Pernah Terjatuh (2)
Awalnya saya mengikuti doktrin itu, dan secara perlahan saya pun menjadi tipikal mahasiswa kupu si pencari nilai supaya cepat lulus. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang aneh dari kampus teknik, namanya Erik. Erik mengulang sebuah mata karena mendapat nilai C, dan mendapat nilai A. Tetapi setelah mendapat nilai A, Erik kembali ngulang karena merasa tidak mengerti dengan apa yang dipelajari di kelas. Jadinya kepala ini mulai pening, mulai berpikir keras: apa yang sebenarnya mau saya cari di kampus? dan apa artinya saya belajar?
Saya mulai berubah, karena dengan sedemikian jauhnya saya mengubah cara berpikir. IPK turun dari 3.15 menjadi 2.75. Saya mulai berencana untuk kuliah dalam kurun waktu yang cukup lama dari biasanya, 6 tahun. Ya, 6 tahun. Supaya saya bisa mengumpulkan banyak pelajaran di luar kelas. Jadi dalam 1 semester, saya tidak lagi ingin ambil kuliah lebih dari 20 SKS. Pelan-pelan saja, tapi benar-benar belajar.
Menjadi sosok yang lain, tentu saja ada sisi tak enaknya. Rasanya terpinggirkan, dan memang dipinggirkan. Terlebih lagi saya tidak mendaftar menjadi anggota himpunan. Semakin dicuekin, Pemirsah! Itu pun belum ditambah citra saya sebagai penjual roti di jurusan. Memang bagi saya jualan di kampus adalah hal yang tidak aneh, tetapi saya baru sadar saat ada seorang teman yang bertanya "Dit, kok Kamu mau-maunya sih dagang di kampus? Nggak malu gitu?"
Pertanyaan yang sempat membuat saya terkejut. Saya tak perlu menjelaskan kenapa, tapi bayangkan saja kira-kira seperti apa rendahnya strata sosial pedagang di kampus saat itu. Dulu jarang ada mahasiswa yang jualan, dan hampir tak ada yang berani buka lapak di depan kantor jurusan. Belum usum jadi enterpreneur. Lagipula tukang roti tetaplah tukang roti, yang akan disebut enterpreneur adalah mereka yang tampilannya mentereng. Jadi, bisa dibilang bahwa pedagang di kampus saat itu adalah orang-orang kasta rendahan. Sedangkan orang-orang kasta atasnya adalah ketua unit, ketua BEM, ketua himpunan, ketua departemen, dan sosok-sosok yang ditokohkan. Then, i was really really really nothing. I wasn't counted. Seringnya sih gitu.
Meski kita bisa menolong orang dengan penghasilan sebagai tukang roti, kita tetap sosok rendahan. Sometimes, we were nothing. Tetapi berita baiknya adalah: saya merasakan apa itu kesederhanaan, hidup yang lebih bermakna, dan menemukan pertemanan sejati. Saya tak takut kehilangan teman kuliah, karena saya tahu rasanya dianggap tidak ada.
If someone come to you (to spending his/her time) while you are nothing, you might find a real friend. Because friendship is an art of becoming together without reasons.







