Tentang Dia #Akhir
Kau yang berada jauh, maafkan jika sementara waktu isi otakku tak melulu kamu. Semesta memahamkanku bahwa aku punya caraku untuk menyusun sebenar-benarnya kekasih seumur hidupku. Soal aku yang hilang, semoga kau menyimpan ingat tentang aku yang tertawanya tak pernah biasa standar sesuai aturan. Ada tugasku disini untuk menyusun pertemuan denganmu, dan ada caramu disana untuk menjemputku disini. Dalam peta yang diajarkan benarnya, agar tak lagi hilang arah. Ada sebab dan juga akibat yang menjerumuskanku pada akhir yang menepikan seluruh mereka yang singgah. Keputusan yang tak mudah, tapi terencanakan semesta. Ada paham yang menggeliati sisi diriku untuk sementara lepaskan seluruhnya, memaksimalkan baktiku pada keluarga, dan menyuapi rindu akan hadirnya kekasih seumur hidupku dengan rentetan tirakat. Dalam peta pemikiranku, ada batas waktu yang Tuhan beri untukku untuk menjejak kaki di bumiNya, dalam waktu terbatas dan sesingkat-singkatnya. Aku hanya ingin membaginya secara adil, bagimu juga bagi keluarga yang nantinya aku tinggalkan. Aku tinggalkan untuk mengabdikan diriku seutuhnya untukmu. Karena aku adalah pengikutmu, nantinya. Karena aku adalah makmum seumur hidupmu, jika Dia berkata iya. Kali ini aku menyederhanakan pintaku padaNya, pinta tanpa mendikte. Menggeneralisasikan dengan memperluas arti pencarian. Aku tidak berhenti. Aku hanya sedang memilih cara untuk sampai pada titik yang sama denganmu. Semoga kaupun begitu. Aku akhirkan segala diriku, pada pasrah yang hanya Dia punya kuasa. Aku tidak sedang ingin bermain antagonis-protagonis denganmu @hujanmimpi. Yang kau ucap dan yang kutelan bulat darimu sudah lebih dari itu. Kaki yang sudah kau ikat, kepala yang sudah kau tampar sedemikian hebat, cukup untuk memenuhi ingat yang aku sanggupi kuotanya. Kesimpulan dari rangkaian pikir panjang antara otakmu dan otakku, tak melulu bersisian, terkadang berseberangan. Kita pelaku, sementara pembaca adalah penikmat. Semoga rekam percakapan kita menjadi bahan ajar bagi segala penikmat cinta. Pada akhirnya bahwa ada cara yang masing-masing manusia pilih untuk memenuhkan segala damba untuk sebentuk keluarga. Pada akhirnya, aku menitipkan seluruhku pada Sang Pemberi Nyawa. Karena ketika ada sikap yang kuambil, ada konsekuensi yang sudah aku siapkan untuk kutelan. Aku terima. Untuk melunasi segala dambaku tentang satu dia di penghujung nantiku. Surabaya, 17 November 2015












