#12 Meninggalkan-Ditinggalkan
Baskara menghentikan langkahnya di bangku taman dekat mushola sekolah. Hatinya jengkel. Putra sudah merusak suasana kondusif yang mati-matian dia ciptakan untuk Kayla. Putra selalu saja begitu, bahkan saat mereka masih mengenakan seragam putih-abu-abu.
Memang… ucapan Putra tidak salah : Baskara belum bisa melupakan Kayla. Hampir segala cara sudah dia coba ; tetap saja tidak bisa. Mungkin karena rasa cinta yang terlalu mega atau… karena pengingkaran berlebihan atas takdir yang Tuhan pilihkan atau mungkin... karena perasaan bersalah yang tidak berkesudahan. Entahlah. Yang jelas, Kayla selalu berhasil menyelinap di dalam pikiran Baskara bahkan ketika pikirannya sudah sesak dengan ambisi dan cita-cita.
Baskara sering mengetik nama lengkap Kayla di mesin pencarian, berharap menemukan jejak terbaru Kayla. Hasilnya? Hanya beberapa informasi akademik Kayla. Tidak ada satu pun hasil yang merujuk pada akun media sosialnya. Padahal Baskara ingat benar, dulu, setiap malam Kayla akan log-in ke akun Facebook miliknya untuk bermain Pet Society. Jika sudah mulai jenuh, Kayla akan beralih ke Twitter. Sangat banyak orang yang menyukainya disana. Bagaimana bisa seseorang yang dulu sangat aktif di media sosial, kini tidak memiliki satupun akun?
***
“Bas...” suara itu memecah lamunan Baskara. Kayla berdiri di hadapannya, tersenyum dengan sangat manis. Baskara menggeser posisi duduknya, seolah mempersilakan gadis itu duduk di sampingnya.
“Capek gak sih, Bas, lari terus? Makin jauh kita lari, makin berat beban yang kita bawa.”
“Bukan beban, cuma pertanyaan-pertanyaan yang gak kita tau jawabannya Akhirnya kita penasaran. Kalo dulu A, mungkin sekarang udah A’ kali, ya? Kenapa coba dulu gak A... kenapa malah B?”
“Penasaran sama masa lalu itu nama penyesalan. Apalagi kalo diawalin kata “kalau”, “jika”, “seandainya”, “andai”. Kalau rasa penasaran itu munculnya sering, apa gak jadi beban toh?”
Baskara terdiam mendengar ucapan Kayla. Kayla benar. Tidak... Kayla selalu benar, Baskara selalu salah. Kenyataan ini melukai ego Baskara. Dia tidak pernah membiarkan Kayla banyak bicara. Kayla harus bungkam, Kayla harus diam. Hanya Baskara yang boleh bicara, Kayla hanya boleh mendengarkan.
Baskara tidak pernah tau apa yang Kayla rasakan. Dia sudah membuat Kayla diam, pun tidak pernah menanyakan. Dia hanya menerka-nerka rasa dengan logika berpikir yang dimilikinya. Begitupun saat dia memutuskan hubungan dengan Kayla. Baskara tidak bertanya apa Kayla menerima. Saat itu Kayla hanya diam. Diamnya Kayla, dia terka sebagai sebuah tanda menerima, sebagai sebuah bentuk lain kata “ya”.
Barulah saat teman mereka satu per satu mulai memarahinya, mencacinya, membencinya – atas apa yang dia lakukan kepada Kayla – dia menyadari bahwa dirinya sangat jahat. Orang sejahat dia tidak pantas untuk orang sebaik Kayla.
Baskara sudah begitu lama menanti hari ini : hari dimana Baskara bisa menebus kejahatannya. Hari ini, Baskara tidak akan membiarkan Kayla diam. Hari ini, Kayla yang boleh bicara, Baskara hanya boleh mendengarkan. Hari ini pula... Baskara akan menanyakan apa yang Kayla rasakan. Pikiran dan hatinya sudah ribuan kali mati suri karena terlalu lama menerka-nerka.
“Orang bijak ternyata bisa salah. Kamu tau salah satu kesalahannya?” tanya Kayla. Baskara menggelengkan kepala, membiarkan hanya Kayla yang bicara.
“Mereka bilang, waktu bisa mengobati segalanya. Se-ga-la-nya loh, Bas. Ternyata... toh luka kalo disimpen lama-lama, ya bakal makin parah. Pertanyaan... kalo disimpen lama-lama ya, bakal makin besar. Jadi, waktu gak bisa mengobati apa-apa, manusia yang harus susah payah mengobati apapun. Ya dirinya sendiri, ya keadaan. Ya gak?” tanya Kayla lagi. Baskara kali ini menganggukkan kepala. Kayla sedikit bingung karena Baskara tidak secerewet biasanya, tapi dia juga senang karena akhirnya memiliki waktu untuk mengeluarkan bebannya satu per satu.
“Waktu kamu mutusin aku, asli... aku benci banget sama kamu. Kok bisa ya orang yang aku sayang, orang yang katanya sayang sama aku, segitu jahatnya? Parah banget mutusin sepihak tanpa ba-bi-bu, gak nanyain aku gimana, gak peduli blas sama aku. Aku sedih banget... ngurung diri di kamar, gak mau makan, 2 hari bolos sekolah. Tapi... sebenci-bencinya aku, kadang aku ngarep kamu dateng, minta maaf, atau bahkan ngajak balikan. Kehilangan kamu beda, Bas, sama kehilangan Mama. Aku gak pernah tau rasanya punya Mama, gak pernah denger suara Mama, gak pernah ngeliat Mama langsung, tapi gimana pun... aku cinta sama Mama. Sementara kamu... aku udah ngelewatin banyak hari sama kamu, ngelewatin banyak momen... pas kamu pergi, rasanya hidup aku bener-bener berubah.”
Tiap kalimat yang keluar dari bibir Kayla, membuat dada Baskara sesak. Perasaan Kayla saat Baskara meninggalkannya mungkin serupa dengan perasaan Baskara saat Ayah meninggalkan dia, Ibu, dan adik-adiknya. Rasa benci yang sama, rasa sedih yang sama. Mungkin selama ini Baskara terlalu berlebihan membenci sang Ayah sampai perilakunya menjadi persis dengan orang yang paling dia benci. Pada akhirnya, kebencian yang berlebihan itu justru membuat dia membenci dirinya sendiri.
“Orang bijak bilang, perpisahan yang paling menyedihkan itu perpisahan karena kematian : kita gak dikasih waktu pamitan, ngucapin selamat tinggal. Lagi-lagi salah. Perpisahan yang paling menyedihkan itu perpisahan karena seseorang milih pergi disaat dia punya banyak alasan untuk tinggal. Seseorang yang milih pergi biasanya gak begitu tersakiti. Dia seolah-olah yang megang kendali. Sesakit-sakitnya dia, dari jauh-jauh hari, dia bisa nyiapin diri. Yang ditinggal pergi? Biasanya sih gak punya banyak pilihan. Cuma bisa meratapi, menangisi, sampe suatu hari dia capek sendiri...”
“... dan akhirnya pelan-pelan mengikhlaskan yang milih pergi. Yang ditinggal pergi gak boleh membenci yang milih pergi. Di dunia ini, gak ada seorang pun yang bener-bener dia miliki. Semua orang bakal datang dan pergi dengan alasan sendiri-sendiri. Kadang alasannya gak harus kita mengerti. Yang jelas, datang atau perginya pasti membawa kebaikan buat diri.” sambung Baskara.
Baskara ingat benar kata-kata ini. Sang pemilik kata sudah menyampaikan puluhan kali kepadanya. Bahkan, dia tahu pasti di kata apa harus berhenti sejenak. Kata-kata yang selama ini hanya dia maknai sebagai nasihat dari orangtua kepada anaknya. Kata-kata yang ternyata akan terasa begitu dalam maknanya ketika disampaikan oleh orang yang sudah dia tinggal pergi.

















