Setiba di Bali, aku amazed banget dengan Allah dan segala ciptaan-Nya.
Ternyata orang baik itu masih banyak.
Selama ini, aku terkungkung mindset dan lumuran darah trauma yang membuatku tidak bisa berpikir jernih, bawaannya sedih, bahkan hampir berantakan karena luka-luka lebam terasa begitu menyiksa.
Hampir 1 tahun aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa sembuh. Allah ada bersamaku, Allah pasti bantu, Allah pasti menyembuhkanku.
Hingga aku sampai pada titik ingin menyerah, aku memutuskan meminta bantuan profesional. Aku memberanikan diri ke Psikolog.
Saat itu, aku didiagnosa mengalami depresi ringan. Meskipun masih di taraf ringan, tapi yang namanya depresi yaa tetap saja membuat banyak hal yang dilakukan terasa tidak nyaman.
Emang lukanya sedalam itu ya? Hehe ;)
Dulu aku mengira hidupku menjadi redup, bertemu orang-orang yang tidak memperlakukanku dengan baik, orang-orang yang kehadirannya sesaat, tapi meninggalkan banyak trauma yang begitu pekat.
Bali adalah obat penyembuh.
Bali adalah perantara Tuhan membuatku kembali excited dengan hidup. Aku kembali berani menyakini bahwa setiap orang berhak untuk bahagia, berhak untuk menjadi peran utama yang memiliki ending bahagia.
Aku bersyukur Allah mengirimkan banyak orang-orang baik di sekelilingku yang terus menjadi reminderku bahwa Allah selalu mendengar doa-doa hamba-Nya. Bahkan disaat kita tak mampu lagi melantunkan apapun kecuali isak tangis.
Air mata juga merupakan do'a, kan?
Semoga hatinya cepat sembuh yaa. Semoga dengan mentadabburi Bali, pulau yang disukai hampir semua warga lokal dan mancanegara, memberimu energi untuk bangkit kembali :)