Kepada Tuan
Kesah kepada petinggi negeri
Demi negeri, demi negeri, demi negeri!
Demikian mereka berteriak, kemudian saling caci.
Saling hujat saling umpat sesama anak kandung Ibu Pertiwi.
Merahku lebih merah, hijauku lebih hijau. Pertengkaran terus meruncing, tak sadar sesama bernasib genting.
Hanya aku, hanya kami. Tak ada kata kita, jauh angan untuk bersama.
Tenang-kah kini kalian di haribaan pertiwi, wahai pejuang sejati?
Lihatlah darah tumpah di ujung pedang kakak sendiri, di mata belati adik sendiri.
Disini, di negeri yang kalian bangun bertaruh mati.
Kepada siapa kini aku mengadu resah?
Ditengah hiruk pikuk dunia yang tak pernah mudah, disaat orang diluar sana adu megah, kami saling adu marah.
Kami terbelah, hanya karena persoalan entah.
Wahai Tuan, demikianlah rupa negerimu kini, negeri elok beradat lestari, telah tersaput kabut syahwat duniawi.













