SATU BULAN. Jangka waktu yang bisa dibilang singkat namun bisa juga panjang. Ini tergantung dari apa yang kita kerjakan dalam jangka waktu tersebut. Sebulan penantian tentulah terasa lama, sedangkan sebulan penuh kebahagiaan bisa jadi akan terasa singkat. Setidaknya itulah yang saya pahami. Lama atau sebentar itu relatif.
Bagi saya sendiri, sebulan ini terasa singkat. Gak terasa udah sebulan aja kami bersama. Rasanya baru kemarin saya bertamu ke rumahnya, rasanya baru kemarin saya mengucap ijab qabul. Ah, rasanya baru kemarin. Kadang juga kami masih ga nyangka kami yang dulunya acuh satu sama lain akhirnya memutuskan untuk menjalani hidup bersama. MENIKAH.
Di usia pernikahan yang masih seumur jagung ini, euforia kebahagiaan pernikahan masih sangat terasa. Euforia yang saya sadari harus dikelola dengan baik. Karena berumah tangga bukan soal sehari dua hari, tapi seumur hidup. Bukan melulu soal bahagia, tapi kadang juga ada kesedihan yang datang menghampiri. Jangan sampai kami terlena dengan euforia yang ada tapi lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan selanjutnya. Baik di dunia maupun di akhirat.
Selama sebulan ini kami banyak belajar. Pertama, pastilah kami belajar mengenal dan memahami satu sama lain. Sejauh apapun kami mengenal satu sama lain dulu, tetap saja ada hal-hal yang masih belum kami ketahui tentang pasangannya. Dan itu BANYAK.
Kemudian kami juga belajar mengenal dan memahami keluarga masing-masing. Beda daerah, beda persukuan, menjadi beberapa alasan timbulnya “kebiasaan” yang berbeda di antara keluarga kami. Ini perlu kami pelajari sebagai dasar sikap kami terhadap keluarga besar. Bagaimanapun juga kami sadar betul bahwa menikah bukan hanya menyatukan dua manusia, tapi dua keluarga.
Tak lupa kami juga belajar menjalani peran dan tanggung jawab masing-masing. Peran yang tentu saja baru bagi kami. Saya sebagai seorang suami, imam, serta kepala keluarga. Dia sebagai istri, makmum, serta ibu rumah tangga. Dalam prosesnya tak jarang saya sendiri merasa terharu dengan setiap usaha yang dia lakukan untuk menjadi istri yang baik. Menjadi istri yang diridhoi oleh suami. Setiap usaha yang mungkin tanpa ia sadari menjadi telah pelecut bagi saya untuk terus memberikan yang terbaik baginya sebagai seorang suami.
Tentunya masih banyak hal yang sudah dan akan kami pelajari bersama. Banyak hal, banyak cerita. Yang jelas kami menikmati setiap proses yang kami jalani saat ini. Kami bahagia :)