》#reviewRyT《
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Akhirnya berhasil menamatkan buku ini, setelah reading slumps selama beberapa minggu belakangan. Ini agak merasa bersalah sih ya sama noteu @aksarannyta karena sok sibuk sampe ngereview aja lama banget. Maafkan huhu.
Anw, intinya ya sama kayak writing block’s, reading slumps juga gitu, kuncinya cuma satu, tetap membaca. Dan saya memutuskan mengambil buku ini untuk kemudian diselami.
Seperti tulisan teu @aksarannyta yang sering saya temui di Tumblr. Buku ini berisikan prosa liris yang sederhana namun mampu membuat saya pribadi merenung dan berkali berkata, “ah ya!”, “duh ini banget”, “nah kan ada yang sepikiran”, dst dst.
Merenung adalah kegiatan yang dulu sering sekali saya lakukan, tapi belakangan baru saya sadari sudah mulai jarang dilakukan. Padahal kunci untuk saya bisa kembali menemukan ide dalam menulis salah satunya adalah dengan memikirkan kegelisahan saya, buah dari hasil merenung tersebut.
Sesungguhnya ada banyak quote dan prosa yang saya sukai dari buku ini. Tapi ada satu quote yang saya setujui hingga sebegitunya, “remukkan hati orang yang gemar menulis, maka kamu akan selalu hidup di dalam tulisannya.”
- [Rindu yang Tergesa-gesa, hal 121]
Kalem, meski judulnya tentang rindu isinya bukan melulu tentang rindu atau hanya perihal cinta terhadap lawan jenis. Tapi lebih banyak daripada itu. Ada banyak pelajaran yang bisa kembali kita pikirkan, ada banyak hal yang bisa kembali kita maknai.
Untuk teu @aksarannyta, terima kasih sudah menuliskan buku ini. Dan untuk teman-teman yang membutuhkan bacaan yang memberi makna tapi tidak menggurui, segera mampir ke Gramedia atau tokbuk terdekat di kotamu dan bawa pulang buku ini, kalau perlu beli dua sekaligus. Satu untuk dirimu, satu lagi untuk kamu berikan pada mereka yang sedang berada di titik terlemah perasaannya.