Saya sebenarnya bukan orang yang sentimentil. Juga jarang berbagi cerita pribadi, apalagi menuliskannya. Tapi tak apalah sekali dua kali sedikit sentimentil. Saya mau cerita sedikit tentang kejadian-kejadian yang menginspirasi lagu di beranda.
Pertengahan 2010, beberapa bulan setelah lulus kuliah, Tempo menanggapi lamaran kerja yang saya ajukan. Saya dipanggil ke kantor Kebayoran untuk diwawancara oleh redaktur kompartemen metropolitan. Saya melamar untuk jadi koresponden Tempo di Depok.
Wawancaranya singkat, hanya ditanya soal minat dan alasan melamar ke Tempo. Di akhir wawancara redaktur berpesan, “Harus segera pindah karena sudah lama tidak ada orang Tempo di Depok,” katanya.
Hari itu juga saya pulang ke Bandung, tentu dengan perasaan super senang. Sejak kuliah saya memang berkeinginan jadi wartawan Tempo. Kalau tidak salah hari itu adalah hari Kamis, dan Senin pekan depannya saya sudah harus ada di Depok untuk bekerja. Sesampainya di rumah, saya kasih tahu bapak dan ibu waktu untuk pindahan tak banyak. Setidaknya hari Minggu harus sudah pindah ke Jakarta.
Dalam dua hari barang-barang beres dikemas. Hari Sabtu, saya, bapak, dan ibu berangkat ke Jakarta. Barang-barang penuh betul di mobil. Mulai dari lemari, rak baju, sampai kasur semua tumplek di sana.
Hari itu semacam jadi penanda dalam hidup: fase kehidupan kuliah sudah selesai, berikutnya fase meninggalkan rumah dan kerja menghidupi diri sendiri. Agak sedih juga sebenarnya meninggalkan Bandung dan segala isinya, apalagi kamar saya baru selesai direnovasi DIY (Do It Yourself) style.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa soal kepindahan itu. Kecuali soal fase hidup dan pindahan yang buru-buru. Sisanya, ya biasa saja. Sedih juga tak sedih-sedih amat. Apalagi jarak Jakarta/Depok-Bandung tak seberapa jauh, hanya dua setengah sampai tiga jam perjalanan.
Waktu pun berlalu sampai hitungan bulan. Suatu ketika, kakak saya, Nadia Badudu -yang juga tinggal di Jakarta- mengirim email. Dia menceritakan kembali obrolan yang terjadi ketika kumpul-kumpul keluarga di rumah nenek di Bandung. Setelah dirangkum kira-kira seperti ini ceritanya:
Saya punya tante namanya Cisca Latuihamallo, biasa dipanggil Ma Eka. Suatu hari Ma Eka ada perlu datang ke rumah. Entah mengantar makanan, ambil panci, atau apa saya tak ingat persis. Kebetulan ibu sedang sendirian di rumah, jadi dia lah yang membukakan pintu untuk Ma Eka.
Ma Eka sedikit kaget melihat mata ibu sembap, seperti sehabis menangis. Setelah ditanya, rupanya memang habis menangis. Ibu saya sedih karena rumah jadi sepi, tak seperti dulu lagi.
Tak terbayang oleh saya ketika Ma Eka menceritakan kejadian itu saat kumpul-kumpul keluarga. Bukannya sedih, pasti jadi bahan ketawaan luar biasa. Masalahnya Ma Eka ini orangnya meledak-ledak kalau bercerita, lucu, selalu bikin orang tertawa-tawa.
Email itu saya baca saat sedang sendiri di kamar kos, di atas kasur, dan laptop dipangku. Tak tahu harus berbuat apa. Tak tahu juga kok bisa sampai seperti itu ya. Haha. Saya tak mengira ibu bisa sesentimentil itu. Ibu adalah orang yang amat pandai menyembunyikan perasaannya. Introvert garis keras. Tapi hari itu naas, dia kepergok. Saat sedang nangis sendiri di rumah, eh tahunya datang Ma Eka. Kena deh. Hehehe…
Kejadian inilah yang menginspirasi bait pertama lagu di Beranda:
“…Oh, ibu. Tenang sudah, lekas seka air matamu. Sembapmu malu dilihat tetangga…”
Dipikir-pikir, kalau saya jadi ibu, pasti akan merasa sama. Sedih. Ada fase hidup yang baru, saat rumah tak lagi seramai dulu. Tak ada lagi yang diomel-omelin karena bleberan ambil nasi dari rice cooker. Atau karena ambil masakan langsung dari panci, pakai tangan pula.
Masa-masa nganggur pasca lulus kuliah adalah masa rumah sedang ribut-ributnya. Saya dapat pinjaman saxophone dari Pa Edwin, suami Ma Eka. Tiap hari dimainkan, mending kalau bisa. Berhubung skill pas-pasan, dan niat hanya coba-coba, suara saxophone jauh dari merdu, malah lebih mirip klakson bernada.
Masa-masa nganggur itu juga adalah masa rajin-rajinnya rekaman di kamar. Di kamar komputer lebih tepatnya. Pada masa itulah muncul ide-ide gitar yang di kemudian hari jadi lagu esok pasti jumpa, di atas kapal kertas, dan (tak lupa) forego.
(rekaman kamar)
Kalau sedang rekaman, biasanya berebut giliran dengan ibu. Komputer itu sering dia pakai untuk mengurus ini itu. Karena repot bulak-balik beberes, barang-barang rekaman sering saya tinggal saja berantakan. Dan ibu cuek, tetap pakai komputer meski berantakan. Setelah pindah, berantakan dan ribut-ribut itu barang tentu tak akan ada lagi. Diterjemahkan ke dalam lagu, jadilah bait ketiga:
“…Kini kamarnya teratur rapi. Ribut suaranya tak ada lagi. Tak usah kau cari dia tiap pagi…”
Dan terakhir, bagian reffrain. Saya tak tahu apa hal ini semestinya diungkap atau tidak. Tapi ya sudah lah, kepalang tanggung. Sebenarnya “percakapan bapak-ibu” itu hanya modus saja. Seolah yang memberi pesan demikian bukan si anak, tapi si bapak.
Maksud sebenarnya adalah, bagian reffrain itu pesan dari anak buat ibunya. Berhubung saya juga sama tertutupnya seperti ibu, jadi untuk mengungkapkan sesuatu mesti pakai modus-modus tertentu. Dan di Beranda itulah modusnya.
Dalam bahasa yang lebih lugas, di Beranda adalah pesan kepada ibu agar tidak bersedih. Sejauh-jauhnya anaknya pergi, sejarang-jarangnya pulang, rumah dan segala isinya akan selalu ada di pikiran. Dan pasti, kami ini akan pulang, meski hanya sesekali.
“…Dan, jika suatu saat buah hatiku, buah hatimu untuk sementara waktu pergi. Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah, kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah…”
Sekian cerita tentang di Beranda dari separuh Banda Neira cabang Jakarta. Rara mungkin mau cerita juga, atau sudah ya di twitter. Hehe.
Ohiya, judul lagu ini adalah hasil sayembara. Dulu kami buka sayembara kecil-kecilan di twitter, karena habis ide cari judul. Dulu judul dari kami adalah “bapa-ibu ngobrol” haha.
Di twit kami tulis lirik lalu nanya ke orang-orang kira-kira apa judulnya yan asik. Lalu akun @nindysm muncul dengan usul: “Percakapan di Beranda.” Setelah diedit sedikit, jadilah usul dari Nindy kami pakai. Terima kasih Nindy.
Yak, sekian cerita tentang di Beranda. Sampai ketemu lagi di cerita-cerita selanjutnya. Terima kasih banyak telah membaca. Kalau teman-teman punya pengalaman serupa yang mirip-mirip seperti ini juga boleh lo dibagi. hehe.
Salam,
Banda Neira
Rara Sekar dan Ananda Badudu
*Ditulis dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, Jumat 21 Juni 2013
PS: maafkan kalau terlalu sentimentil.