Saya pernah merasa butuh untuk mogok kuliah ketika merasa tak puas atas jawaban standar dari pertanyaan fundamental. Mengapa saya harus kuliah? Siapa yang butuh saya sarjana? Saya sarjana untuk siapa? Saya jengah dengan jawaban yang diiringi dengan nafsu―keinginan― karena kan, nafsu manusia itu ngga ada habisnya, jadi pertanyaan saya ngga akan pernah bertemu titik dong. Setiap jawaban akan berakhir koma tergantung bagaimana posisi seseorang saat menjawab pertanyaan itu.
Biar dapet kerjaan bagus. Makin tinggi derajat pendidikan makin bagus kerjaannya.
Yakin? Coba lihat Bu Susi. Beliau aja ngga pernah sarjana sekarang jadi menteri lho.
Biar nyenengin orang tua.
Why? Lebih penting berguna ngga sih, daripada seneng. Mending jadi hafiz Qur’an coba. Bisa jadi jembatan ortu buat ke surga. Bukannya kesenengan yang itu lebih hakiki?
Biar bisa bangun negara lewat ilmu.
Ah, nonsense. Tuh banyak orang pinter, tapi yang korup juga banyak. Beban negara kan.
Buat diri gue sendiri lah, biar ningkatin martabat gue.
Manusia bertitel maksudnya? Trus kenapa? Emang kalo ada pengemis di pinggir jalan, ketemu sopir angkot, lo bakal diapain? Dihormatin? Boro-boro peduli amat meskipun gelar lo professor pun.
Biar jadi manusia yang bermanfaat.
Bermanfaat gimana ya maksudnya? Tukang sampah juga bermanfaat banget lho. Kalo ngga ada beliau, kompleks perumahan lo jadi TPA karena ga ada yang ngurusih sampah.
Lha pola pikir mah ngga pake sekolah asal ga males mikir aja juga bisa. Einstein aja ga sekolah bisa kok mikir sampe segitunya. Ini banyak orang yang sekolah, tapi ngga seterkenal doi.
Too many sarjana live in this land, tapi toh sarjana-sarjana ini bukan bagian dari solusi. Dulu, sarjana ngga banyak, tapi bisa bikin Indonesia merdeka. Sekarang, sarjana banyak banget, tapi malah makin banyak penganggurannya.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk nyinyir. Tapi ini adalah bagian dari isi kepala saya ketika saya mulai bertanya-tanya terhadap diri sendiri dan menjawabnya dengan diri sendiri pula. Tidak pernah ada kata sepakat antara pertanyaan dan jawaban. Saya menciptakan konflik di dalam diri. Saya mengalami penolakan dari diri sendiri, atas apa yang saya perbuat. Tapi dari situlah saya belajar memaknai diri. Dari pertanyaan sepele, tapi sekelas professor pun mungkin tidak akan memuaskan jawabanmu. Pertanyaan professor, anggap Teh Vilda.
Pernahkan kamu berada dalam titik ini? Saat kamu mulai mempertanyakan diri kamu sendiri, berusaha menemukan kesalahan tapi menemukan kebenarannya pun sangat sulit. Jika iya, ah voila! Maka selamat menikmati rasanya menyelami diri sendiri. Kau tahu, jawaban apapun yang tak kau temukan di buku textbook yang sedang kau pelajari saat ini hanya akan bermuara pada satu hal. Siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.
Jika belum, maka saatnya bertanya-tanya!
(Pikiran) Jakarta, 15 Ramadhan 1438 H