★ Second Robron Awards [1/3]

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from China
seen from Yemen

seen from Philippines
seen from United States

seen from Canada
seen from Philippines
seen from Italy

seen from United States
seen from France
seen from Türkiye

seen from Egypt
seen from China

seen from France

seen from Italy

seen from United States
seen from China
★ Second Robron Awards [1/3]
Bund, Dinda Baik.
Satu panggilan video tidak terjawab.
Aku bergumam, “Nggak biasanya bunda telepon.” Kemudian aku bersegera mengirimkan pesan, meminta maaf tidak mengangkat telepon berikut alasannya dan bertanya ada apa?
Bunda balas dengan senyuman yang aku yakini jika sebenarnya lebih indah dari emot icon yang dikirimnya. Beliau membahas banyak hal, menanyakan kegiatanku selama liburan, dan sedikit bercerita tentangmu. Aku berusaha menjawab dengan santun dan mencoba meyakinkan kalau kau dalam keadaaan baik. Ah, tapi sepertinya beliau terlalu merindukanmu. Meski dalam percakapan, beliau terlihat tidak mengapa terpisah denganmu. Beliau terus mendoakanmu dengan tulus. Aku pun mengamininya.
Ada apa denganmu? Aku bertanya kepada kawanmu, yang ku ketahui baru-baru ini menghubungimu. Dia menyarankan aku menanyakan langsung kepadamu.
Aku beranikan diri menulis pesan untukmu. Menyusun kalimat seperti aku yang ingin mengetahui kabarmu, bukan karena kekhawatiran Bunda terhadapmu.
Mengetik kemudian aku hapus kembali, aku tak ingin melukai. Sebab aku mengerti caramu berkabar kepada Bunda tidak sama sepertiku. Kamu memiliki cara sendiri untuk membahagiakan beliau.
Mengetik kemudian aku hapus kembali, aku tak ingin menggurui. Bukankah kau juga sudah semakin dewasa? Akhirnya aku menemukan kalimat yang menurutku tidak bermasalah jika aku kirimkan kepadamu, “Dinda, orang yang sibuk, huu.”
Ah, benar saja, kau akan membalas pesanku dengan sebuah penjelasan tanpa aku minta. Sepertinya kau membaca kalimat tanya yang tidak aku lontarkan. “Punten, Ra. Dinda, liburan malah sakit, kemarin kehujanan. Tapi sudah ke dokter, kok hehe.” Dan untuk jawaban yang demikian aku hanya bisa membalas “Syukurlah, besok nggak usah hujan-hujan lagi.”
Setelah memastikan kau baik, aku pun segera berkabar kepada beliau, “Bund, Dinda baik-baik. :) ”
Aku belajar dari Bunda, ditengah rasa khawatir dan rindu, beliau tak pernah mengaduh ataupun mengeluh. Beliau malah mendoakan banyak-banyak untuk kebaikan putra-putrinya. Meski kadang kita lupa berkabar, entah bagaimana bunda selalu tepat menerka dan merasa perihal keadaan kita.
Aku belajar darimu, menyembunyikan kabar tidak dari Bunda. Atau lebih tepatnya kau ingin selalu jujur pada Bunda, mengabarkan keadaan yang baik saat kau benar-benar baik. Ah, atau mungkin kau takut bunda khawatir. Entahlah.
Bunda, dinda, terimakasih atas kesempatan mengenal kalian. Setelah ini, Ra ingin segera berkabar kepada ibu.
Robron awards 2017
➡ Best wordless scene
Robron awards 2017
➡ Sexiest scene
Robron awards 2017
➡ Best family moment
Robron awards 2017
➡ Best kiss
Robron awards 2017
Robron awards 2017
➡ Most heartbreaking scene