Duka tidak akan pernah selesai. Sampai di titik ini saya semakin yakin rasa duka memang tidak memiliki ujung. Tentu saja waktu yang berlalu lambat laun menyembuhkan luka yang disebabkan, membantu kita kembali menata kehidupan dan beradaptasi pada sebuah perubahan besar. Tapi duka tetap di sana, ia menempati ruang kecil sisi gelap saya. Sejak kepergian Papa, pandangan saya tentang kematian tidak pernah sama. Sebelumnya, setiap mendengar kabar duka, saya akan bersimpati secukupnya, menyisihkan waktu beberapa menit untuk mendoakan yang berpulang ke sisi-Nya, tanpa menyalin dan menempel kalimat belasungkawa di grup Whatsapp. Dua tahun lebih sejak Papa meninggal, setiap mendengar kabar duka dari siapapun, entah kenal atau tidak, diam-diam saya sering ikut menangis membayangkan perasaan semua keluarga dekat yang ditinggalkan, sebab saya pernah ada di posisi itu.
Sampai saat ini, di sela-sela waktu kosong kadang saya masih terpikirkan detik-detik terakhir sebelum akhirnya Papa tidak bernafas lagi.
Apa yang dia pikirkan?
Apa yang dia rasakan?
Bagian tubuh mana yang kesakitan?
Sepanjang hidupnya, pernahkan sekali saja terlintas di pikirannya akan seperti apakah hidupnya berakhir?
Apakah dia merasa takut akan pergi selamanya dan tidak akan bertemu kami lagi?
Apakah dia merasa takut?
“Dan kematian, keniscayaan Di persimpangan, atau kerongkongan Tiba tiba datang, atau dinantikan Dan kematian, kesempurnaan Dan kematian hanya perpindahan Dan kematian, awal kekekalan”
Bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah saya temui jawabannya, rasa duka tetap di sana, ia menetap di ruang kecil sisi gelap saya.
Sebab rasa duka tidak akan pernah selesai. Duka tidak memiliki ujung.
The word “duka” was found in Memorabilia - Agus Noor











