Kami melewati beberapa blok hutan bakau. Lantas memasuki sebuah gang. Mata saya celingukan mencari petanda. Matahari perlahan tenggelam, Pulau Serangan menjelang malam.
Suara seseorang membacakan Al-Qur’an dari speaker terdengar keras. “Mungkin didepan,” bisik saya pada Hepi. Sore itu kami meneruskan melancong ke Kampung Bugis. Hepi, menjalankan motornya pelan-pelan. “Nah, ini Mesjidnya,” seru saya.
Kami berhenti. Saya turun dari motor, lalu memotret. Hepi, memarkir motor agak menjorok kedalam gang kecil disamping Masjid. Disebrang masjid terpampang dua papan kayu menggantung di sebuah tiang.
OK. Kita tidak salah alamat. Jalanan sepanjang gang Kampung Bugis, sepi. Dua perempuan lewat dengan mengendarai sepeda motor. Di pelataran masjid, terlihat seorang lelaki mengenakan sarung sedang asyik mengobrol dengan seorang lelaki yang berpakaian koko, berpeci.
Saya masih memotret masjid, sambil menimbang-nimbang apakah saya akan masuk ke masjid atau tidak. Hepi menghampiri saya dan bertanya, “Kamu mau masuk?.” Saya diam, “Kamu?” saya balik bertanya. “Saya Budhist.”
Ragu. Sore itu saya bercelana jeans jauh diatas lutut. Saya melanjutkan memotret.
“Maaf Pak, mengganggu sebentar. Mau tanya-tanya tentang Kampung Bugis,” seloroh saya memulai percakapan.
Lelaki itu tersenyum, mempersilakan. Kami duduk bersebelahan, di dipan bambu. Sedang Hepi memilih berdiri disamping saya. Suara seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an dari masjid terdengar lebih keras. Saya memasang pendengaran dengan apik.
Lelaki itu Burhanudin, namanya. “Kampung Bugis ini sudah ada sejak abad ke-17,” tuturnya memulai cerita. “Seiring berkembangnya waktu, Kampung Bugis kini tidak lagi dihuni oleh suku Bugis asli atau keturunan.”
Pulau Serangan seluas sekitar 400 hektar ini, memiliki 6 Banjar 1 Kampung. Mayoritas penduduknya memeluk Hindu. Kampung Bugis, disebut juga Kampung Muslim. Dimana penduduk yang berjumlah + 85KK memeluk Islam.
Gang di Kampung Bugis yang semula sepi, kini terlihat sedikit sibuk. Beberapa orang berdatangan dari mulut gang. Seorang perempuan berdaster merah mengenakan mukena atasan menutupi kepalanya, berlalu dari hadapan saya. Ia berjalan gontai menuju masjid. Lengan kirinya mengapit sarung dan sajadah. Beberapa anak perempuan mengikutinya dari belakang. Mereka memakai mukena atasan.
Pemandangan yang langka. Saya dirasuki kangen kampung halaman, seketika.
Sekali waktu kenikmatan dari melancong adalah berkenalan dengan liyan. Membuka mata dan melihat segala sesuatu yang tak sama: indah. Sore itu saya merasa beruntung telah keluar jauh dari rumah.
“Saya lahir dan besar disini,” tuturnya. Ia membuyarkan lamunan singkat saya. Lekas. Saya melanjutkan obrolan dengan Burhan. “Orang tua saya Bugis asli. Saya menikah dengan orang Bali,” lanjut Burhan . Jemari Burhan, menunjuk pada seseorang disebrang dipan. Terlihat seorang lelaki tua, berambut putih. Berjalan kearah sebuah warung.
“Itu mertua saya,” tunjuknya. “Kini beliau memeluk Islam. Keluarga istri saya banyak yang Hindu. Kami hidup berdampingan. Tidak pernah ada selisih.”
Penduduk Pulau Serangan dikenal sebagai nelayan. Burhanudin, adalah salah seorangnya.
“Saya masih mencari ikan,” tukasnya sambil membenahi letak pecinya. “Dulu, keluarga saya memiliki tanah yang luas,” Burhan melanjutkan kisahnya. “Tapi waktu jaman ‘babe’ Soeharto, kita dipaksa harus menjualnya. Yaa dari pada harus dipenjara,” tutur Burhan. Suaranya menurun, terdengar seperti isyarat.
Saya mengangguk-anggukan kepala. Konon, kata Burhan dan menurut cerita-cerita sana sini, Pulau Serangan akan dibikin Kasino-nya Indonesia. Pulau yang letaknya terpencil dan penuh hutan bakau itu, dirombak habis-habisan.
“Untungnya ‘babe’ [panggilan kode untuk Soeharto] keburu turun jadi batal rencananya. Waktu itu mau reformasi. Kami [penduduk Kampung Bugis], tak rela dengan penjualan tanah paksa itu. Tapi yaa kami bisa apa. Ya berdoa saja supa enggak jadi. Eh, demo besar.”
Perombakan tetap terjadi. Kasino-tinggal cerita. Dari perombakan itu, akses menuju Pulau Serangan lebih mudah. Dibangunnya jembatan yang menghubungkannya dengan jalan By Pass, kini Pulau Serangan bisa ditempuh dengan hitungan menit saja dengan sepeda motor dari Sanur.
Jika dulu harus dengan perahu jukung. Melewati hamparan air tenang danau. Kini tidak lagi. Dengan motor atau mobil pribadi. Tak ada angkutan umum. Memasuki Pulau Serangan cukup dengan membayar tiket sebesar Rp. 1000,- untuk motor. Rp. 2000,- untuk mobil.
Salah satu petanda Kampung Bugis ini adalah masjid. Saya masih asyik mendengarkan cerita Burhan, sedang sore semakin gelap. Suara adzan melengking terdengar dari masjid.
“Masjid ini sudah ada sejak abad ke-17. Salah satu masjid tua di Bali,” tukasnya. “Masjid ini tidak boleh dirombak. Bangunannnya masih utuh, hanya ada perbaikan sedikit. Dinding dibagian pendopo, dilapisi keramik karena waktu lalu terkena gempa. Sedikit roboh.”
Burhan, beranjak dari duduknya. Bersiap menuju masjid untuk berjamaah Maghrib. “Kalau mau lihat, didalam masjid itu model mimbarnya masih kuno. Besar dan menghalangi shaf. Masih seperti dulu,” ia mengakhiri ceritanya.
“Saya shalat dulu ya,” pamit Burhan. Lantas melenggang menuju masjid.
Hepi, menghampiri saya yang masih duduk diatas dipan. “Cukup untuk obrolannya,” tanyanya. Saya mengangguk. “Dicukupkan,” jawab saya.
Kami beranjak. Berjalan menuju parkiran motor di samping masjid. Hari mulai gelap. Jalanan mulai ramai dengan orang-orang yang akan ke masjid.
“Dorong aja dulu ya motornya. Berisik. Enggak enak, takut ganggu,” kata Hepi. Saya mengiyakan. Dan berjalan disamping motor yang bibawa Hepi, tanpa menyalakan mesin. Setelah merasa cukup jauh jarak dengan masjid, diputuskan untuk menyalakan motor. Dan pulang