Riuh rendah percakapan nostalgia terdengar akrab dari penjuru kantin dekat mushola, kawan-kawan lama bertemu, saling mengingatkan satu sama lain tentang masa lalu yang mengasyikkan. Di sudut-sudut yang cukup lebar untuk duduk, kelompok - kelompok kecil terbentuk dalam kisahnya masing - masing. Kebanyakan dari mereka, mengenang dalam keramaian, namun beberapa memilih untuk berenang - renang dalam ingatannya sendiri. Nira adalah satu di antara sedikit yang sedang larut dalam lamunan soal masa putih - abunya, tidak seluruhnya, tetapi secara khusus soal satu orang yang sedikit banyak mencekat kelegaan hatinya selama satu dekade ini.
Riuh rendah percakapan nostalgia yang terdengar semakin akrab dari seluruh kantin, menjadi suara latar bagi ingatan - ingatan Nira. Semakin menyamankan benaknya untuk terus terkenang lebih dalam, ditenggelamkan dan disamarkan kerinduan - kerinduan kecil di sekelilingnya. Tanpa Nira inginkan, sebuah senyum kecil terbentuk di wajahnya ketika ia sadar bahwa hari ini, mereka dapat bertemu lagi dan Nira akhirnya bisa mengatakan hal yang akhir - akhir ini mengendap di tenggorokannya.
"Aku kangen lho, Mer!" Di gerbang depan, cukup jauh dari kantin tempat kelompok angkatan Mamer berkumpul, Rika berseru spontan menyambut teriakan Mamer. "Kamu ngilang gitu lho habis kita lulus-lulusan kayak diculik alien." Lanjutnya, masih membawa senyum yang sudah tersungging sejak Mamer melihatnya dari pos Pak Mur.
"Memangnya orba Mbak Rika, yang ngilang iku mesti diculik?" sahut Pak Mur menyelamatkan wajah Mamer yang nyaris mengatakan "aku juga kangen kamu."
"Hussst huwalah Pak Mur ngeri ngono loh guyonane!" protes Rika riang sembari perlahan mendorong Mamer untuk beranjak pergi dari pos satpam. Mamer bergidik lembut menyadari dorongan halus itu, sedikit wangi parfum Rika tertangkap hidungnya, dan meski bukan wewangian yang sama yang umum dipakai anak SMA, Mamer tak bisa menahan laju kenangan yang mulai merembes ke alam sadarnya. Dalam usaha untuk tetap tenang, Mamer melambaikan santai tangan kanannya seraya pamit dari penjaga gerbang yang masih menertawakan lawakan orde barunya.
“Masih hapal yo si Pak Mur ke kamu,” Mamer membuka obrolan setelah mereka berjalan cukup jauh dari gerbang.
“Pasti lah Mer, lha wong dulu kalo kamu telat aku yang guyonan sama Pak Mur biar dianya lupa tutup gerbang.”
“Mosok? Bukannya gara-gara aku sama Sigit suka nungguin kamu sama Nira pulang kumpul OSIS?”
“Ngarang, Sigit iya sering, kamu mana ada,” tandas Rika dengan nada marah - bercandanya yang khas.
“Iya, Sigit apa kabar ya, Ik” lambat dan pelan Mamer ucapkan, diiringi hembusan napas halus.
Rika tersenyum, memandang wajah Mamer yang lekat lurus menatap jalur yang terpisah di depannya, satu menuju kantin, satu langsung menuju lapangan tempat suara pembawa acara yang sedang membuka acara mulai terdengar semakin kencang.
“Langsung lapangan ae yok Mer?”
Di lapangan, barisan putih - biru siswa - siswi baru SMANSA sudah ramai dari pagi di hari pertama OSPEK angkatan 2009, Mamer yang datang nyaris terlambat dan sudah basah berkeringat, segera masuk barisan paling belakang sembari kepalanya melongok sesekali mencari Si Poni Kelinci yang tempo hari membuat perutnya bergolak.
“Nyari sopo seh lur?” tanya anak lelaki di sebelahnya, datar tanpa terdengar nada penasaran yang sungguh - sungguh. Sedikit terkejut, Mamer hanya menggeleng, sembari matanya mencoba membaca nama di kalung karton tanda pengenal.
“Rasah ngintip - ngintip hoy, kalau pengen tau itu ya nanya toh,” seru si pemilik tanda pengenal masih tanpa nada dan ekspresi yang berarti, “Mahameru.” sambungnya membaca nama yang tertulis di karton Mamer.
“Ngandani tapi sama ndak nanya,” protes Mamer, masih berusaha membaca nama si anak laki-laki tanpa ekspresi yang kini malah iseng memutar balik muka kartonnya, menghentikan usaha Mamer memperoleh namanya secara gratis tanpa bertanya. “Yowes, njenenge sopo?”
“Karepmu, panggilnya Mamer ae yo”
“Sopo?” Mata Sigit membesar sedikit, tepi bibirnya sedikit naik, dan meski secara umum masih masuk dalam kategori tanpa ekspresi dan datar, namun kini perhatiannya secara penuh tertuju pada Mamer.
“Jarene wes paham? Mamer.” Tukas Mamer senang dan jumawa merasa berhasil mencetak skor dalam pertandingan adu percakapan yang tidak berarti ini. Sigit mengangguk, sepertinya tidak lagi ingin meneruskan pembicaraan terlalu panjang soal nama, lalu kembali membuka pertanyaannya yang belum terjawab.
“Mesti tadi cari anak perempuan.”
“Imut,” jawab Mamer spontan, lalu berusaha meralat ketika ia menyadari bahwa Sigit sudah tidak memperhatikannya lagi. Ia nampak sedang berpikir cukup serius, tangannya tersedekap dan dahinya sedikit berkerut sembari mengangguk - angguk pelan. Perlahan wajahnya terangkat dan sembari memandang Mamer, ia berkata, “Nira?”
Di kantin, Nira masih melamun ketika seseorang menyenggol bahunya. Wulan, teman terdekatnya hingga kini, memasang wajah pura-pura cemberut, memprotes lamunan Nira. Lamunan yang sudah sering sekali ia dengar, lamunan yang sudah dibahas dengan berbagai gaya, sudah ia patahkan, sudah ia semangati, sudah ia ejek. Lamunan yang belum berkesudahan selama satu dekade lamanya.
“Lapangan yok,” ajak Wulan menggamit Nira berdiri. Si empunya lengan memandang Wulan dengan guratan protes di wajahnya, protes yang hampir disuarakan sebelum dipotong ketus, “Baca grup Nir.”
Nira meraih telepon genggam dalam tas tangannya, yang selalu dalam mode getar, sigap membuka grup yang dimaksud Wulan.
“Anak2 di kantin samping mushola tu lho mer, km dmn ini?”
“Aku sama Mamer langsung lapangan yes geeng”
Jemari Nira pelan menutup jendela percakapan grup, dan mematikan lampu layar. Dari gelapnya pantulan layar, ia bisa memandang separuh sisi wajahnya, dahi, alis, dan mata kanannya. Selama beberapa detik, wajah dari kaca gelap itu, nampak sangat bodoh.