Anak Laki-Laki Ibu
Bu, 2 hari lagi, insyaAllah anak laki-lakimu ini akan menikah. Karena Ibu belum pernah bertemu dengannya, ijinkan aku bercerita tentang perempuan yang akan mendampingi anak laki-lakimu ini Bu. Bu, Dia mungkin bukanlah perempuan tercantik yang pernah anak laki-lakimu temui. Tapi Bu, anak laki-lakimu tidak sedang mencari yang tercantik. Apalah arti kecantikan jika karena kecantikannya justru membuat anak laki-lakimu merasa tidak tenang Bu? Dia memang bukan yang tercantik, tapi percayalah Bu, parasnya sudah cukup membuat anak laki-lakimu ini tidak tergoda dengan wanita lain. Sudah cukup membuat anak laki-lakimu merasa tenang. Bukankah itu sudah cukup Bu? Bu, perempuan yang akan mendampingi anak laki-lakimu ini tidak sepandai Ibu dalam hal memasak. Setidaknya belum Bu. Tapi tenang Bu, aku bukanlah anak laki-lakimu yang dulu. Anak laki-lakimu yang sekarang tak lagi suka milih-milih makanan Bu. Apapun yang Dia hidangkan untukku, selama itu baik, insyaAllah akan aku makan Bu. Aku juga yakin, kelak dia akan sepandai Ibu dalam memasak. Bukan tidak mungkin pula masakannya lah yang akan aku rindukan setelah masakan Ibu. Bu, perempuan yang akan anak laki-lakimu nikahi tidak mengerti bahasa krama. Bukan berarti Dia tidak memiliki unggah ungguh alias sopan santun Bu. Hanya saja dia bukan orang jawa Bu. Dia orang minang. Jadi, maklumilah Bu. Ibu juga tidak perlu takut jika nanti cucu Ibu tidak bisa bahasa krama. Aku sendiri yang akan mengajarkan padanya Bu. Meskipun engkau tentu tahu benar bahwa anak laki-lakimu ini tak pandai-pandai amat soal bahasa krama. Bu, terima kasih untuk segala doamu yang tak pernah habis untuk anak laki-laki kesayanganmu ini. Kini, giliranku untuk terus mendoakanmu Bu. Dia pun turut mendoakanmu Bu. Kami berdoa semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu. Bu, semoga aku bisa terus mengunjungimu :) - Rumah | 171116 -












