Refleksi: Keputusan, Resiko dan Pengorbanan
Sembilan tahun lalu saya memulai karier di institusi riset nuklir tanpa bekal keilmuan nuklir yang memadai. Bidang ini memang sangat spesifik; hanya segelintir perguruan tinggi yang memiliki program studinya.
Di masa itu, budaya kolonialisme dalam bentuk senioritas masih terasa cukup kuat, entah datang dari generasi baby boomers maupun milenial yang sedang naik daun. Singkat cerita, saya menjadi tawanan situasi. Menjadi bulan bulanan karena dianggap bukan orang dengan latar belakang yang sesuai. Saya merasa tidak dihargai sebagai sesama pegawai. Bukan karena pekerjaannya paling berat, tetapi karena hampir setiap hari rasanya seperti harus terus membuktikan bahwa saya pantas berada di sana.
Tiga tahun berlalu, lalu saya mendapat kesempatan studi di Korea Selatan. Saya mengambilnya, karena sejak dulu memang punya impian melanjutkan S2 sebelum bekerja. Selain itu, saya juga melihat ada budaya bahwa “lulusan luar negeri lebih dihargai di kantor ini.” Therefore, let’s go Korea.
Satu semester di Daejeon, ternyata hidup di sana jauh berbeda dari apa yang terlihat di drama. Saya struggle. Barely alive. Ternyata sekolah pascasarjana itu tidak mudah, apalagi di luar negeri, di tempat yang sepenuhnya berada di luar zona nyaman. Di titik itu saya sadar, ekspektasi sering kali jauh lebih indah daripada kenyataan.
Meninggalkan keluarga, terlebih saat anak masih berusia satu tahun, membuat saya sering overwhelmed oleh rasa rindu dan keinginan untuk pulang. Dalam dua tahun, saya hanya sempat pulang satu kali, karena saat itu masih masa pandemi. Ada banyak malam yang terasa panjang, ketika video call selesai dan kamar kembali sunyi. Di saat yang sama, ada perasaan belum mampu menunaikan tanggung jawab sepenuhnya sebagai suami kepada istri, dan sebagai ayah kepada anak.
Bahkan saya tidak berada di rumah di Jawa Timur ketika bapak berpulang. Bapak meninggal tiga minggu sebelum saya sidang tesis. Itu menjadi memori yang diam di dalam diri saya. Menangis di tanah rantau, menghela napas panjang karena tidak dapat membersamai bapak di saat terakhir.
Saya kemudian banyak bermuhasabah bersama istri. Dan kesimpulannya, sepertinya sejak awal ada niat yang keliru.
Tanpa saya sadari, keputusan melanjutkan studi ke luar negeri tidak sepenuhnya dilandasi keinginan mencari ilmu dan meraih rida Nya. Ada dorongan lain yang lebih dominan: “Saya ingin membuktikan kepada mereka bahwa saya bisa di bidang ini.” Perlahan saya sadar, pembuktian semacam itu ternyata mahal harganya, studi yang berat, jarak yang jauh, dan waktu yang hilang bersama keluarga. Kita sering lupa, ingin diakui orang lain kadang membuat kita mengabaikan hal hal yang sebenarnya paling berharga.
Pelajaran berharga bagi saya: menjadi dewasa bukan hanya soal memahami risiko dan konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Tetapi juga tentang memastikan keputusan itu tidak lahir dari ketergantungan pada klausal orang lain. Entah karena pendapat mereka yang julid, atau karena ajakan mereka yang terlihat menjanjikan. Karena ini hidup kita, bukan hidup mereka.