Sedikit cerita tentang Bapak yang ingin kutuliskan di sini. Mungki karena beberapa hari lalu bapak mengirimkan foto dirinya yang baru kusadari kalau bapak juga bertambah usianya. Sementara dalam kepalaku, bapak masih sosok paling ganteng dan kuat pun selalu nampak muda tanpa lelah yang nampak diwajahnya. Satu foto bapak yang beliau kirimkan itu menamparku, bapak juga bertambah usia. Dan kerasny dunia menjelma kerut diwajahnya yang semakin banyak. Rambut kelamny mulai banyak yang putih.
Bapak juga bertambah usia.
Padahal baru 2 mjnggu lalu aku membahas perihal orang tua yang konservatif dan menekan anak-anaknya. Orang tua yang selalu melihat anaknya masih kecil, bahwa anaknya adalah manusia lucu yang baru belajar berjalan.
Pertanyaan dari teman baruku di sela-sela makan siang, "Kenapa kamu bisa merasakan homesick padahal orang tuamu sangat kolot, memaksakan kehendak, dan mengekangmu?"
Jawabanku lebih mengejutkan, "Mereka (orang tuaku) memang seperti itu. Menekan semua hal yang dirasa baik dan menyenangkan untukku (anaknya). Mungkin karena mereka takut aku terluka, kecewa, atau merasakan hal-hal buruk lainnya. Aku masih anak kecil mereka yang baru belajar bicara. Dan akan terus begitu. Meskipun demikian, setelah merasakan bagaimana rasa menjadi anak penurut secara paksa, menjadi anak bandel dan rebel pun pembangkang dengan sesekali cemas, kalau-kalau orang tuaku kecewa, hingga saat ini aku mulai berdamai dengan diriku, traumaku, dan orang tuaku, dalam semua fase itu mereka berperan sangat banyak. Dan peran itu yang membuatku homesick saat jauh dari rumah."
Aku bahkan tidak pernah tau kalau rumah orang tuaku saat ini adalah tempat yang ingin segera aku tuju untuk pulang. Meskipun pulangku seringnya membuat mereka marah-marah.
Hal yang sangat penting adalah aku sangat berterimakasih pada mereka karena sudah membesarkanku sampai sekarang. Meskipun aku masih belum bisa melakukan apapun untuk mereka. Rumahnya orang tuaku, sepertinya menjadi satu-satunya tempat untukku pulang tanpa banyak sekali rasa cemas didalamnya.
Sehat dan bahagia selalu ya Pak, Buk. Meskipun aku masih seperti ini, walau terima kasih dan rasa sayang tidak cukup untuk menghidupi perut. Semoga suatu hari, segera, aku bisa memberikan itu. Sehat dan bahagia selalu ya Pak Buk