Dalam sesal yang melahap hari
Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri?
Menemui luka yang bahkan tak bisa dirawat
Untuk duduk meniupnya pun bahkan tak sempat
Waktu ?
Tentu saja ia tertawa terbahak
Aku tersungkur menatapnya dengan mata membelalak

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from China

seen from South Africa
seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Sri Lanka

seen from Germany

seen from Australia

seen from Russia
seen from United States
seen from Sweden
seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
Dalam sesal yang melahap hari
Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri?
Menemui luka yang bahkan tak bisa dirawat
Untuk duduk meniupnya pun bahkan tak sempat
Waktu ?
Tentu saja ia tertawa terbahak
Aku tersungkur menatapnya dengan mata membelalak
Jangan dipetik, biarkan ia tumbuh dengan sempurna
Jangan kau usik jika tak mampu merawatnya
Jangan kau sentuh jika tak mau menanggung akibatnya
Bunga itu terlalu rapuh untuk sekadar menatapnya
Betapa kau tahu, tersimpan banyak luka dibalik kelopak cantiknya
Cukup angin yang setia membelainya tanpa menyakitinya
-arvsee
AKU ADALAH HUTAN BELANTARA
.
Aku adalah hutan belantara
Yang membuatmu kehilangan arah
Tersesat dalam kepungan karbondioksida
Membuatmu sesak dan menyerah
Aku adalah hutan belantara
Yang sebentar teduh sebentar penuh amarah
Dikelilingi damar dan liana
Yang menolak gugur dan tandus sebelum waktunya
Aku adalah hutan belantara
Yang mengecup penghuniku untuk tinggal lebih lama
Serupa kawanan ular melilit mangsa
tanpa bisa lepas tanpa tersiksa
Aku adalah hutan belantara
Dengan jutaan satwa hidup dalam darah
Mengalir akar akar yang mengikat jiwa
air, batu, lumut, angin dan cahaya
Adalah nafasku yang membuatmu mengkerut
Dawuh lalu urung dan kabur bersama kabut
Aku adalah hutan belantara
Tidak boleh ada yang menepi
Mendirikan tenda dengan api
Karna semua yang tinggal tak kuizinkan lagi pergi..
~ Isla 🌸
in order to vomit
corrosive piss
thrown around to activists.
living with a divine flesh is bliss— isn't it?
impunity built up your bones and fists.
militarian angels covered in humans' blood,
holy water can’t wash it off, even sevenfold.
gnashing after rotten pig heads with maggots,
in order to vomit, you have to get slaughtered.
under the blade, over the folks,
if mouth won't do more,
if our limp faces cut underground,
the empty hands will have to speak.
malam ini tak terbendung karena aku telah merasa penuh dan aku ingin kau tahu.
Perlahan-lahan aku bisa memeluk rasa yang begitu indah, kangen.
@itsalwaysgal yang tak lagi menuntut apa-apa, hanya ingin merayakan kedalaman, sampai tuntas.
Aku takkan menjadi lilin yang menanti api.
Aku takkan menjadi sungai yang menunggu hulu.
Tak apa jika kau memilih menjadi batu dingin.
Aku akan jadi sungai yang terus mengalir.
Kau berhak untuk acuh...
~Dunia tak butuh izinmu untuk berputar,
~Dan Aku janji akan baik baik saja
Jogja, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan, sebuah puisi manis dari Joko Pinurbo. Awal juli tahun ini aku mengajak anak kecil di dalam diriku ke kota itu. Lihat bagaimana ia kuberi bahagia yang entah kapan terakhir ia rasakan.
Kuberi apa yang ia inginkan, bukan mengikuti keinginan seseorang. Pergi ke Museum, memotret bunga yang sedang bermekaran, memakan cake juga ice cream coklat, membaca buku di atas rumput hijau, dan berbicara dengan kucing jalanan. Kubelai rambutnya seraya berkata,
“Kamu akan tumbuh indah dengan hati yang cantik”
ia tersenyum dan memeluk erat diriku sebagai ungkapan terima kasihnya 🤍.
Maaf Bu..
Semakin Tua, Semua semakin berat.. Aku jadi merasakan apa yang dulu sering Kau tangisi waktu itu Maaf Bu, jika ternyata anak perempuanmu ini masih menangis di atas tanahmu yang kering dan mengeluhkan segala hal. Nyatanya, hidup tanpamu jauh lebih berat Bu. Doakan Aku bu..
Salam dari Anak perempuanmu