“ Ayo pulang “. Itu kalimat yang sering bapak ucapkan dulu sambil menyeretku pulang ketika aku bermain di luar rumah sepulang sekolah dan lupa waktu hingga magrib tiba. “ Pulanglah nak, tidak apa - apa “. Itu kalimat ibu membujukku, saat aku lari dari rumah, bersembunyi di rumah nenek karena takut pulang ketika bapak tahu aku sering membolos sekolah dulu.
Pulang. Kata ini sangat dalam artinya bagiku, mungkin juga buat kau. Artinya bisa berbeda untuk setiap orang. Tapi maknanya tetap sama. Untuk menunjukkan sebuah kerinduan yang membawa perasaan.
“ Aku ingin pulang ke rumah “, itu kalimat lirih bapak di telingaku saat sakit sesaat sebelum bapak meninggal. Maknanya, bapak sudah rindu untuk pulang ke rumah Nya. “ Kapan pulang? “ Kalimat tanya itu sering keluar dari bibir kekasih, yang aku yakin kau pun sering mendapatkan pertanyaan semacam ini saat kau terpisah jauh darinya. Maknanya sama, merindu.
Seperti yang aku katakan. Pulang adalah tentang rindu.
Ini masalah perasaan yang tak tergantikan. Bukan sekedar tempat kelahiran. Ada rasa yang memanggil untuk kembali saat berjauhan. Tidak seperti kenangan. Yang mungkin tidak kembali. Perasaan ingin pulang akan selalu kembali lagi.
Aku rindu ibu. aku rindu ayah. Aku rindu rumah. Itu alasan bagus untuk pulang. Oh, ayah sudah tidak ada. Ibu pun sudah di surga. Tanah yang pertama kali kau pijak saat kau turun dari gendongan ibu. Itu rindu. Pulanglah. Selalu ada alasan untuk pulang.
Bukan pulang seperti dari bekerja lalu ke rumah. Bukan juga seperti dari luar lalu masuk ke dalam rumah. Pulang yang ini melibatkan perasaan yang sulit untuk diuraikan. Bukan sekedar kebiasaan.
Bisa kau sebut ini seperti panggilan hati yang gembira. Tanpa beban keharusan dan keterpaksaan. Karena melibatkan beratus-ratus kilometer jaraknya. Melawan angin. Melalui deburan ombak. Melompati pulau. Menyelinap di antara awan. Kau harus siap melaluinya dan jangan terlalu serius melalui itu semua, dibawa gembira saja.
Pulang yang ini istimewa. Hanya terjadi di akhir bulan yang juga istimewa. Serempak jutaan orang seperti aku dan kau bergerak menuju arah yang sama, pulang. Akan ada keringat dan letih besar sebagai konsekuensinya. Harus memiliki keberanian untuk berhimpitan dalam satu arus panjang yang macet seperti tidak berkesudahan.
Tidak perlu mengeluh. Untuk apa memaki. Semua kepanasan. Semua kelelahan. Tapi aku tahu di hati semua senang. Karena makna dari pulang akan segera kau dapatkan. Ketika melihat senyum orang – orang yang kau rindukan. Saat semua berkumpul dalam kegembiraan. Semua melepas kerinduan. Ini semua tentang perasaan.
Ayo pulang. Tidak perlu menjadi istimewa dan membawa apa-apa. Bukan harta dan jabatan yang harus kau tunjukkan saat pulang. Itu jangan dibuat penting. Kedatanganmu. Kerinduanmu saja yang kau bawa. Itu cukup. Tidak percaya?tanya saja bapak dan ibu.
Pulanglah. Kau merindukan semua dan semua merindukanmu.
Bandung 4 Juli 2016, Lebaran - Mudik 1437