Represi.
Tumpukan-tumpukan rasa bersalah itu, menjelma gudang bersarang laba-laba lagi penuh debu dalam ruang ingatanku.
Aku ingin meminta maaf pada banyak hal yang tidak termaafkan oleh manusia bahkan oleh diriku sendiri. Namun, semoga pengampunan-Nya luas untuk memaafkanku. Aku ingin keadilan untuk banyak keadaan yang tak bisa ku hakimi. Hitam, putih, abu-abu telah bercampur menjadi batas yang tak jelas mana benar dan salahnya di perjalanan ini.
Aku ingin meninggalkan banyak penyesalan, tapi ia terus mengikutiku seperti darah yang menghidupi jantung. Penyesalan menjelma kepingan rapuh namun bernyawa dalam diriku.
Kata mereka, rasa bersalah adalah dorongan untuk memperbaiki diri, namun rasa bersalah juga diam-diam seperti belati dalam selimut pada dini hari yang sunyi. Ia menggores tubuh dalam lelap, lalu ketika aku membuka mata, ku dapati lebam-lebam pada jiwaku, juga gema-gema berisik pada ingatanku.
Kata mereka, yang lebih lama mengemban peran ini; kita bukan Tuhan, banyak takdir bekerja diluar kuasa kita...dan kita seringkali jadi perantara takdir yang tidak pernah kita kehendaki sama sekali.
Hujan, 2 Februari 2023 09.29 wita
















