Ini masih terkait dengan my not so .... job training. I liked call it life training.
20 Oktober .. Maam Eva selaku dosen dari Prodi MBW datang ke lokus PKN. Rasanya bagaikan oase di tengah tandusnya gurun.
Selama berada di sini memang aku sering ‘menolak’ kenyataan kenapa aku bisa disini dan bekerja seperti ini yang sama sekali ‘out of my expectation’ & ‘comfort zone’. Aku menolaknya dengan tidak bersemangat datang ke kantor, sering lemes, jadi ga ceria, ga senyum, murung dan sedih. Perlakuan penolakan batin ini memuncak di bulan Oktober yang (nyaris) setiap hari aku lakukan (and sure betapa jeleknya kondisi aku seperti itu. jelek karna ga ceria!)
Maam Eva bilang bahwa aku ditempatkan disini bukan sebuah kebetulan. Allah menempatkan disini pasti ada maksudnya dan itu pasti sudah yang terbaik.
Terbaik menurutku, belum tentu terbaik menurut Allah.
Jujur saja, kata-kata ‘ikhlas’ bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani saat kita berada di suatu kondisi yang nggak kita suka, tapi bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Aku sudah membuktikannya! :)
Akhirnya setelah dapet pencerahan dari dosen, aku sempat berdiskusi dengan diri sendiri mengenai salah satu cita-citaku bahwa suatu saat sebelum menjadi Menteri, aku ingin membangun pariwisata di daerah-daerah yang mempunyai potensi yang dikelola oleh masyarakat juga dan dengan adanya pembangunan pariwisata di daerah tersebut, masyarakat tidak perlu terlalu bergantung kepada dana pemerintah apabila mereka ingin membangun listrik atau mengaspal jalan contohnya. Dengan adanya pariwisata yang aku bikin sistem dan perusahaan dengan baik, bisa menyejahterakan masyarakat lebih baik lagi. Ketika bercita-cita seperti itu, aku belum tahu apa saja hambatan yang nantinya bisa terjadi. Misalnya, susahnya mengedukasi dan membuat masyarakat lokal menjadi sadar pariwisata, menumbuhkan semangat kerja, how to treat guest / tourist by service excellence etc.
Akhirnya, Allah dengan baik hati mengajarkanku untuk melihat dan terlibat langsung terkait cita-citaku melalui penempatan job training. Aku ditempatkan di daerah yang jauh dari fasilitas standar kota-kota besar, masyarakat yang sangat perlu edukasi tentang pariwisata, adanya beberapa perusahaan yang berada dalam jenis usaha pariwisata, dampak pembangunan kawasan wisata terhadap kesejahteraan masyarakat lokal, dan masih banyak lagi. Membuatku berpikir bahwa Allah menempatkan aku disini adalah untuk memberikan gambaran yang jauh lebih besar agar aku tahu baik-buruk dari cita-citaku yg satu itu. Apakah aku siap menerima resikonya atau tidak, mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi, mencari strategi baru agar ‘kesalahan’ yang di tempat ini, nantinya tidak akan diulangi apabila nanti aku membuat perusahaan di daerah lain, bagaimana caranya merangkul masyarakat yang belum bisa baca dan menulis tapi tetap bisa berkontribusi, dan lain-lain.
Butuh waktu, pemahaman, sabar dan ikhlas agar aku tahu maksud dari semua ini.
Menurunkan ego bahwa seorang anak yang berprestasi kok ditempatkan jauh dari ekspektasinya itu juga tidak mudah. Apalagi anak yang cukup keras kepala dan mempunyai ego yg tinggi seperti saya.
Allah sudah mempersiapkan semuanya untukku. Tinggal bagaimana aku siap atau tidak menjalaninya.
“Banyak orang yang siap akan sesuatu yang indah. Padahal dia harus mengetahui dan mampu menerima resiko terburuk dahulu dengan pilihannya. Apabila sudah siap, kurasa dia layak menerima yang indah. Karna banyak sekali diluar sana yang hanya mau dan sanggup untuk menerima sesuatu yang indahnya saja. Lalu, apakah yang seperti itu dianggap layak oleh-Nya menerima yg indah dan besar? Aku rasa tidak”
Selalu berusaha menjadi ‘LAYAK’ untuk mendapatkan segala sesuatu yang besar dan indah serta siap dengan segala resikonya.