Resume Kajian Sunnah
Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله — Bersama Mereka Adalah Kekuatan
Semoga Allaah ﷻ berikan kita ilmu yang bermanfaat dan memperbaiki urusan pemimpin kita dan menjaga bangsa kita dari keburukan. Dan semoga Allaah ﷻ merahmati dengan rahmat yang luas kepada Imam An-Nawawi, orangtua beliau, guru-guru beliau dan semoga Allaah ﷻ merahmati guru-guru kita dan kaum muslimin, aamiin.
Seringkali orang-orang lemah di-underestimate oleh mereka yang merasa kuat—hanya karena tidak punya kekuasaan, harta, atau karena mereka berasal dari kalangan orang shalih. Tapi jangan lupa, mereka punya Rabb yang Maha Kuat dan Maha Agung. Dan ketika kita menzhalimi orang-orang lemah, pada saat yang sama kita pun tetap sangat butuh perlindungan dari Allaah ﷻ. Sekali lagi, jangan pernah menyakiti atau menzhalimi mereka. Karena meskipun mereka tak membalas, Allaah ﷻ yang akan membalas. Dan Allaah ﷻ itu Maha Halus dalam memberi balasan kepada hamba-Nya yang dizhalimi. Seringkali, balasan itu datang dari arah yang tak terduga—bahkan dari orang atau kejadian yang tak kita sangka sebelumnya.
Diantara contoh sederhana, kalau kita berbicara suami istri secara umum, istri berada di pihak yang lemah, bukan berarti tertindah atau teraniaya dan bisa dilakukan begitu saja. Ketika ada masalah dengan suami istri.
Allaah ﷻ berfirman:
وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. An-Nisa: 128)
Bukan berarti ketika istri diperintahkan untuk lebih banyak mengalah, lalu suami bisa bersikap semena-mena dan memanfaatkan keadaan. Justru sebagai laki-laki, kita punya tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri dan memperlakukan istri dengan baik. Allaah ﷻ melihat sikap kita terhadap istri kita, dan setiap kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan balasan terbaik oleh-Nya. Namun, jika seorang suami malah menjadikan itu sebagai celah untuk menekan atau menyakiti istrinya, maka yakinlah—Allaah ﷻ pun tidak tinggal diam. Balasan dari-Nya itu pasti, dan seringkali datang dengan cara yang tak kita sangka.
Jangan sekali-kali memanfaatkan kefakiran atau keshalihan seseorang untuk ditindas. Mereka mungkin tampak lemah di mata manusia, tapi di sisi Allaah ﷻ mereka mendapat jaminan dan perlindungan khusus. Justru, dekati dan hiduplah bersama mereka. Bersahabatlah dengan orang-orang shalih. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan sengsara orang yang duduk bersama orang-orang shalih. Mereka adalah kaum yang jika seseorang duduk bersama mereka, kehadirannya tidak akan membawa mudarat.” Ingat, jangan sampai kita menjadi orang yang menjauh dari kebaikan, lalu meremehkan mereka yang dekat dengan Allaah ﷻ. Bisa jadi, doa dan keberkahan hidup kita datang lewat mereka.
Bersama orang-orang lemah dan fakir itu adalah kekuatan, dan bersama mereka adalah kebutuhan hidup. Pada hakikatnya, kalau kita membantu orang-orang yang shalih itu untuk diri sendiri, sehingga tercipta hubungan sosial secara positif dan baik dan tidak ada satu pun diantara kita yang merasa paling berjasa.
Dalam hidup itu kita bersahabat atau senantiasa berinteraksi dengan siapa saja, berapa banyak orang yang lemah, fakir dan orang-orang shalih? Kalau tidak ada maka kita harus meng-evaluasi pertemanan kita.
Kesimpulan:
Inilah kehidupan sosial yang diajarkan dalam agama kita: bahwa orang-orang yang kuat justru harus merasa butuh kepada mereka yang lemah, fakir, dan shalih. Bukan sekadar peduli, tapi membangun kebersamaan yang kuat—karena bersama merekalah sebenarnya terdapat kekuatan. Kita butuh kesabaran, qana’ah, dan ridha terhadap takdir Allaah ﷻ. Dengan itu, Allaah ﷻ akan bukakan pintu-pintu kebaikan, satu demi satu, dalam hidup kita.
Semoga bermanfaat, wallaahu a‘lam.
Catatan: ntuk lebih sempurna diharapkan pembaca mendengar Soundcloud atau Youtube yang Penulis sajikan. Baarakallaahu fiikum.
Riyaadhush Shaalihiin Bab 48 | Peringatan agar tidak menyakiti orang shalih, orang lemah, & orang fakir
Diselesaikan
Oleh Mudri
Bekasi
Senin, 20 Dzulqodah 1446 H







