Permasalahan eksploitasi hutan di Sumatra akhir2 ini bikin aku teringat masa2 skripsian. Dulu awal kuliah aku tumbuh sebagai anak mikrobiologi, hari2ku hanya di laboratorium, ruangan dingin, steril dan semuanya terukur.
Tapi sekitar semester lima, aku mulai jatuh cinta dengan ekologi, dan semuanya berubah, aku meninggalkan PDH mikrobiologiku dan beralih menjadi anak ekologi. Ada sesuatu dari cara alam bekerja yang bikin aku pengen belajar lagi dan lagi. Pelan2, kuliah yang dulu terasa berat malah jadi hal yang aku tunggu. Aku semacam ketagihan belajar, karena setiap materinya ngebuka pandangan baru tentang dunia yang sebelumnya nggak pernah bener2 aku lihat.
Belajar tentang konservasi lingkungan bikin mataku kebuka tentang banyak hal: spesies yang terancam, habitat yang terus menyempit, dan masalah2 yang sering luput dari perhatian. Aneh ya, hal yang menyedihkan justru bikin aku makin ingin tahu, bikin aku makin tertarik dan ingin terlibat lebih jauh.
Pada akhirnya, magang di bidang konservasi adalah keputusan impulsif yang justru mengarahkan aku ke tempat yang tepat. Dari sanalah topik skripsiku lahir. Waktu itu aku meneliti satu spesies pohon yang statusnya “endangered”. Ironisnya, aku belum pernah melihat pohon itu secara langsung. Hanya membaca, menganalisis, dan berharap suatu hari aku bisa bertemu dengan spesies itu di habitat aslinya, sebelum ia benar2 punah di alam liar.
Alam ternyata bukan cuma tempat untuk diteliti, tapi juga tempat yang mengembalikan aku pada diriku sendiri.