Udah Pada Tutup

seen from Croatia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Singapore
seen from Indonesia
seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Austria
seen from Italy
seen from Spain

seen from Australia
seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from China
seen from Italy
seen from United States
Udah Pada Tutup
A
#12 Meninggalkan-Ditinggalkan
Baskara menghentikan langkahnya di bangku taman dekat mushola sekolah. Hatinya jengkel. Putra sudah merusak suasana kondusif yang mati-matian dia ciptakan untuk Kayla. Putra selalu saja begitu, bahkan saat mereka masih mengenakan seragam putih-abu-abu.
Memang… ucapan Putra tidak salah : Baskara belum bisa melupakan Kayla. Hampir segala cara sudah dia coba ; tetap saja tidak bisa. Mungkin karena rasa cinta yang terlalu mega atau… karena pengingkaran berlebihan atas takdir yang Tuhan pilihkan atau mungkin... karena perasaan bersalah yang tidak berkesudahan. Entahlah. Yang jelas, Kayla selalu berhasil menyelinap di dalam pikiran Baskara bahkan ketika pikirannya sudah sesak dengan ambisi dan cita-cita.
Baskara sering mengetik nama lengkap Kayla di mesin pencarian, berharap menemukan jejak terbaru Kayla. Hasilnya? Hanya beberapa informasi akademik Kayla. Tidak ada satu pun hasil yang merujuk pada akun media sosialnya. Padahal Baskara ingat benar, dulu, setiap malam Kayla akan log-in ke akun Facebook miliknya untuk bermain Pet Society. Jika sudah mulai jenuh, Kayla akan beralih ke Twitter. Sangat banyak orang yang menyukainya disana. Bagaimana bisa seseorang yang dulu sangat aktif di media sosial, kini tidak memiliki satupun akun?
***
“Bas...” suara itu memecah lamunan Baskara. Kayla berdiri di hadapannya, tersenyum dengan sangat manis. Baskara menggeser posisi duduknya, seolah mempersilakan gadis itu duduk di sampingnya.
“Capek gak sih, Bas, lari terus? Makin jauh kita lari, makin berat beban yang kita bawa.”
“Bukan beban, cuma pertanyaan-pertanyaan yang gak kita tau jawabannya Akhirnya kita penasaran. Kalo dulu A, mungkin sekarang udah A’ kali, ya? Kenapa coba dulu gak A... kenapa malah B?”
“Penasaran sama masa lalu itu nama penyesalan. Apalagi kalo diawalin kata “kalau”, “jika”, “seandainya”, “andai”. Kalau rasa penasaran itu munculnya sering, apa gak jadi beban toh?”
Baskara terdiam mendengar ucapan Kayla. Kayla benar. Tidak... Kayla selalu benar, Baskara selalu salah. Kenyataan ini melukai ego Baskara. Dia tidak pernah membiarkan Kayla banyak bicara. Kayla harus bungkam, Kayla harus diam. Hanya Baskara yang boleh bicara, Kayla hanya boleh mendengarkan.
Baskara tidak pernah tau apa yang Kayla rasakan. Dia sudah membuat Kayla diam, pun tidak pernah menanyakan. Dia hanya menerka-nerka rasa dengan logika berpikir yang dimilikinya. Begitupun saat dia memutuskan hubungan dengan Kayla. Baskara tidak bertanya apa Kayla menerima. Saat itu Kayla hanya diam. Diamnya Kayla, dia terka sebagai sebuah tanda menerima, sebagai sebuah bentuk lain kata “ya”.
Barulah saat teman mereka satu per satu mulai memarahinya, mencacinya, membencinya – atas apa yang dia lakukan kepada Kayla – dia menyadari bahwa dirinya sangat jahat. Orang sejahat dia tidak pantas untuk orang sebaik Kayla.
Baskara sudah begitu lama menanti hari ini : hari dimana Baskara bisa menebus kejahatannya. Hari ini, Baskara tidak akan membiarkan Kayla diam. Hari ini, Kayla yang boleh bicara, Baskara hanya boleh mendengarkan. Hari ini pula... Baskara akan menanyakan apa yang Kayla rasakan. Pikiran dan hatinya sudah ribuan kali mati suri karena terlalu lama menerka-nerka.
“Orang bijak ternyata bisa salah. Kamu tau salah satu kesalahannya?” tanya Kayla. Baskara menggelengkan kepala, membiarkan hanya Kayla yang bicara.
“Mereka bilang, waktu bisa mengobati segalanya. Se-ga-la-nya loh, Bas. Ternyata... toh luka kalo disimpen lama-lama, ya bakal makin parah. Pertanyaan... kalo disimpen lama-lama ya, bakal makin besar. Jadi, waktu gak bisa mengobati apa-apa, manusia yang harus susah payah mengobati apapun. Ya dirinya sendiri, ya keadaan. Ya gak?” tanya Kayla lagi. Baskara kali ini menganggukkan kepala. Kayla sedikit bingung karena Baskara tidak secerewet biasanya, tapi dia juga senang karena akhirnya memiliki waktu untuk mengeluarkan bebannya satu per satu.
“Waktu kamu mutusin aku, asli... aku benci banget sama kamu. Kok bisa ya orang yang aku sayang, orang yang katanya sayang sama aku, segitu jahatnya? Parah banget mutusin sepihak tanpa ba-bi-bu, gak nanyain aku gimana, gak peduli blas sama aku. Aku sedih banget... ngurung diri di kamar, gak mau makan, 2 hari bolos sekolah. Tapi... sebenci-bencinya aku, kadang aku ngarep kamu dateng, minta maaf, atau bahkan ngajak balikan. Kehilangan kamu beda, Bas, sama kehilangan Mama. Aku gak pernah tau rasanya punya Mama, gak pernah denger suara Mama, gak pernah ngeliat Mama langsung, tapi gimana pun... aku cinta sama Mama. Sementara kamu... aku udah ngelewatin banyak hari sama kamu, ngelewatin banyak momen... pas kamu pergi, rasanya hidup aku bener-bener berubah.”
Tiap kalimat yang keluar dari bibir Kayla, membuat dada Baskara sesak. Perasaan Kayla saat Baskara meninggalkannya mungkin serupa dengan perasaan Baskara saat Ayah meninggalkan dia, Ibu, dan adik-adiknya. Rasa benci yang sama, rasa sedih yang sama. Mungkin selama ini Baskara terlalu berlebihan membenci sang Ayah sampai perilakunya menjadi persis dengan orang yang paling dia benci. Pada akhirnya, kebencian yang berlebihan itu justru membuat dia membenci dirinya sendiri.
“Orang bijak bilang, perpisahan yang paling menyedihkan itu perpisahan karena kematian : kita gak dikasih waktu pamitan, ngucapin selamat tinggal. Lagi-lagi salah. Perpisahan yang paling menyedihkan itu perpisahan karena seseorang milih pergi disaat dia punya banyak alasan untuk tinggal. Seseorang yang milih pergi biasanya gak begitu tersakiti. Dia seolah-olah yang megang kendali. Sesakit-sakitnya dia, dari jauh-jauh hari, dia bisa nyiapin diri. Yang ditinggal pergi? Biasanya sih gak punya banyak pilihan. Cuma bisa meratapi, menangisi, sampe suatu hari dia capek sendiri...”
“... dan akhirnya pelan-pelan mengikhlaskan yang milih pergi. Yang ditinggal pergi gak boleh membenci yang milih pergi. Di dunia ini, gak ada seorang pun yang bener-bener dia miliki. Semua orang bakal datang dan pergi dengan alasan sendiri-sendiri. Kadang alasannya gak harus kita mengerti. Yang jelas, datang atau perginya pasti membawa kebaikan buat diri.” sambung Baskara.
Baskara ingat benar kata-kata ini. Sang pemilik kata sudah menyampaikan puluhan kali kepadanya. Bahkan, dia tahu pasti di kata apa harus berhenti sejenak. Kata-kata yang selama ini hanya dia maknai sebagai nasihat dari orangtua kepada anaknya. Kata-kata yang ternyata akan terasa begitu dalam maknanya ketika disampaikan oleh orang yang sudah dia tinggal pergi.
#11 - Bubar
Mamer masih terdiam. Otaknya menyuruh ia untuk tampak biasa saja meski ia tidak tahu harus menarik otot bagian mana di wajahnya agar dapat memproyeksikan ekspresi netral. Sejujurnya ia bahkan tidak tahu kini wajahnya menampakkan raut seperti apa. Hanya rasa dingin yang membuat kebas, mungkin disebabkan oleh tidak adanya darah yang mengalir ke area kepalanya, sehingga selain menurunkan suhu wajahnya, juga melemahkan persepsi otaknya pada ruang dan waktu. Bagi Mamer, waktu terasa seperti berhenti, telinganya bagai dilapisi kain-kain yang merendam suara serta pupilnya bergetar hebat, mengaburkan pandangan pada hampir semua hal, keculai belakang kepala Rika yang bergerak mengangguk-angguk dalam gerak lambat.
Darah-darah yang tidak mengalir di wajahnya, sedang mengalir deras menuju luka terbuka di dadanya, sebuah lubang bulat sempurna, cukup besar dan terpotong dengan rapi, seperti hasil hantaman pembolong kertas. Mamer dapat merasakan angin berhembus melewati lubangnya, mendinginkan sisi-sisinya yang panas, sekaligus menimbulkan keperihan di sekeliling luka basah itu. Keperihan yang terasa menjadi setiap kali matanya yang terpaku pada belakang kepala Rika, menangkap seiris sisi wajah Rika yang sesekali muncul dari balik rambut hitamnya yang halus.
Mamer mengingat semua ini, ia mengetahui luka separah dan seberlebihan ini dapat terjadi, sebab ia pernah mengalami patah hati yang sekacau ini sebelumnya, pada orang yang sama, dalam waktu yang lain. Perasaan tidak nyaman ekstrim, bersarang, dan sempat menganggu kegiatan sehari-hari Mamer. Perasaan yang waktu itu membuat Mamer sengaja-tidak sengaja, memutuskan untuk menjauh dari harapan akan dicintai sebab ia tidak mau lagi meresikokan kewarasannya untuk peluang 50-50 antara perasaan dicintai dan perasaan tidak diinginkan. Kawan-kawannya yang dulu mengetahui urusan patah hati itu, mengingatkan Mamer bahwa patah hati bukan seharusnya membuat seseorang berhenti berharap, sebab jaringan-jaringan yang rusak selalu diperbaikin oleh jaringan baru yang lebih kuat, maka Mamer seharusnya berani mengambil langkah mengobati patah hatinya, terlepas dari resiko akan mengalami hal yang sama.
Namun patah hati bagi Mamer terasa sangat menyakitkan, dan ia sendiri tidak mengerti mengapa begitu mudah bagi orang lain untuk sembuh dan kembali bahagia. Apakah luka mereka tidak sebesar luka Mamer? seharusnya tidak juga, sebab Mamer mengetahui sendiri ada diantara orang-orang yang ia kenal sudah dan sedang mengalami urusan hati yang jauh-jauh lebih mencederai jika dibandingkan dengan patah hatinya karena hanya tidak mampu menghadapi penolakan. Apakah hati Mamer yang terlalu lemah? mungkin perasaannya melebih-lebihkan kejadian yang ia alami, membuatnya menyakiti hatinya sendiri lebih dari kata-kata Rika dan harapannya yang hancur. Seperti seorang sakit yang menolak berobat, Mamer hanya memperpanjang penderitaannya sendiri dengan menghindari tindakan-tindakan yang mengandung resiko. Namun, jika seseorang baru saja kehilangan kaki kanannya karena menginjak ranjau, normalnya butuh waktu berapa lama hingga ia dapat memberanikan diri untuk kembali melangkah menuju potensi wilayah aman dengan meresikokan kaki kirinya? Lalu kapan ia boleh memutuskan untuk berhenti mencoba sebelum semua bagian tubuhnya hancur oleh ledakan ranjau yang berulang kali ia injak?
Mamer masih terdiam. Nira memandangnya dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan. Friska, memandang kosong kearah panggung, berusaha menjauhkan diri dan kesadarannya dari siluet menyedihkan Mamer yang sedang runtuh di sudut matanya. Ia sedikit kesal dengan dirinya sendiri sebab merasa bersalah atas kondisi Mamer sekarang, meski kontribusi lukanya mungkin hanya satu-dua goresan diatas cidera Mamer jika disandingkan dengan kerusakan yang disebabkan Rika, sementara Rika sendiri justru terlibat obrolan ringan dengan Wulan, seolah alpa atas bencana dari angin kecil yang dihembuskannya tanpa kesadaran berarti. Wulan, yang meskipun menikmati obrolan kecilnya bersama Rika, tidak dapat berhenti terganggu atas sikap Mamer yang dari balik matanya nampak memasang wajah terluka yang berlebihan, dan dalam diamnya jelas-jelas meminta perhatian dari orang-orang disekelilingnya, seperti seorang anak yang terjatuh dari sepeda dan menangis kesakitan dengan harapan ayah ibunya akan datang membantu, menenangkan, dan mengingatkannya untuk berhati-hati jika bersepeda di jalanan tidak rata seolah jalan tersebut adalah penyebab utama rusaknya lutut si anak, ketika penjahat terbesar adalah payahnya kemampuan bersepeda dan kurangnya perlindungan diri. Naik sepeda sudah pasti akan jatuh, jatuh cinta sudah pasti akan patah hati. Meski Wulan sesungguhnya tidak terlalu peduli akan kenaifan dan kelemahan hati Mamer, ia menjadi terganggu ketika kelemahan itu mengundang iba Nira, seorang anak bersepeda lain yang masih penuh luka, dan sedang berusaha ia obati. Maka didorong perasaan kesal itu, Wulan berujar sambil berusaha menjaga keramahannya dengan Rika - yang memang menyenangkan - tanpa menghentikan percakapan mereka.
“Ka laper e aku, ono sosis bakar jarene ning stan, yok lah baturi, yok Nir!” Dan dengan kalimat itu, sembari menggamit Nira dan setengah menyeretnya menjauhi Mamer, sekaligus menarik Rika dan memberi isyarat agar Rika berjalan ke arah stan makanan dengan anggukan kepala, Wulan membubarkan sekaligus mengevakuasi sahabatnya dari bencana sosial yang menyebalkan meskipun sudah bisa diduga.
#9 Mata
Di perkumpulan tidak terduga namun bukan sepenuhnya tak terpikirkan ini, keheningan adalah kehadiran yang paling terasa. Setidaknya bagi tiga di antara lima orang teman SMA ini, di mana dalam kepala mereka masing-masing sedang timbul badai pikiran besar yang mampu membisukan hingar bingar reuni, serta obrolan ringan antara Rika dan Wulan.
Rika yang nampaknya tidak menyadari bahwa ia telah menimbulkan awan hitam di dalam kepala Mamer, meneruskan percakapan ringannya dengan Wulan. Sementara Wulan merasa bersyukur karena bukan saja Rika terang-terangan mengakui statusnya -menjawab kecurigaan Nira soal hubungan antara Rika dan Mamer- namun juga karena Rika tidak menjadi canggung atas pertanyaan tersebut, sehingga setidaknya kini bagi Wulan suasana mulai menjadi ringan dan nyaman.
Dari sudut matanya, Wulan sedikit menangkap profil Nira, dan di antara obrolannya dengan Rika, ia berusaha menangkap ekspresi dan membaca suasana hati Nira selepas pengakuan Rika. Nihil. Wulan tidak menangkap perubahan ekspresi berarti di wajah Nira. Meski begitu, Wulan mengerti bahwa hati Nira tidak pernah ditampilkan pada publik melalui ekspresi yang dapat dilihat secara nyata. Hanya melalui percakapan dan sinar mata saja, Wulan kemudian dapat memahami apa yang sedang dirasakan sahabatnya. Namun kini situasinya tidak cukup privat untuk dapat membuka percakapan yang nyaman dengan Nira.
Nira memang sedang menutupi perasaan membingungkan yang timbul dari rangkaian kejadian yang mendadak dan mengagetkan ini. Ia semula lega karena tanpa direncakan, berakhir bersama Friska di sisi kiri panggung setelah ia nyaris bertemu Mamer dan Rika yang sedang bercakap-cakap bersama beberapa teman di depan panggung. Meski canggung, ia tahu bahwa Friska juga akan menghindari Mamer, sehingga kecil kemungkinan baginya untuk bertemu Mamer dalam situasi yang tidak ideal.
Namun memang Tuhan tidak bermain dengan kemungkinan, sebab tidak sampai sepuluh menit Nira bersama Friska, Mamer dan Rika tanpa disangka muncul mengejutkan dari balik kerumunan, berniat mencari camilan. Entah siapa yang menyadari kehadiran siapa terlebih dahulu, tapi saat pandangan Nira terkunci pada Mamer yang sedang didorong lembut oleh Rika, hatinya tersentak dan terpuntir tidak karuan, seperti kubus rubik yang diacak berantakan.
Kejutan bagi Nira, dan mungkin semua orang disana, hadir secepat yang pertama : pertanyaan Wulan dan jawaban Rika. Entah apa yang ada di pikiran sahabatnya itu hingga secara lantang menanyakan hubungan Rika dan Mamer, padahal Wulan jelas-jelas mengetahui perasaan Nira pada Mamer. Bagaimana jika jawaban yang keluar adalah jawaban yang paling ia takuti namun sudah sangat ia sangka-sangka? Bagaimana jika Rika dan Mamer memang kembali berhubungan? Entah apa jadinya hati Nira ketika ia mendengar jawaban seperti itu. Mungkin perasaannya tidak akan bisa ia sembunyikan sebaik sekarang. Rasa tenang, lega, dan tumbuhnya harapan. Meski di saat bersamaan, muncul rasa iba yang menyesakkan hati ketika ia melihat Mamer yang berdiri lemah di depannya. Rika menangkap keributan dan kerusakan dari mata Mamer yang meredup, diam, namun memancarkan kekalutan yang hebat.
Kekalutan yang menenggelamkan perasaan lega Nira dalam samudra kelam bisu menulikan. Membuatnya tak berdaya kala badai petir bergemuruh dan ombak mengacau, menghancurkan kapal yang kini pelan-pelan turun semakin dalam ke palung hingga akhirnya karam tak bergerak di kedua mata cokelat Mamer.
Sekarang, Nira bingung dan frustrasi. Kenyataan bahwa Rika dan Mamer tidak bersama terasa sangat membebaskan. Ia merasa bahwa kenyataan tersebut dapat membuatnya lebih nyaman dan pantas mengungkapkan soal perasaanya yang masih ia miliki selama ini pada Mamer. Kenyamanan yang kemudian dikonversikan menjadi rasa bersalah yang tidak kalah besarnya ketika ia mendapati bahwa kenyataan yang melegakan baginya, sangat menyesakkan bagi Mamer.
Kenapa bagi Nira, perasaannya baru bisa terungkap jika perasaan Mamer pada Rika sudah hancur lebur? Kenapa bagi Nira, kebahagiaannya hanya mungkin dibangun di atas patah hatinya Mamer?
#7 - Keramaian
“Nir, Friska iku lho!” seru Wulan setengah berbisik pada Nira yang masih berjalan mengambang di dekatnya, kini tinggal berdua ditinggalkan gerombolan angkatan 2009 yang lain.
“Terus?” balas yang dibisiki tanpa memberikan banyak ekspresi untuk dicerna, meski kemudian langkahnya perlahan menjauh dari area tempat Friska berdiri. Wulan menggeleng dan mengguman, mengisyaratkan bahwa tidak ada lanjutan dari peringatannya soal kehadiran Friska di reuni ini. Ia melihat dengan cepat obrolan grup di telepon genggamnya, memeriksa ulang daftar konfirmasi kehadiran dan memastikan ingatannya bahwa Friska tidak mengabarkan akan datang saat hari - H.
“Paling nemenin Kayla, Lan.” Ujar Nira masih minim emosi, seolah menjawab jalan pikiran Friska yang langsung mengangguk dan berdeham pelan, terasa tidak yakin akan memberi komentar apa. Bagi Wulan, Nira adalah salah satu sahabatnya yang paling sulit ia hadapi. Bukan karena perihal ketidakcocokan atau kesulitan berkomunikasi, namun perihal prasangka Wulan akan sensitivitas Nira dalam menerima informasi terkait beberapa subjek. Secara umum, Nira tampil dan hidup sebagai perempuan mandiri dan cuek yang tidak akan menggubris ketika hari-hari dan perasaannya digelayuti berbagai ketidaknyamanan kecil. Kenangan dan harapan yang tidak terpenuhi adalah salah satu dari ketidaknyamanan tersebut. Namun, Wulan telah menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Nira dibandingkan manusia-manusia lain, dan ia kebetulan selalu ada di dekat Nira ketika berbagai perasaan yang tidak digubris itu tanpa disadari telah menggumpal dan berombak dalam hati Nira, sehingga kemudian cukup kuat untuk meluap saat malam-malam paling sunyi, atau ketika percakapan-percakapan paling tulus sedang terjadi di antara Nira dan Wulan.
Gerombolan 2009 mulai berpencar dengan kelompok bermainnya masing-masing. Beberapa berniat mengadakan wisata kuliner skala mini dengan mengunjungi stan-stan makanan karya adik-adik kelas mereka kini, beberapa yang sedang diburu nostalgia tanpa sungkan menghampiri area duduk guru-guru di sisi kanan panggung, dan sekelompok kecil yang sekarang sedang diikuti oleh Wulan dan Nira, langsung menuju depan panggung untuk menikmati hiburan suguhan siswa-siswi dan beberapa alumnus.
Entah takdir yang memang sedang bersenda dengan Nira hari ini, atau mungkin hal-hal seperti pertemuan tak diinginkan dengan orang yang dihindari adalah hal lumrah dalam kondisi-kondisi reuni semacam ini. Tidak jauh dari kelompok 2009 yang sedang mereka ikuti, nampaknya sudah ada kelompok lain yang berdiri dekat panggung, sedang tertawa dan mungkin bernostalgia. Diantara tawa itu samar Nira menangkap suara Mamer -yang dikonfirmasi oleh bisikan panik Wulan- dan betapapun Nira ingin menemui Mamer, kondisi idealnya adalah untuk mereka bertemu dan berbincang berdua di ruang yang cukup memberikan privasi bagi Nira untuk secara tenang dan nyaman mampu menyuarakan rindunya pada Mamer, dan bahwa rindu itu tidak ia minta untuk dibalas, hanya untuk diakui saja. Mamer yang sedang berada dalam keramaian, tertawa bersama Rika, bukanlah Mamer yang ingin ia temui sekarang. Maka dengan mulut getir dan jantung berdegup, Nira menggamit lengan Wulan seraya mengarahkan langkah mereka menjauhi sisi tengah panggung, sedikit terbawa arus keramaian yang berangsur menuju area makanan, hingga mereka karam di sebelah orang kedua yang tidak ingin Nira temui hari ini.
“Lha geng?” sapa orang tersebut tanpa kekagetan yang disembunyikan.
“Fris,” sapa Nira lemah seperti mengakui kekalahan atas pertarungan yang belum pula akan dimulai.
“Ngga sama Kayla?”
“Sama Kayla,” jawab Friska kaku, “tapi beliau diculik Baskara.”
“Ooh.” Gumam Nira disusul keheningan tidak nyaman yang membuat gatal tenggorokan Wulan, namun tidak berani ia pecahkan, meski pada akhirnya ia nekat juga.
“Mantan ya?” celetuk Wulan nekat, dan sepertinya fatal sebab usahanya memecah ketidaknyamanan justru diganjar anggukan diam, mulut yang rapat dan mengencang, serta suasana yang lebih suram dan lebih sunyi lagi, meninggalkan Wulan membatin, bajigur.
***
Di depan panggung, Rika, Mamer, dan sekelompok kecil angkatan 2009 sambil lalu mendengarkan penampilan musik entah apa, sembari menikmati obrolan-obrolan ringan yang masih terasa tanpa tendensi. Mamer sedikit bersyukur sebab jika lebih lama lagi berduaan dengan Rika, entah akan bagaimana perasaannya bereaksi pada ruang, waktu, dan kesempatan yang bagi Mamer mungkin tidak akan terjadi tanpa keadaan seperti ini. Keadaan yang mau tidak mau membuat Mamer mendengarkan hatinya tanpa peduli harga diri maupun prinsip-prinsip naif yang membuatnya menanggalkan segala jenis harapan demi “keselamatan” hatinya. Keselamatan yang kini ia nomorduakan ketika sentuhan, senyuman, dan keramahan Rika melepaskan dopamin dalam darah Mamer, memicu ingatan akan hari-hari bahagia mereka, menyudutkan sisi lain dari kenangan tersebut, tahun-tahun keputusasaan ketika Mamer dihantam kenyataan bahwa selama itu, Rika tidak pernah jatuh cinta kepadanya, dan segala sayang selama mereka bersama - hingga setelah berpisah sampai awal-awal tahun perkuliahan mereka, semata mengatasnamakan persahabatan.
Ketika itu Mamer hancur. Tidak pernah ia menyangka, sakit hati dapat terasa sampai fisik dan bukan cuma kiasan. Tahun-tahun setelah Mamer menerima fakta tersebut pada 2014, ia masih merasakan lubang bulat sempurna menganga di dadanya. Tapi tidak hari ini. Hari ini ketika Mamer memegang dadanya, tidak terasa hampa dan pedih. Meski lubang tersebut belum sepenuhnya menutup, namun proses penerimaan yang panjang, telah pelan-pelan mengecilkan radius sakit hatinya. Hari ini, Mamer merasa nyaman berada dekat dengan Rika, yang sempat ia jadikan alasan asal kesendiriannya selama ini.
“Mer!” Hentak Rika lembut menyikut lengan Mamer.
“Eh opo toh?” Mamer tersadar dari arus pikirannya, menjawab seadanya.
“Kok opo toh seh? Ituloh anak-anak udah pada jalan mau keliling stan jajanan, hayu melu ora?” Tanpa menunggu jawaban, Rika berangsur menggiring Mamer dari bahunya menjauh dari panggung, menuju stan makanan di sisi kiri panggung.
Entah takdir yang memang sedang bergurau hari ini, atau mungkin hal-hal seperti pertemuan tak diinginkan antara seorang lelaki dengan sekumpulan orang yang dihindari, di mana di antara sekumpulan orang tersebut ada seseorang yang sedari tadi sangat gatal tenggorokannya tercekik keheningan antara seorang perempuan mantan pacar, dan seorang perempuan lain yang diam-diam menyukai si lelaki, yang kini tengah digiring menuju arah mereka oleh seorang mantan pacarnya yang lain, adalah hal lumrah dalam kondisi reuni semacam ini. Maka, ketika Mamer dan Rika sudah ada dalam jarak pendengaran dan pandangannya, tanpa menahan diri dan tanpa menggubris kegelisahan besar yang terbentuk diantara Friska dan Nira, Wulan berseru dalam keputusasaannya melegakan rasa gatal di tenggorokannya, sekaligus mungkin dapat menjawab pertanyaan dalam diri Nira, memanggil Mamer dan Rika, kontan.
“Mer, Ika! Dos gandoos apet tenan! Balikan po?” Pertanyaan yang memancing keruhnya emosi diantara kelompok ini, namun bagi Wulan layak dicoba dibandingkan kecanggungan yang sudah mulai tidak lucu lagi.
Mamer yang diajukan pertanyaan, terbata tidak mampu memproduksi kata-kata logis sebab otaknya masih memproses bagaimana ia sedang digiring oleh Rika, menuju Friska, yang sedang bersama Nira, lalu Wulan dan pertanyaan ajaibnya. Perasaannya yang tegang sedari pagi, eskalasi kegembiraan dari musik dan waktu berdua bersama Rika, dan kebingungannya saat ini kemudian tidak bisa dibandingkan dengan kekacauan yang ia rasakan sesaat setelah Rika, yang nampaknya tidak terganggu oleh spontanitas Wulan, ringan menjawab sambil terkekeh,
“balikan piye seh, aku ada pacar lho Mbak Wulan!”