Kepada Kamu
Maaf sayang, cintaku bukannya musnah namun inilah waktu untuk kita berpisah.
Aku bukannya benci, apalagi dengki. Lebih-lebih kamu adalah orang yang tiap pagi tak pernah absen selalu membuatku tersenyum hingga nampak gigi.
Sayang, cerita kita tak sehangat romansa klasik. Itu benar. Akan tetapi, ijinkan aku berterima kasih atas pautan jemari yang engkau bagi kala tanganku beranjak dingin. Terima kasih pula atas kain rajut yang engkau pinjamkan ketika hembusan angin menusuk tulang.
Sayang, "Aku mencintai kisah kita," ketidak sempurnaan yang ada di dalamnya tetap terasa wajar karena dulu kamulah sempurna dari setiap apa-apa yang kita lakukan.
Sayang, jangan menangis. Jangan pula kamu bersedih jika saat ini hatimu pedih, menyadari bahwa kamu dan aku telah benar-benar selesai. Percayalah, putusan ini tidak pernah mudah bagiku. Mengakhiri cerita ini sama halnya dengan membangun batas tinggi-tinggi di tengah jalan setapak kecil yang kita berdua lalui. Melelahkan. Merugikan. Sebab masing-masing kita sama-sama harus berbalik untuk mencari jalan.
Aku harap kamu paham jika bertahan di saat ini pun tidak akan membahagiakan. Rasamu kian hari kian aku pertanyakan, apakah semakin nyata atau justru bertambah buram di tiap detiknya. Maaf jika aku meragu, namun tanya itu membuat hatiku beku. Hingga pada suatu pagi menjadi kebas, aku tak lagi merasakan denyut yang begitu indah kala namamu disebut. Aku tak lagi ingat, bagaimana rasanya mencintaimu dengan seluruhku.
Maafkan aku, tetapi percayalah, perpisahan tak selalu berakhir menjadi mimpi buruk. Mungkin kita retak, namun belum hancur. Lebih baik berhenti sampai disini, sebelum semuanya jatuh dan menjadi lebur.
justcassowary










