Zahra http://dlvr.it/QmZlw7

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China

seen from Spain
seen from China
seen from United States

seen from Germany
seen from China

seen from United States

seen from France

seen from United States

seen from Nicaragua
seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
Zahra http://dlvr.it/QmZlw7
Dari Tangerang (1): Kabar dari Suci http://dlvr.it/QYJvqz
Sedikit Cerita di balik Mengukir Peradaban http://dlvr.it/QYJvbl
[Repost]Urusan Domestik
“Urusan domestik itu kalau diurus sendiri kan bisa sambil didoakan dan diwiridkan. Misalnya, mencuci baju didoakan supaya orang yang memakai tambah percaya diri, tambah baik, dan sebagainya. Atau misalnya memasak makanan, ditambahi doa semoga yang memakan senantiasa diberikan kesehatan, tumbuh-kembang yang baik, dan sebagainya. Itu yang pertama.”“Kedua, urusan domestik itu harus bisa supaya mengurangi ketergantungan kita terhadap faktor eksternal di luar diri kita. Misalnya, kita mampu masak, mencuci, bengkel, maka hal-hal di bidang itu kita nggak perlu merepotkan orang lain. Bahkan, syukur kita bisa membantu.”“Ketiga, urusan domestik harus dikuasai supaya memperkuat daya tahan dan daya lenting keluarga. Tentu kita tidak bisa menjamin bahwa kita akan hidup serba cukup terus, ada saatnya kita di bawah. Ada suka dan dukanya. Dengan terampil manajemen urusan domestik, keluarga akan tetap bertahan dan relatif minimal gangguan meskipun kondisi ekonomi, kenyamanan, dan kesejahteraan berubah drastis.”“Terakhir, perempuan yang terampil mengurusi pekerjaan domestiknya, maka pahalanya setara dengan jihad fii sabiilillaah.” -dari sini, menginspirasi sekali terutama di bagian yang dibold (buka linknya aja bbiar semakin terinspirasi) Zahra dan Fahmi dalam adik kelas saya. Zahra adik asrama di RK yang selisih usianya hanya 2 hari lebih dulu dari saya. Fahmi adalah adik kelas saya di IC. Keduanya menikah 7 Mei 2017. Keduanya adalah pasangan penghafal Quran. Mengharukan sih emang :" Dan mereka membuktikan bahwa dalam kurang dari 1 tahun, mereka sudah banyak sekali membuat banyak pencapaian dan menebarkan kebermanfaatan (itu aja baru yang tertangkap oleh mata, belum kebaikan yang hanya mereka rahasiakan berdua). Mei tahun ini rencananya mereka akan melaksanakan launching buku mereka soal pernikahan. Waktu saya lihat tanggal perencanaan launching bukunya, 7 Mei 2018, saya langsung berpikir, pasangan ini dalam jangka setahun sudah bisa berbuat banyak sekali kebaikan, ya. Isi kajian, isi kelas dan seminar tentang munakahat, bikin buku, bikin blog berdua yang isinya menginspirasi pembacanya. Sungguh luar biasa (jadi kamu setahun ini ngapain aja Fit?). diawali 21 April 2018,perjalanan menuju UKM Center FEB UI http://dlvr.it/QRNsbH
Ilmu dengan Adab
Ibu Sufyan Ats Tsauri merupakan salah satu dari wanita-wanita agung yang shalihah. Sang ibu pernah mengatakan kepada putranya, “Wahai anakku, carilah ilmu, aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.” Sang ibu juga berpesan, “Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf maka lihatlah dirimu, apakah itu mengubah cara jalanmu, keadaanmu, kelembutanmu serta ketenanganmu. Jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah, bahwa itu membahayakan buatmu dan tidak memberikan manfaat bagimu.” (Al Kawakib Ad Durriyah, 1/231) Pada suatu masa di perjalanan dari warung sop-soto di Karangwuni, masih di atas jok motor, saya bersama Nusa, si calon ketua KAMMI Sleman membicarakan kutipan ini. Bagaimana bisa ilmu dibilang dapat mengubah cara jalan, keadaan, kelembutan, serta ketenangan. Menambah hal-hal di luar pemahaman, wawasan, dan kebijakan. Lalu Nusa berkata, karena ilmu, semestinya diperoleh dengan adab. Maka adab menuntut ilmu lah yang membuat kita mendapatkan hal-hal tersebut, sehingga tersebutlah ilmu itu memberikan manfaat; bukan justru membahayakan. Semoga, adab dalam menuntut ilmu bisa terus kita ingat dan laksanakan dalam setiap kesempatan. Sehingga kita bisa memperoleh apa yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat dalam kutipan tersebut. Yassarallahu amrana! #ntms Terima kasih berbagi insightnya, Nusa! Semangat kamu skripsinyaa :") *ps: itu halaman motto di skripsi, dulu pertama banget nemu quote itu dari akun OA Dakwah Islam di line
untuk Shofi
Rasanya masih tidak percaya ketika pertama kali mendengar kabar Shofi Jumat kemarin. Bukankah rasanya baru saja pagi atau semalam aku lihat update igstory kamu, Shof? Dear Shofi, aku kehabisan kata-kata sore itu. Jumat itu. Aku merinding dan bahkan sampai sekarang pun masih sesekali. Riangmu, semangatmu, ambisiusmmu, jurnal ilmiahmu, keimpulsifanmu, galaumu. Barangkali aku belum sedekat itu sama Shofi. Tapi, aku belajar banyak hal soal kesungguh-sungguhan yang kau cerminkan. Aku mengagumi tekad kuatmu untuk jadi scientist. Aku heran kenapa energimu tidak pernah habis, kenapa kamu begitu betah baca jurnal ilmiah, kenapa kamu bisa terlihat sebegitu riang walaupun terkadang kamu tidak enak badan. Perginya Shofi jadi teguran keras buat kami; Apakah kematian tidak cukup menjadi pengingat? Bukannya baru semalam kamu menempuh kereta Jakarta-Yogyakarta? Bukankah paginya pukul delapan kamu baru selesai mengirim email untuk deadlinemu? Bukankah beberapa teman kita baru saja berbalas komen denganmu dua jam yang lalu sebelum berita itu sampai pada kami?Bukankah rencana kembalimu dari Jogja tinggal senin besok? Tapi Allah memintamu pulang duluan. Lebih dulu dari rencanamu. Lebih abadi dibanding tujuan pulang awalmu. Dear Shofi, aku yang tidak sealmamater kampus saja menyaksikan bahwa betapa banyak yang kehilangan sosokmu. Apalagi mereka yang banyak irisannya denganmu, ya :" Mereka mengenang kebaikan-kebaikanmu. Semangat juangmu yang terus menyala. Energi yang tidak pernah habis. Kontriubsimu yang jauh dari rasa lelahmu. Keinginanmu untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat lewat mimpi-mimpi penemuanmu. Semoga rahmat dan ampunan Allah selalu ada padaMu Shof. Semoga kebaikanmu masih terus mengaalir, karena kami yang kamu tinggalkan, rasa-rasanya masih menerima itu semua. Kelak, semoga kita bisa berjumpa di surga,, ya Shof. Kami sayang Kamu, Shof.
Selamat Jalan, Kepulangan. Selamat Datang, Kepergian..Kebanyakan dari kita selalu rindu kepulangan akan rumah. Menanti-nanti waktu berakhirnya hari dan menyambut lonceng tanda pulang dengan kebahagiaan. Akankah kelak kita menyambut dengan suka cita pula, saat Allah menyerukan panggilan untuk pulang menuju ke rumah keabadian?Pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat. Kepulangan seperti senja yang indah adalah akhir yang tenang dan membahagiakan. Mungkin ia adalah perpisahan, tetapi ia menjadikan kepergiannya membekas indah pada orang-orang yang ditinggalkannya.. -via Siti Nur Rosifah
Fitri-yang merasa kehilangan
semoga aku bukan menjadi orang yang merugi
karena tidak menjadikan kabar ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri
update
“Karunia yang Allah berikan lebih besar daripada musibah, karenanya kita harus bersyukur.” -Abinya Shofi-via tulisan indah
Nulis untuk Orang Lain
Nulis buat orang lain itu jangan sampai bikin ndak nulis buat diri sendiri. #pelajaran5hariterakhir
Zahra
Halo Zahra, apa kabar? Tulisan ini kumulai pada 6 September 2016. Saat aku kangeeen banget sama kamu, kamunya lagi sibuk urusan Brunei dan banyak hal lainnya. Dan setelah kuobok-obok isi hardisk, satu setengah tahun terakhir kedekatan di asrama tidak pernah menelurkan foto kita yang berdua doang, ya. Padahal kita se-tim-sat lebih dari enam bulan. Dilanjut obrolan pas kamu mau nyiapin KKN dan setelahnya. Diskusi di kasur masing-masing sama teteh Ditta pas di kamar pojok nomor empat. Kamu yang suka numpuk buku, minta bangunin, begadang parah, sampai kamu yang sekarang. Hari ini aku membaca postingan terakhirmu di blog. Maka aku selesaikan tulisan rindu ini untuk memelukmu dari kejauhan. Menyenangkan sekali membayangkan dirimu yang penuh ide dan sangat semangat memulai ide baru. Walau aku tahu ada saja yang bilang bingung sama kamu yang terlalu banyak ide dan urusan, tapi aku tahu, tahuuuu sekali semangatmu untuk perbaikan umat. Halo Zahra, apa kabar? Menyenangkan sekali sepertinya kehidupanmu akhir-akhir ini yang penuh gairah. Senang sekali mendengarnya, karena kalau aku melihat kaca, hal-hal itu yang sekarang kabur dari diriku untuk bersemangat memulai hal baru. Maafkan aku yang belakangan tidak menyapa, bahkan aku ragu menuliskan satu patah dua patah kata komentar di blogmu sebulan belakangan. Padahal kamu sendiri yang bilang, kan, kalau aku orang yang sangat senang komen di sana. Aku ikut mendoakan kebaikan untukmu, semoga Allah menguatkan pundakmu mewujudkan segala mimpi untuk perbaikan umat, beserta menemukan parter hidup terbaik untuk membantu bersinergi mewujudkannya. Saling mendoakan dalam kebaikan ya Zahra.
Peluk jauh Deresan-Imogiri Timur.
untuk Zahratul Iftikar Jadna Masyhida,
di manapun ia berada saat ini.