Di perkumpulan tidak terduga namun bukan sepenuhnya tak terpikirkan ini, keheningan adalah kehadiran yang paling terasa. Setidaknya bagi tiga di antara lima orang teman SMA ini, di mana dalam kepala mereka masing-masing sedang timbul badai pikiran besar yang mampu membisukan hingar bingar reuni, serta obrolan ringan antara Rika dan Wulan.
Rika yang nampaknya tidak menyadari bahwa ia telah menimbulkan awan hitam di dalam kepala Mamer, meneruskan percakapan ringannya dengan Wulan. Sementara Wulan merasa bersyukur karena bukan saja Rika terang-terangan mengakui statusnya -menjawab kecurigaan Nira soal hubungan antara Rika dan Mamer- namun juga karena Rika tidak menjadi canggung atas pertanyaan tersebut, sehingga setidaknya kini bagi Wulan suasana mulai menjadi ringan dan nyaman.
Dari sudut matanya, Wulan sedikit menangkap profil Nira, dan di antara obrolannya dengan Rika, ia berusaha menangkap ekspresi dan membaca suasana hati Nira selepas pengakuan Rika. Nihil. Wulan tidak menangkap perubahan ekspresi berarti di wajah Nira. Meski begitu, Wulan mengerti bahwa hati Nira tidak pernah ditampilkan pada publik melalui ekspresi yang dapat dilihat secara nyata. Hanya melalui percakapan dan sinar mata saja, Wulan kemudian dapat memahami apa yang sedang dirasakan sahabatnya. Namun kini situasinya tidak cukup privat untuk dapat membuka percakapan yang nyaman dengan Nira.
Nira memang sedang menutupi perasaan membingungkan yang timbul dari rangkaian kejadian yang mendadak dan mengagetkan ini. Ia semula lega karena tanpa direncakan, berakhir bersama Friska di sisi kiri panggung setelah ia nyaris bertemu Mamer dan Rika yang sedang bercakap-cakap bersama beberapa teman di depan panggung. Meski canggung, ia tahu bahwa Friska juga akan menghindari Mamer, sehingga kecil kemungkinan baginya untuk bertemu Mamer dalam situasi yang tidak ideal.
Namun memang Tuhan tidak bermain dengan kemungkinan, sebab tidak sampai sepuluh menit Nira bersama Friska, Mamer dan Rika tanpa disangka muncul mengejutkan dari balik kerumunan, berniat mencari camilan. Entah siapa yang menyadari kehadiran siapa terlebih dahulu, tapi saat pandangan Nira terkunci pada Mamer yang sedang didorong lembut oleh Rika, hatinya tersentak dan terpuntir tidak karuan, seperti kubus rubik yang diacak berantakan.
Kejutan bagi Nira, dan mungkin semua orang disana, hadir secepat yang pertama : pertanyaan Wulan dan jawaban Rika. Entah apa yang ada di pikiran sahabatnya itu hingga secara lantang menanyakan hubungan Rika dan Mamer, padahal Wulan jelas-jelas mengetahui perasaan Nira pada Mamer. Bagaimana jika jawaban yang keluar adalah jawaban yang paling ia takuti namun sudah sangat ia sangka-sangka? Bagaimana jika Rika dan Mamer memang kembali berhubungan? Entah apa jadinya hati Nira ketika ia mendengar jawaban seperti itu. Mungkin perasaannya tidak akan bisa ia sembunyikan sebaik sekarang. Rasa tenang, lega, dan tumbuhnya harapan. Meski di saat bersamaan, muncul rasa iba yang menyesakkan hati ketika ia melihat Mamer yang berdiri lemah di depannya. Rika menangkap keributan dan kerusakan dari mata Mamer yang meredup, diam, namun memancarkan kekalutan yang hebat.
Kekalutan yang menenggelamkan perasaan lega Nira dalam samudra kelam bisu menulikan. Membuatnya tak berdaya kala badai petir bergemuruh dan ombak mengacau, menghancurkan kapal yang kini pelan-pelan turun semakin dalam ke palung hingga akhirnya karam tak bergerak di kedua mata cokelat Mamer.
Sekarang, Nira bingung dan frustrasi. Kenyataan bahwa Rika dan Mamer tidak bersama terasa sangat membebaskan. Ia merasa bahwa kenyataan tersebut dapat membuatnya lebih nyaman dan pantas mengungkapkan soal perasaanya yang masih ia miliki selama ini pada Mamer. Kenyamanan yang kemudian dikonversikan menjadi rasa bersalah yang tidak kalah besarnya ketika ia mendapati bahwa kenyataan yang melegakan baginya, sangat menyesakkan bagi Mamer.
Kenapa bagi Nira, perasaannya baru bisa terungkap jika perasaan Mamer pada Rika sudah hancur lebur? Kenapa bagi Nira, kebahagiaannya hanya mungkin dibangun di atas patah hatinya Mamer?