Perihal rindu.
Tidak lagi pada manusia.
Tidak lagi pada hambaNya.
Tidak lagi kepada wanita yang dicintai atau sebaliknya.
Tapi kini.
Rindu ini pada dia: udara.
Udara bersih yang dihirup tiap harinya.
Bukan polusi yang menjadi asap penghias kota.
Sampai kapan harus menahan?
Sampai kapan harus berdiam?
Sampai kapan menghirup udara yang terus mencekam?
Kian hari kian berbahaya.
Kian hari kian menyelimuti kota.
Kian hari kian memburu paru-paru manusia.
Rindu pada udara yang bersih.
Udara yang segar di pagi hari.
Udara yang tidak menyiksa begini.
Bolehkah kami bertemu kembali?
Bolehkah kami menghirupnya lagi?
Mohon, cepatlah berlalu dan pergi.
Biarlah udara sehat yang mendiami.
—isfjy.
Jum'at, 13September, 13.15wib.















