Sumber foto: beringkas.com
Akhirnya, hari ini Pilkada DKI Jakarta putaran kedua dilaksanakan. I just wanna say, thanks god this long long long never ending dramas almost over. Yap, semenjak putaran pertama lalu, Pilkada DKI Jakarta menjadi sorotan tajam. Hampir setiap hari kita disajikan dnegan beragam berita dan isu terkait pemilihan kepala daerah ibukota ini.
Padahal, Pilkada diadakan serentak dan bukan cuma masyarakat Jakarta yang melakukan pemilihan. Isu dan masalah negara pun tidak sesempit Pilkada DKI Jakarta. Yes, please open your eyes and mind guys. Hidup lu gak sesingkat dan sesempit Pilkada.
Bagi saya, yang mungkin sehari-hari tinggal di perbatasan (iya, Ciputat geser dikit Jakarta, loncat dikit Tangsel, terbang dikit Jawa Barat) isu Pilkada DKI Jakarta terasa semakin menggerahkan setiap harinya. Terasa bagaimana kubu A dan kubu B nyinyir depan saya. Then, I just smiling at them a while before continue my own business.
Baiklah, saya rasa tidak usah terlalu panjang pembukaannya, nantinya saya malah jadi ikutan nyinyirin orang nyiyir lagi. Sebelumnya, saya ingin memberikan disclaimer, di sini saya tidak punya kepentingan politik apa pun. Saya pun sudah tidak begitu tertarik untuk membahas latar belakang politik di balik segala isu yang di blow up di media. Saya hanya akan berbicara tentang kemanusiaan dan kehidupan sosial, yes just about humanity.
Banyak hal yang secara tidak sengaja kita sadari atau tidak, hanya gara-gara Pilkada, berbeda pendapat, berbeda pilihan membuat hubungan sosial kemanusiaan kita yang tinggal di Indonesia menjadi retak. Secara sengaja atau tidak, kita menjadi lebih sensitif dan sentimentil terhadap orang yang berbeda pendapat dan pilihan, jangankan hubungan dengan tetangga dengan saudara saja bisa hancur, cuma gara-gara Pilkada.
Beberapa minggu yang lalu, saya sempat membaca sebuah laporan di sebuah laman situs berita online. Dalam laporannya diceritakan bagaimana hanya gara-gara Pilkada hubungan darah bisa jadi kacau. Begitu jelas kebencian dan ketidakterimaan salah satu kelompok terhadap orang yang berbeda pendapat. Bahkan, sekali pun ia adalah saudaranya. Ini hanya berbeda pendapat loh, tapi hubungan darah hancur, bahkan saling menghina dan menghasut.
Bagi saya tentu hal itu bukan harga yang pantas untuk sebuah Pilkada. Pilihan politik dan pendapat orang yang berbeda tentu tak bisa dipaksakan. Bagaimana pun juga hubungan baik apalagi hubungan darah itu lebih berharga. Simpelnya gini deh, ketika kita terkena musibah siapa yang akan pertama kali menolong kita? Tetangga kan? Saudara kan? Lalu apakah hanya karena perbedaan pandangan hal ini menjadi tak berlaku lagi?
Baiklah, kalau misalnya masih belum terlihat sederhana dan berbelit belit sekarang saya hanya akan mengajukan pertanyaan untuk kalian yang ‘ikut rusuh’ di isu Pilkada kali ini. Berapa kali kalian ngomongin tetangga kalian yang beda padangan di belakang kalian? Berapa kali kalian nyinyir? Berapa kali kalian terhasut akun hoax terkait isu Pilkada? Berapa kali kalian secara sadar atau tidak menjadi tidak suka dengan orang yang berbeda pandangan dengan kalian? Berapa kali kalian keukeuh dan debat kusir ketika beda pendapat? Berapa orang yang sudah left group di kelompok media sosial kalian cuma gara-gara Pilkada?
Saya rasa, harusnya kita semua sudah paham bahwa setiap orang memiliki hak masing-masing untuk menyuarakan pendapat dan pilihannya. Setiap orang tidak bisa dipaksakan memiliki pandangan yang sama. Termasuk pilihan politik.
Sekarang mari kita berpikir lebih jernih bagaimana menyikapi semua ini. Jangan sampai jadi korban buzzer-buzzer politik sampai akhirnya merusak hubungan sesama manusia. Kita sudah tinggal di Indonesia berapa lama sih? Memang berbeda-beda dan diajarkan sejak kecil juga kan kalau perbedaan itu indah?
Well, hari ini bagi teman-teman saya yang memiliki hak suara di Pilkada DKI Jakarta gunakan hak pilih kalian sebaik mungkin. Gunakan hati nurani dan keyakinan kalian untuk memilih pemimpin. Tidak usah termakan segala hasutan.
Setelah nyoblos, mari ajak saudara, teman, atau tetangga ngopi bareng. Saling silaturahmi lagi. Coba minta maaf juga sama orang yang sudah kalian nyinyirin atau kalian gosipin. Bercengkrama lagi lah di pos ronda, di teras rumah, di taman-taman tanpa ada isu panas Pilkada. Belajarlah dengan ikhlas dan legowo menerima perbedaan.
Saya juga berharap bagi siapa pun yang nantinya akan memimpin Jakarta bisa menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Tidak mengecewakan mereka yang telah memilih, bahkan yang sempat mengorbankan kehidupan sosial masyarakatnya. Semoga pemimpin yang terpilih nantinya mampu kembali merajut apa yang telah kusut, memperbaiki apa yang telahhancur hanya karena Pilkada.
Di akhir tulisan, saya juga ingin segala drama yang seperti tak ada habisnya ini segera usai dan masyarakat kembali bersatu. Lalu, yang paling penting semoga kita semua taubat dari nyinyir, termasuk nyinyirin tulisan saya!