Wa’alaykumussalam mbak antik. Salam kenal juga dari nai. Hehehe.
Saya coba jawab via postingan seperti ini ndakpapa, ya, mbak @antik1. Soalnya ada beberapa pertanyaan sejenis yang masuk di conversation saya. Sekalian sharing sama temen-temen disini sih, siapa tahu kepakek. Terus, maafkan diri ini karena baru jawab karena banyak dan lain hal. Huhuhu.
Saya membagi menjadi empat bagian:
1. Ziyadah (menambah hafalan)
Untuk ziyadah, saya biasa melakukannya ketika tahajjud, mepet waktu mau sholat subuh atau setelah subuh. Nah, dipesantren saya itu setorannya kan habis maghrib. Karena antri banyak bahkan sampe isya dan saya suka maju paling akhir, saya gunakan untuk melancarkan yang saya hafal tadi pagi itu. kalau lagi semangat penuh dengan ambisi, biasanya selembar cukup. Kalau lagi wegah dan fakir spirit, dapatnya satu halaman. Nah, Kalau pagi saya nggak sempet nabung hafalan, biasanya pas mau maju baru kethetheran (ada yang nyebutnya kelabakan) bikin hafalan wakakak. Yaaah, yang penting tuh maju, perkara besok disuruh ngulang ya dilakoni sajah. Istiqomah is number one instead.
Untuk murojaah bilghoib, ini dilakukan dengan tanpa melihat mushaf. Juz-juz yang bener-bener lancar dan superngelotok tok tok. Biasanya sehari saya mertarget rata-rata 1-2 juz untuk dua kali duduk. Satu juz di waktu dhuha. Satu juz diwaktu mau tidur. Untuk jenis bacaan tanwil—tidak tartil (pelan) ataupun hadr (cepat)—biasanya memakan waktu sekitar 30 menit perjuz. Jadi sehari semalam memakan waktu satu jam. Hm.
3. Murojaah bilghoib jadid (yang belum lancar/hafalan baru)
Untuk murojaah bilghoib jadid, saya lakukan khusus untuk juz-juz yang sudah hafal tapi tidak lancar. Yang minta diperlakukan spesial, gitu. Macam doi pffft. Targetnya sehari 2 lembar, seminggu satu juz. Misalnya ambil juz 15. Hari senin melancarkan 2 lembar juz 15, nanti hari selasa 2 lembar berikutnya lagi juz 15, lalu hari rabunya 1 lembar juz 15 kemudian tiga hari diringkes menjadi setengah juz pertama juz 15. Nanti hari kamis jumat sabtu, itu buat setengah juz kedua dari juz 15. Lalu hari ahadnya satu juz penuh. Jadi satu juz sepekan. Kalau misalkan satu juz itu belum lancar, berarti ya ulang lagi di minggu berikutnya. Waktunya abis sholat sekitar 10 menitan sama waktu-waktu kosong. Ingat, untuk qur’an kita itu meluangkan waktu, bukan mencari waktu luang.
4. Binnadzor (tilawah/nderes baca biasa)
Untuk binnadzor, ini dilakukan dengan membaca biasa. Tilawah biasa dengan melihat mushaf. Tujuannya ya buat biar lancar saja dalam menghafal (saya sudah pernah posting tentang pentingnya tilawah dalam menghafal Qur’an). Biar mulutnya tuh terbiasa gitu. Jadi kalau menghafal nggak asing lagi dan nggak kagok. Targetnya sebulan khatam. Waktunya sih sesempetnya. Lowong, baca (kalau lagi ndak males). Yang penting jangan kurang dari sejuz sehari. Lebih ya malah baik. Ini kalau mentarget sebulan khatam loh, ya.
Saya menjelaskan memakai kadar “juz” diatas itu hanya contoh. Jangan pikir itutu saya sudah konsisten melakukan. Wong saya ini juga masih tertatih-tatih menerapkan.
Bisa tuh dibikin ziyadah sehari satu ayat waktu subuh, nderes murojaah bilghoib sehari 2 lembar, nderes murojaah bilghoib jadid sehari 1 kaca, terus tilawahnya sehari 2 lembar, misal. Nggak ngabisin berjam-jam kok. Itu sebentaran doang. Pokoknya sesuain saja sama jumlah hafalan kita.
Intinya kalau ziyadah atau menambah menghafal itu di waktu pagi ketika sebelum atau sesudah subuh, nderes itu waktu dhuha dan mau tidur. Tilawah dan ngelancarin hafalan itu waktu-waktu abis sholat sama waktu iseng dan kosong. YaaAllah apa ini bahasanya pake iseng. Hahaha.
Sejujurnya biar lebih mudah untuk memanajemen hafalan dan nderes itu cara efektif adalah satu: baca saja. Dibaca saja setiap hari. Nanti menjadi kebiasaan sendiri deh. Kalau mau maju baru dilancarin yang mau dimajuin itu. Seinget saya, kayaknya saya sudah pernah menjelaskan yang ini di postingan dulu-dulu. Jadi, hafalan dilihat dari dua sudut. Sudut kuantitatif dan sudut kualitatif. Dilihat dari sudut kualitatif itu kalau yang mau dimajuin itu diutamakan kualitatifnya, kualitasnya. Nah, untuk nderes sendiri, itu dilihat kuantitatifnya, dilihat banyaknya. Gitu aja sih. Simpel. heuheu.
Semoga tetap terjaga niatnya, ya, untuk semua-mua yang menghafal Qur’an. Jalan menuju surga itu banyak. Menjadi ilmuwan, menjadi dokter ahli, menjadi ulama. Banyaaak sekali. Dan termasuk salah satu keberuntungan, kita memilih jalan menghafal Qur’an.
Bismillah. Niat ngaji istiqomah. Murojaah nganti lanyah.