bagian. Sekarang, saatnya lima menit lagi waktu bagi juri untuk melontarkan pertanyaan. Lagi-lagi kami harus banyak bersyukur karena kami mampu menjawab setiap pertanyaan dengan percaya diri, bahkan beberapa di antaranya memang telah kami prediksikan sebelumnya.
Setelah keluar dari ruang presentasi, seluruh badan rasanya menjadi enteng. Beban yang berat rasanya telah diangkat dari pundak kami. Rencananya, pengumuman lima besar finalis akan diumumkan pada pukul 16.00. Itu artinya, masih tersisa waktu sekitar dua jam lagi. Kami pun akhirnya bercengkerama dengan peserta lain membagi cerita apapun baik itu tentang ide bisnis, kehidupan kampus, maupun hal-hal random yang luar biasa. Mereka semua memang jauh lebih muda dibandingkan kami, namun semangat mereka yang menyala-nyala menjadi sumber inspirasi tersendiri yang sungguh memukau. Ah, how to be young again :')
Ngaret dari jadwal, pukul 17.00 kami disuruh kembali menuju auditorium untuk mengetahui hasil penjurian. Ternyata, sebuah amplop berisi secarik kertas pengumuman telah diselipkan di bawah kursi masing-masing peserta. Pada titik ini, asa untuk lolos ke lima besar kembali muncul walaupun kami tidak ingin terlalu berharap. Dimatikannya lampu adalah cue bagi kami semua untuk bersama-sama membuka amplop. Daaaan.... ternyata belum saatnya bagi kami untuk maju ke tahap berikutnya, Pastinya rasa kecewa itu ada, namun bila kami mau berbesar hati sedikit, skor yang kami dapatkan cukup baik apalagi kami berhasil finish di peringkat ke-8. Syukurlah, tim Jawa Painting berhasil mendapatkan nilai yang sangat impresif, 94 dari 100, dan tentu saja berhak lolos ke tahap berikutnya. Sebagai kenang-kenangan kami akhirnya mengambil foto bersama juga dengan Feli. Sangat senang rasanya bisa menjadi bagian dari peserta kompetisi ini. Begitu banyak hal yang bisa kami dapatkan: ilmu yang bermanfaat juga teman-teman dari berbagai universitas di Indonesia yang begitu menginspirasi. We're really looking forward to see you again guys, Let's all meet again someday!