Pengalaman Pertama Memfasilitasi
Karena kegabutan hari Rabu ini, aku jadi pengen nulis beberapa hal lucu yang terjadi minggu lalu. Kata ‘lucu’ sekarang gatau kenapa makna nya jadi luas banget. Yah artikan sendiri lah, yaaa kira-kira konteks lucu disini bagaimana, heee.
Jumat kemarin aku kedapetan kesempatan pertama kali memfasilitasi sebuah games/simulasi. Disini ada mata kuliah yang sering disebut sebagai TPM (re: Teknik dan Prosedur Memfasilitasi). Nah, dalam mata kuliah ini, mahasiswa dibagi perkelompok kecil yang terdiri dari lima orang. Masing-masing kelompok ini harus merancang sebuah games atau simulasi yang didalamnya bisa menanamkan nilai atau kompetensi tertentu buat pesertanya. Nilai atau kompetensi itu misalnya: kerjasama, leadership, active listening, problem solving dan lain sebagainya. Kelompok kecil aku kedapetan Group Trust.
Kami yang rata-rata tidak punya pengalaman memfasilitasi yaa sontak rada nervous menjelang hari H. Meskipun rancangan games, aturan, udah diperjelas. Dan roleplay juga udah dilakuin. Tetep aja ada kekhawatiran kalo buat diri aku pribadi, wkwk.
Mungkin kalo di konteks lain, ‘memfasilitasi’ disini sebenernya udah pernah secara gak sadar dilakuin. Kayak misalnya, mimpin rapat divisi danus KPAR yang engga pernah full team (HAHA), atau mimpin rapat pleno psyferia yang tiba-tiba. Tapi tetep aja, memfasilitasi di mata kuliah ini teh asa lebih berat T_T
Karena mindset yang begitu, aku jadi bawa aura nervous ke kelompok. Baru sadar waktu salah seorang temen bilang, “Jangan menularkan aura-mu ke yang lain Yen” <- mampus...udah tau emosi menular, masih juga bikin yg lain ikutan grogi. Wkwk
Nah dalam mata kuliah ini, satu angkatan dibagi ke empat kelas gitu. Jadi akan ada empat games/simulasi setiap minggunya. Nah, entah kenapa, yang paling menyedihkan adalah orang-orang tertarik ke games/simulasi kelompok lain. Salah satu diantaranya (yang berkewajiban ikutan simulasi di kelompok kita) bahkan bilang: “Guys ini butuh banyak orang gaa? Gue pindah yaa ke kelompok sebelah, mau main permainan mereka nih. Gapapa yaa?” ((MENURUT NGANA KITA HARUS JAWAB APA SELAIN ‘MMM...GIMANA YAA, GAPAPA DEH’))
Yaudah, akhirnya yang tadinya simulasi ini harusnya diikuti oleh 24 orang, tinggal sisa 18 orang. Akibatnya salah dua orang dari kita harus mengalah untuk jadi fasilitatornya berdua (gak seperti yang direncanakan sebelumnya, yaitu setiap orang kebagian jadi fasilitator sendiri-sendiri). Hilanglah kesempatan belajar kita.. Yaudah...gapapa, sebagai fasilitator harus fleksibel, ceunah.
Games/simulasi di kelompok kecil aku overall berjalan lancar (kalo terlihat oleh aku). Meskipun dua orang diantara enam orang yang ikut di kelompok aku gak bisa menunjukan si group trust ini tapi yasudahlah... Aku mikir, ini masalahnya bukan simply di rasa percaya mereka ke temen-temen sekelompok mereka tapi lebih dari itu (yang gak enak kalo aku tulis disini, hehe).
Nah, sepanjang permainan sebenernya aku kesusahan banget buat bikin mereka jadi bener-bener melakukan sesuai intruksi games. Aku sampe berhentiin dan memberikan contoh yang benar. Tapi tetep aja, yang gini-gini dianggap gak baik.
“Harusnya ada ini.... Harusnya ada ini.... Harusnya ada ini....” masukan para observer dan temen-temen yang lain.
Bener emang. Kita jadi ter-insight banyak banget. Dari mulai simulasi kita yang dirasakan terlalu berat, terlalu berbahaya, ada beberapa bagian yang gaje, terlalu singkat, dan lain sebagainya. Sampe di bagian debrief dari fasilitatornya.
Kita dikritik kurang probing, tidak mendengarkan jawaban dari peserta, cenderung mengabaikan beberapa pendapat dsb.
Sampe tiba di kritik kepada aku secara pribadi, “Kesalahan terbesar yeni adalah....tidak mencatat. Sehingga melewatkan kejadian-kejadian penting yang bisa ditarik” “Kurang bisa menyatukan satu pendapat dengan pendapat yang lain” “Probing tidak mendalam, seharusnya bisa menarik banyak hal” “----dll” sisanya lupa padahal banyak.
Terus mau ngasih pembelaan, tapi gatau kenapa udah down duluan. Lemah banget yaak!
Jadi sepanjang malem dari hasil pertemuan mata kuliah itu, aku mikir banyak hal.
Pertama, berat yaa hidup disini (fakultas psikologi, agak berlebihan tapi yaa gitu yang aku rasakan). Ada semacam beban yaitu harus memberikan yang terbaik buat orang lain. Kalo engga terbaik atau misalnya seadanya, akan selalu ada kritik yang siap-siap diterima. Akan selalu ada masukan (yang sebenarnya membangun, dan gapapa banget ada). Akan ada juga kata-kata yang mungkin sebenernya biasa aja, tapi dimasukan ke hati sebagai ‘kata-kata pedas’ akibat kontrol emosi yang kurang (re: baper, wkwk). Akan ada kekecewaan dari diri sendiri terhadap diri sendiri juga (INISIH YANG PALING BERAT).
Kedua, gak semua orang setuju dengan etika menegur sebaiknya dibelakang forum. Karena kalo disini, ‘menegur’ justru terkesan lebih baik di depan orang banyak. Karena bisa jadi, hal yang diluruskan dari teguran itu adalah pembelajaran bagi orang lain. Somehow, aku setuju dua-duanya. Menegur di belakang forum dan menegur di depan forum. Tapi sebagai subjek yang menjadi korban untuk ‘ditegur’, aku rada gak kuat membiarkan orang banyak melihatku ditegur. Aku mempersepsikannya sebagai proses ‘menelanjangi’ di depan orang banyak. Dan itu gak enak. Banget. Heee. ((Tuh kan, ketahuan lemahnya-_-)). Tapi kalo di belakang forum sih, aku nerimo ae. Cacian juga aku siap kok (serius).
Terus karena kebanyakan mikir ini dan itu, aku memutuskan cepat pergi dari kampus. Ke kostan, bobo dan nonton drama. Malam itu, aku gabisa tidur juga. Dan mata tetep mengarah ke laptop. Nonton signal, ada gitu sekitar 4 episode. Sedih mampus gitu ceritanya. Dalam salah satu episode diceritakan tentang kerangka mayat seorang detektif yang lima belas tahun dicari-cari akhirnya ketemu, lalu dimakamkan oleh Ayahnya. Karena detektif itu dituduh korupsi dan menerima uang yang jumlahnya amat banyak, Ia akhirnya dikenal sebagai koruptor yang hilang. Dan saat proses pemakaman gak ada sama sekali pelayat. Sama sekali.
Itu stimulusnya yaah, tapi aku nangisnya selama hampir setengah jam. Antara kecampur dengan kejadian hari itu, kekecewaan sama diri sendiri, dan cerita signal yang mengharukan banget. Jam 02.30 tengah malam baru aku berhenti, karena takut ada apa-apa. (APA COBA?).
Aku akhirnya matiin laptop dan tidur. Meski butuh perjuangan juga tidurnya. Sejam kali yaa guling ke kanan, guling ke kiri. Heee
Dan paginya saat bangun tidur, mandi, bebersih kamar, buka pintu, ambil sapu, ketemu Dita (adik tingkat di kostan). Dita sambil menatap mata aku bilang: “Teteh abis nangis yaa?”
Aku diem sejenak karena emang belum sempet ngaca. “Bengkak banget yaa?”
“Iya teh. Beneran nangis teh?”
“Hmmm..ada deh hehehe.” Apa banget yak sok misterius jawab gitu. :::”
Nah begitu lah cerita lucu yang sebenernya gak layak diungkapkan pake kata ‘lucu’. Mungkin aku harus cari kosakata lain yang lebih tepat yaaa. Biasa. Aku kesulitan menerjemahkan perasaan apa yang sedang aku rasakan, heee. Butuh bantuan ke TPBK, tapi kakaknya rada gak tanggung jawab. Aku udah di tes pake rentetan tes panjang dan melelahkan, dijanjikan hasil dan intervensi. Gak taunya engga di follow up lagi sama sekali. ((Jadi curhat yang lain))
Yasudahlah, tulisan ini jika dilanjutkan akan semakin kemana-mana-_-.
Semangat Yak, Kita Semua!