“Lo Baper, Lo Kalah”, Mengembalikan Rasionalitas Pilihan dalam Binatang bernama Politik
Premis pertama: Anies, Prabowo, ataupun Ganjar bukanlah juru selamat.
Terkadang saya sendiri terjerembap di dalam kontestasi pilpres, melihat ataupun memilih salah satu dari ketiga pasangan calon tersebut sebagai juru selamat atas bangsa ini. Berharap jika “Ia” yang terpilih, indonesia akan jadi semakin- semakin- semakin-. Kesalahan ketika kita melihat salah satu dari calon presiden sebagai juru selamat menyebabkan munculnya banyak bias dalam memandang salah satu calon, kehilangan objektivitas dan rasionalitas, dan kita menjadi mudah “baper”. Baper ini menurut saya tingkatan tertinggi dari subjektivitas pemilih. Entah sedih, iba, kesal, ataupun marah, ketika itu muncul dalam benak dan hati kita dalam memandang salah satu calon, maka kita akan mudah sekali kehilangan akal rasional kita. Kita bisa saling lempar fakta tentang keberhasilan dan kegagalan setiap calon. Mungkin food estate Prabowo bisa di goreng, tapi apakah rumah subsidi anies tercapai 100%? mungkin IKN dianggap megaproyek yang tidak tepat prioritas, namun apakah Formula E Jakarta itu sudah tepat prioritas ketimbang kemiskinan warga bantaran Jakarta? Di sinilah letak objektivitas diperlukan. (lagi pula elit-elit di belakang Anies, Prabowo, dan Ganjar orangnya itu-itu juga kok. Elit yang sama sejak 20 tahun lalu.)
Meski begitu, tulisan ini bukan bentuk ke-edgy-an saya untuk menjadi sok-sok netral apalagi “gausah peduli sama politik, semuanya gaada yang bener”. Tapi saya harap kita bisa melepaskan terlebih dahulu cara pandang subjektif kita terhadap pasangan calon dan melihat politik sebagai sebuah pragmatisme.
Premis kedua: Politik adalah Kekuasaan (dalam term negatif: power, lust, greed, tyrann).
Memang ada beberapa definisi dan pemaknaan dari makhluk buas bernama “politik” ini. Salah satunya memandang politik dengan penuh positif dan optimisme: “Politik sebagai jalan untuk mensejahterakan masyarakat.” Namun izinkan saya di sini mengajukan tesis tentang Politik sebagai pelanggeng kekuasaan (yang jahat). Bahwa, siapa pun yang berkuasa, maka motif yang di bawa, sedikit atau banyak, akan melekat tentang keuntungan sendiri maupun kelompok, kekayaan keluarga, kesejahteraan kelompok sendiri, dan kejayaan pribadi. Semuanya, Anies, Prabowo, Ganjar, jika kita kembali ke premis 1 dan 2, maka semuanya memiliki nafsu buruk tersebut. Kesalahan untuk tidak melihat premis 1 akan menjadikan kita melihat calon tersebut “suci” dan munculnya bias dalam cara pikir kita. Kesalahan untuk tidak melihat premis 2 akan menjatuhkan kita ke dalam kontra-premis 1. Maka premis 1 dan 2 ini adalah kesatuan.
Jangan salah, cara pandang ini menurut saya bukan mendekatkan kita kepada distopia. Justru, saya kira cara pandang ini dapat menjadi solusi agar kita bisa meningkatkan kualitas dari politik dan demokrasi kita. Kenapa? Karena dengan premis 1 kita akan menjadi pemilih yang berfokus pada substansi, bukan tokoh. Dengan memakai premis 2, justru kita yang akan menjadi “lawan” bagi calon presiden, bukan sesama calon presiden. Ketika kita sudah menjadi makhluk yang rasional, meningkatkan kualitas pikir, dan tuntutannya, maka dengan sendirinya calon presiden harus bisa meyakinkan kita dengan cara yang paling rasional dan solutif pula. Bodoamat tentang motif mereka. Mungkin salah satu dari mereka kelak akan membagikan bansos dengan motif caper dan cari perhatian masyarakat, ya bodoamat, yang penting mereka melakukan tugasnya. Bodoamat jika mereka berusaha membangun ekonomi masyarakat supaya citra personal dan keluarganya menjadi baik, ya bodoamat, yang penting ekonomi kita membaik. Inilah yang saya sebut sebagai pragmatisme dalam memilih.
Kita harus berlepas dari subjek politik yang irrasional dan seringkali menjadi bidak-bidak politik agar kekuasaan mereka berlanjut. Siapa pun presidennya, mereka semua tidak “sesuci itu, kok”. Maka yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas diri sendiri, agar bisa menjadi agregator politik yang berkualitas supaya siapapun presidennya, kita sudah memiliki standard barrier yang harus dilewati oleh calon pemimpin kita. Jujur, saat menonton debat tadi malam saya juga baper. Geram, kesal, dan merasa dilecehkan dengan gaya debat gibran yang tidak substantif. Namun pagi ini saya sadar, seharusnya saya melihat itu sebagai “politik”, tidak perlu diambil personal. Apa yang gibran lakukan adalah “strategi” untuk mendapatkan suara pendukung-pendukungnya yang “cocok” dengan gaya itu. Ini semua tentang teori supply & demand. Jika gibran menggunakan hal tersebut sebagai strategi, artinya memang ada “demand’ nya, ada massa nya. Jika saya geram dengan gaya tersebut, artinya saya tidak rasional. Lagi pula, sewaktu anies menyindir prabowo soal nilai menhan juga, bikin sebagian emosi pendukung prabowo "terusik", kok. sama-sama emosional. gaada bedanya. cuma perspektif dan subjektif saja.
Strategi politik bebas dilakukan dengan gaya apapun, selagi ada demandnya. Maka jika kita ingin memperbaiki kualitas demokrasi, debat pilpres, dan politik secara keseluruhan, mari kita perbaiki juga kita sendiri sebagai “demand” politiknya.












