"AAMIIN KU YANG LEBIH DULU"
Bukan hanya sulit untuk memilih kalimat yang tepat untuk memulai sebuah Kalam, rasanya untuk bicara sekedar berbasa-basi dengaku saja, kamu seperti sudah tak seantusias dulu.
Aksara yang kau bilang kini hanya melambangkan luka, nyatanya dari situ lah bermula semua cerita tentang kita, tentang bagaimana aku jatuh hati padamu, atau tentang bagaimana aku menuangkan seluruh perasaanku pada goresan pena yang ku jadikan puisi cinta untukmu.
Aku akui ucapanmu waktu itu memang benar, perjalanan ini tidak akan mudah, bagimu juga bagiku.
Kita yang sama-sama keras kepala selalu saja meributkan sesuatu yang semestinya bisa kita bicarakan baik-baik tanpa perlu menggunakan amarah
Semua pergolakan yang ada pada hubungan kita yang penuh liku ini, kau kira itu adalah penyebab aku menyerah dan melepasmu begitu saja? Kamu salah. nyatanya sikap dan prilakumu lah yang membuatku merasa bahwa selama bersamak, kamu tak pernah merasa bahagia.
Dan jika saja kamu tahu, di saat kita berdebat, satu kali pun, aku tidak pernah berharap dapat menang darimu, aku hanya ingin menjelaskan apa yang selama ini aku rasakan, apa yang membuat aku sakit, dan memberitahumu bahwa sandiwara yang kau lakukan itu menyakitiku.
tapi kenapa sulit sekali rasanya untuk membuatmu mengerti.
Kamu bukanlah puisi- puisiku yang patah, karena bagiku kamu adalah sebuah bentuk cinta paling indah.
Namun sayangnya aku tak pernah bisa mengatakan pada semua orang di dunia bahwa aku adalah pasanganmu, dan itu sebab kenapa puisiku selalu berisi tentang kesedihanku.
Aku tak pernah pergi, aku masih ada dan masih saja menyayangimu dengan kadar yang sama seperti saat hubungan kita bermula.
Bukan hanya kamu yang memilih nerawat rindu di tepi sunyi, aku pun masih tetap setia memeluk hati yang di rundung duka setelah aku melepasmu tempo hari.
Menangisimu setiap hari, dan selalu saja memelihara kenangan tentangmu yang membuat keadaan ini terasa makin pedih.
Aku tetap mencintaimu dalam keterasingan yang begitu kelam, dalam gelap yang selalu hadir setiap malam.
Hingga aku bersekutu dengan seseorang di kelapa gading itu, hingga hampir setiap saat aku selalu bercerita padanya tentang seberapa hancur dan menyedihkannya keadaanku sekarang.
Aku tetap mencintaimu, dan masih akan tetap mencintaimu... meski mungkin kini kamu mulai berfikir untuk menitipkan hatimu pada sosok baru, meski kini sudah tak ada satu pun jalan bagiku untuk bisa menujumu. Tak sedetikpun namamu hilang dari ingatanku.
Kau bilang sekarang kau sadar...
Aamiin kita ternyata telah berbeda
Tak lagi ada senandung doa lirih dariku yang menyebut nama mu,
Kau mengira bahwa sudah ada yang lebih pantas aku sebut dalam doaku, sembari aku merayu pada Tuhan agar mendekatkan ia padaku.
Hei wanita dengan ego tinggi, dan kepala sekeras batu.
Bahkan sampai detik ini tak pernah ada doaku yang tak berisikan tentangmu.
Tentang bagaimana aku memaksa tuhan untuk bisa merubah takdir buruk yang selalu kau katakan padaku.
Tentang bagaimana aku meminta padanya untuk terus menghujani mu dengan kebahagiaan meski tidak bersamaku.
Bukan kamu yang melepaskan ku, tapi aku yang melepaskanmu. sebab aku tak ingin jadi penyebab memburuknya keadaanmu, dan aku tak ingin kau terus bersedih atas kisah kita yang penuh lara ini.
Sekarang bermainlah sebebas mungkin dan berbahagialah.
Aamiin mu yang paling serius, yang telah kau tutup dengan ikhlas yang paling tulus itu, akan ber iringan dengan Aamiinku yang lebih dulu ku langitkan agar tuhan tahu bahwa aku terlalu mencintai ciptaanya itu sampai-sampai aku rela menyakiti diriku demi bisa mewujudkan kebahagiaan untukmu.